Eny Retno Yaqut: Anggota DWP Kemenag Harus Paham Moderasi Beragama

Jakarta (Kemenag) --- Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Eny Retno Yaqut mengatakan bahwa sebagai mitra kerja, pengurus dan anggota DWP harus paham tentang penguatan moderasi beragama. 

Hal ini disampaikan istri Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas ini, pada Seminar Penguatan Moderasi Beragama Dalam Perspektif Perempuan yang digelar DWP Kemenag, di Jakarta. Dikatakan Eny, pemahaman akan penguatan moderasi beragama ini penting untuk disosialisasikan oleh anggota DWP untuk  dapat bersinergi dalam  program tersebut. 

"Banyak diantara kita yang tidak paham, belum paham, gagal paham atau bahkan tidak mau paham akan betapa pentingnya moderasi beragama," ujar Eny dalam seminar yang mengangkat tema “Signifikansi Perempuan Sebagai Penggerak Moderasi Beragama”, Selasa (28/12/2021). 

"Karena ketidakpaham ini, menerima informasi yang salah jadi menafsirkan hal yang salah juga," lanjutnya.

Lebih lanjut Eny mengatakan bahwa perempuan dan wanita perlu bijak dalam menggunakan media sosial, apalagi terkait moderasi beragama. Menurutnya, penerimaan informasi yang salah dapat berujung fitnah, hoax dan ujaran kebencian sering kali menjadi pemicu perpecahan. 

“Ini seharusnya tidak perlu terjadi. Hari ini saya berharap ibu-ibu bisa memahami dan memposisikan diri sebagai duta moderasi agar niat baik dari negara ini dapat di terima dengan baik di masyarakat," imbuhnya. 

Sementara Sekretaris Pokja Moderasi Beragama Imam Syafi'i yang hadir membuka acara mengatakan bahwa pemerintah hadir dalam hampir di semua permasalahan umat. Maksudnya bukan untuk mencampuri cara umat beragama tapi memberikan ruang diskusi dan konsultasi jika permasalahan umat ditemui di lapangan.

"Setiap manusia itu berbeda, jika selalu mencari persamaan mungkin akan menemukan banyak kendala," tutur Imam.

"Kita hidup sudah berbeda bangsa dan negara tetapi ketika satu bangsa dan negara kita beda suku dan bahasa, kadang-kadang kita  satu suku dan bahasa tapi kita beda agama, ketika satu agama tetapi juga beda paham-pahamnya, ketika pahamnya sama tapi beda cara memahaminya, setelah memahaminya sama ternyata kita beda cara mengamalkannya, mungkin mengamalkannya sama tapi ternyata beda cara menghayatinya, akhirnya menghayatinya sama tapi beda keikhlasannya," terang Imam.

Ditambahkan Imam, moderasi beragama hadir bukan untuk menyamakan semua perbedaan ini tapi membuat perbedaan semakin bisa di terima, di jalani bersama-sama dengan rukun sebagai kelebihan dan ciri-ciri bangsa.

Tampak hadir pada acara penguatan moderasi beragama Kepala Biro Umum Kemenag RI Faisal Musa'ad, Ketua DWP Faikhah Nizar Ali, pembicara sekaligus Direktur Nasional Gusdurian Network Indonesia (GNI) Alissa Wahid dan pengurus serta anggota DWP Kemenag RI.