Doamu Telah Dikabulkan

Semua orang Kristen pasti pernah berdoa dan merupakan hal yang sangat membahagiakan apabila doanya dikabulkan oleh Tuhan. Melalui ayat Firman Tuhan dalam Lukas 1:13-25, kita menemukan seorang tokoh bernama Zakharia yang berdoa dan doanya dikabulkan oleh Tuhan.

Menarik untuk kita pelajari. Sebab, walupun Zakharia adalah seorang Imam yang hidup benar dan setia melayani Tuhan, tetapi bersama istrinya, mereka tidak mempunyai anak hingga usia lanjut. Tentu saja ini merupakan masalah besar bagi keduanya karena menurut pandangan masyarakat pada waktu itu bahwa tidak memiliki anak merupakan sebuah aib (ayat 25). 

Kelihatannya sejak menikah hingga usia lanjut, pergumulan dalam hal mendapatkan anak selalu didoakannya kepada Tuhan. Memperhatikan hal ini, kita dapat belajar bahwa merupakan hal yang salah apabila kita berpikir bahwa dengan hidup benar dan setia melayani Tuhan, maka hidup ini tanpa masalah. Walaupun tidak mendapatkan anak hingga usia lanjut, tetapi keduanya tetap saling setia, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Sara yang menyarankan kepada Abraham untuk mendapatkan anak melalui Hagar.

Mengapa doanya Zakharia dikabulkan oleh Tuhan? Pertama, Tuhan mengasihi Zakharia dan Elisabet dan hendak membuat mereka bersukacita (ayat 14, 24, 25). Kedua, Zakharia dan istrinya hidup benar di hadapan Tuhan (ayat 6). Ketiga, Zakharia setia melayani Tuhan walau doanya belum dikabulkan hingga usia lanjut (ayat 9, 23). Dan, keempat, doa Zakharia sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan, yaitu Tuhan hendak memakai anaknya yang diberi nama Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan umat yang layak bagi-Nya (ay. 16-17)

Setelah mendengar Firman Tuhan melalui malaikat dalam ayat 13-17 bahwa doanya dikabulkan dan istrinya akan melahirkan seorang anak laki-laki baginya,  ebagai respon dari Zakharia, dia tidak mau mempercayai perkataan Malaikat dengan mengatakan bahwa, “Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut umurnya.” (ayat 18). 

Ungkapan ini menjelaskan kepada kita bahwa walau Zakharia adalah seorang Imam yang selama ini hidup benar dan setia melayani Tuhan, tetapi dia gagal mempercayai kuasa Tuhan yang ajaib. Kelihatannya ia terlampau memikirkan kenyataan tentang usianya, kondisi tubuhnya sendiri dan juga keadaan istrinya yang juga sudah lanjut usia, ia tidak berlaku seperti yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang mengenal Tuhan. Sebagai akibat dari ketidakpercayaannya Zakharia dihukum oleh Tuhan, dia menjadi bisu pada saat itu juga (ayat 20-22). 

Dengan peristiwa ini, kelihatannya Tuhan hendak mengajari dia supaya mempercayai Firman Tuhan, mencegah dia agar tidak mengucapkan lagi kata-kata yang penuh dengan ketidakpercayaan. Dengan dibuat bisu, ia dijauhkan dari adanya perbuatan untuk membuka rahasia mengenai penglihatannya itu dan menyombongkan diri karenanya, yang mungkin cenderung akan dilakukannya. 

Ayat 24-25 menyatakan bahwa Tuhan menggenapi FirmanNya. Tuhan telah membuat Zakharia menjadi bisu karena ketidakpercayaannya, tetapi Tuhan tidak membatalkan janji tentang kelahiran Yohanes Pembaptis. Hal ini mengajarkan kepada kita supaya selalu mempercayai Firman Tuhan dengan segenap hati. Kita harus percaya bahwa semua yang dijanjikan Tuhan dalam kitab suci pasti akan digenapi olehNya.

Setelah Firman Tuhan digenapi melalui kelahiran anaknya (ayat 57), anak itu diberi nama Yohanes sebagaimana dipesankan oleh Malaikat, pada saat itu Zakharia sembuh, dan ia pun langsung memuji Tuhan (ayat 63-64). Ini mengajarkan kita supaya setelah menerima jawaban doa dari Tuhan, jangan lupa memuji Tuhan sebagai syukur kita kepadaNya. Amin  

Pdt. Yan Piter Kamlasi, S.Th (Gereja Eleos Indonesia)