Doa dan Sembahyang

Wei De Dong Tian. Matakin sebagai kelembagaan agama Konghucu yang telah lama berdiri, berupaya melakukan pembinaan dan pelayanan bagi umatnya di Indonesia, tak terkecuali dalam persembahyangan dan doa. Salah satu yang dilakukan adalah upaya penyesuaian dan penyeragaman tata cara persembahyangan. Pandauan doa bagi rohaniwan dan umat telah dirumuskan dan dicetak serta disebarkan ke seantero Nusantara.

Umat Konghucu di Indonesia mempunyai standar tertentu dalam kata dan kalimat doa yang bersumber dari Sishu Wujing. Salah satu kalimat standar ialah “Dijauhkanlah hati kami dari keluh gerutu ke hadapan Tian, sesal penyalahan terhadap sesama manusia”. Salah satu kalimat ini adalah kalimat harapan dan prasetya dalam kalimat “negatif” yang bertujuan baik. Dalam hampir setiap doa yang dipanjatkan, kalimat ini menjadi kalimat “sakti”.

Pertanyaannya, apakah harapan dan prasetya kita benar-benar mewujud dalam hati dan pikiran kita sehingga kita tidak benar-benar berkeluh gerutu pada Tian, tidak sesal penyalahan pada sesama? Kalau tidak, artinya kita telah mengingkari harapan dan prasetya kita pada Tian dan Shen yang semestinya diwujudkan dengan tekad yang kuat dalam setiap kata dan perbuatan kita. Saat kita akan berkeluh gerutu pada Tian, sesal penyalahan pada sesama manusia, kita harus selalu ingat pada doa yang kita ucapkan.

Xie Tian Zhi En, saya terus berupaya agar apa yang diucapkan dalam doa tidaklah hanya menjadi untaian kata indah yang enak didengar, tetapi menjadi pedoman dan wajib diwujudkan dalam saya berprilaku sehingga doa, perkataan dan perbuatan selaras dan harmonis. Saya akan terus berupaya dengan segenap hati karena “Yakin Tian senantiasa menilik, membimbing dan menyertai” selalu diucapkan di penghujung doa. Saya tak berani tidak berupaya karena Tian terus menilik. Memang tidak mudah, apalagi lingkungan tempat saya dan anda tinggali sekarang lebih banyak negatif dibanding positif.

Sempurnanya persembahyangan akan menjalin sepuluh hubungan. Hubungan veritkal yang diejawantahkan dalam hubungan horizontal. Persembahyangan dan doa mengandung nilai religius, filosofis dan etis.

Sembahyang dan doa menduduki tempat yang paling inti dari suatu agama. Dalam ilmu Antropologi, suatu ajaran dikatakan sebagai agama bila mengandung dua hal, yaitu Ajaran dan Ritual. Kitab Liji (Catatan Kesusilaan) dengan tegas menekankan sembahyang adalah pokok agama.

Dalam agama Konghucu, sembahyang dan doa adalah dua kegiatan yang berbeda. Sembahyang biasanya dilakukan mendahului doa. Dalam sembahyang disiapkan perlengkapan dan sajian. Setelah persembahyangan dilakukan dengan segala tata caranya berdasarkan tata susila dan kesungguhan hati yang meraga dalam gerak berirama, doa dipanjatkan untuk menyatakan harapan, keluhan, dan prasetya. Teks doa dituliskan dalam Biao Wen (surat doa), setelah dibacakan, Biao Wen disempurnakan dengan cara dibakar.

Tak heran persembahyangan dan doa didahului dengan membersihkan diri dan membersihkan hati. Kalau mempunyai tekad ingin mencapai sesuatu, persembahyangan didahului dengan Zhai atau berpantang. Zhai dilakukan dengan kesungguhan hati, tidak sembarangan. Bahkan untuk menjaga agar tekad menjadi penuh, dalam melakukan Zhai tidak mendengarkan musik yang dapat menggoyahkan tekad karena perasaan terpengaruh, dan nafsu terusik. Tak heran juga persembahyangan dilaksanakan dengan berpakaian lengkap, rapi dan bersih. Dengan demikian yang ada dalam batin seirama dengan apa yang tampak. Suci dan bersih dalam batin, suci dan bersih di luar.

Begitulah, persembahyangan dan doa akan bermakna dan lebih diterima oleh Tian dan Shen saat pancaran kebijakan keluar dari batin tempat Tian Ming bersemanyam. Maka persembahyangan dan doa dilakukan dengan dipenuhi cheng (iman, tulus), xin (percaya), zhong (satya), dan jing (hormat, sujud), bukan dilakukan dengan sembarangan.

Dalam satu hari, berapa kali Anda bersembahyang dan berdoa? Untuk apa Anda bersembahyang dan berdoa? Apa isi doa Anda? Kalimat seperti apa yang Anda pergunakan dalam doa-doa Anda? Apakah Anda yakin dengan doa-doa Anda?

