DWP Kemenag Lingga Ajak Kalangan Pesantren Lestarikan Tudung Manto

Lingga (Kemenag) --- Jauh sebelum mengenal istilah hijab, perempuan melayu di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau mengenal tudung manto sebagai kain penutup kepala. Dulunya, tudung manto hanya dipakai kaum bangsawan. Namun, saat ini boleh dipakai semua kalangan. 

Tudung manto berupa kain tipis penutup kepala yang terbuat dari berbagai jenis kain seperti kain kase, kain sifon, kain sari, dan kain sutera dengan warna tertentu seperti kuning, hijau, merah, hitam dan putih. Ciri khas utama tudung manto adalah hiasan tekat berbagai motif yang dibuat menggunakan kawat lentur seperti benang berwarna perak ataupun emas yang disebut genggeng atau kelingkan. 

Kelingkan adalah hiasan wajib dalam pembuatan tudung manto, dan tidak boleh diganti dengan bahan hiasan lainnya. Keberadaan tudung manto sebagai penutup kepala diperkirakan sebagai hasil enkulturasi dengan budaya Arab dan India. Pengerjaan pembuatan tudung manto saat ini masih dilakukan secara manual. 

Fakta ini mendorong Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Lingga untuk turut serta melestarikan kerajinan yang telah memegang hak paten dan sertifikat HAKI dari Kementerian Hukum dan HAM RI. 

"Kita memanfaatkan momen pertemuan bulanan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemenag Lingga di Rumah Tekat Tudung Manto. Tujuannya kita sama-sama ingin melestarikan kearifan lokal orang Melayu. Bagaimana proses penenunan dari awal hingga selesai,” ujar Ketua DWP Kemenag Lingga Siti Maisarah Nasir saat berkunjung ke Rumah Halimah Tudung Manto Daik Lingga, Jumat (10/9/2022). 

Menurut Siti Maisarah, selain memiliki nilai seni, sejarah dan budaya, tudung manto memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Karenanya, perempuan yang akrab disapa Sarah ini, mengajak jajaran DWP Kemenag dan kalangan pesantren untuk melestarikan  tudung manto. 

"Selain anggota DWP Kemenag yang kita ajak belajar menekat tudung manto. Nanti kita arahkan juga para santri untuk belajar. Hasil keterampilan santri bisa menjadi penopang ekonomi pesantren. Tentu upaya ini sejalan dengan tujuh program priotitas Kementerian Agama, yaitu mewujudkan kemandirian pesantren," ujar Sarah. 

Ia juga mengimbau agar anggota DWP Kemenag Lingga minimal memiliki selembar tudung manto serta turut mempromosikan ke masyarakat luas. “Tudung manto bisa kita jadikan cindera mata atau oleh-oleh untuk tamu. Proses pembuatannya yang panjang dan masih manual membuat harganya relatif tinggi. Tentu ini akan menjadi peluang ekonomi kalau kita ajak kalangan pesantren untuk ikut memproduksinya,"imbuhnya. (Zaid)