Dalam Kitab Liji (Catatan Kesusilaan) disabdakan bahwa sembahyang dilakukan untuk dapat melakukan doa. Dalam bagian lain dikatakan bahwa doa untuk mengucapkan syukur dan menyampaikan keluhan, harapan, serta permohonan berkah.

Dalam agama Konghucu, sembahyang itu berfungsi seperti ‘e-money’ yang memungkinkan kita masuk ke jalan bebas hambatan. Sembahyang mempersiapkan lahir dan batin kita untuk berdoa. Tafsir saya berdasarkan ayat kitab suci, doa itu merupakan rangkaian dari sembahyang yang kita lakukan saat mengawali hari. Jadi sembahyang di awal hari sangat penting untuk dilakukan sebagai ‘e-money’ yang memungkinkan kita masuk ‘ke jalan bebas hambatan’.

Setelah itu di akhir aktivitas, kita bersembahyang kembali yang diikuti dengan doa-doa. Bersembahyang dan berdoa di akhir hari sebelum tidur memungkinkan kita membiarkan pikiran bawah sadar mengakses pikiran supra sadar berupa xing (kebajikan bercahaya) dalam diri kita, memberi pencerahan dan jawaban atas persoalan yang belum dapat diselesaikan sepanjang hari dan di hari-hari yang telah kita lalui.

Maka, saat berdoa sebelum tidur, lepaskan semua beban yang mengganjal, pasrah kepada Tian, lalu pancarkan harapan dan permohonan berkah. Biarkan pikiran bawah sadar kita bekerja dan mengakses pikiran supra sadar untuk memberi jawaban atas tanya yang belum terjawab dan membimbing kita untuk mewujudkan harapan. Dengan demikian esok hari kita siap menapak hari dengan penuh harapan dan kemantapan. Pikiran supra sadar akan mengarahkan pada harapan dan keberkahan, tinggal seberapa kuat keyakinan dan iman yang kita miliki.

Menyampaikan keluhan saat berdoa setelah sembahyang tidak dilarang, perlu dilakukan agar hati kita plong karena telah menyampaikan uneg-uneg kita kepada yang paling bisa kita percaya. Namun doa pada hakikatnya bukanlah untuk mengeluh, berdoa adalah tentang rasa syukur kita. Tentang apa yang kita harapkan dalam kehidupan yang akan kita jalani ke depan. Tentang pencapaian-pencapaian apa yang kita harapkan dan akan kita perjuangkan. Tentang tekad kita menjadi lebih baik. Tentang pilihan hidup dan janji kita untuk bekerja, belajar, dan berlatih mengembangkan potensi diri.

Berdoa adalah membuat gambaran mental dan memperkuat keyakinan untuk mengerahkan kekuatan kreatif yang ada di sekitar Anda pada gambaran itu. Kalau doa dipenuhi keluh gerutu dan gambaran negatif tentang kehidupan, tak heran bila kehidupan Anda bukan menuju ke atas atau menjadi lebih baik bahkan mundur.

Jawaban terhadap doa bukan disebabkan semacam dispensasi istimewa dari Yang Maha Kuasa. Tian bukanlah sosok terbatas yang harus dibujuk atau dirayu agar melakukan sesuatu sesuai keinginan Anda. Apabila Anda berdoa bersungguh-sungguh, Anda membentuk semacam gambaran mental dari sesuatu yang Anda inginkan dan memegang kuat gambaran itu di dalam pikiran dan iman Anda. Setelah itu bila Anda mempunyai keyakinan yang dibutuhkan untuk percaya bahwa Anda sudah menerima apa yang Anda minta, xing Anda—yang adalah pancaran kebajikan Tian—akan menarik dan menggerakkan kekuatan kreatif kepada Anda guna memenuhi gambaran yang tersimpan di dalam pikiran dan iman Anda dan mewujudkannya.

Qi positif dalam diri Anda akan bertaut dengan Qi semesta, menciptakan kekuatan yang luar biasa mengarahkan Anda pada pencapaian harapan Anda. Seberapa yakin Anda tentang hal ini? Atau Anda punya pandangan berbeda?

Apapun pandangan Anda. Saya sarankan berhati-hatilah memilih kata-kata dalam doa. Kalimat dalam doa pribadi tidak mesti terstandar, tapi selayaknya memancar dari kesadaran dan kedalaman batin sehingga sujud-khusuk terhubung dengan Tian, Sang Sumber Segala Sesuatu. 

Berdoa menggunakan kata-kata positif akan memancarkan Qi positif, menggunakan kata-kata negatif akan memancarkan Qi negatif dan apa yang Anda pancarkan, itulah yang akan Anda terima. Saya percaya bersembahyang dan berdoa dengan tepat sangat penting bagi tercapai hidup penuh keberkahan.

 

Chingdrawati (Rohaniwan Konghucu)