Esensi Kebangkitan Kristus

Shalom, salam sejahtera di dalam kasih Tuhan kita, Yesus Kristus. Saat ini, Mimbar Kristen akan melihat kebenaran firman Tuhan yang tentu pastinya harus mengubah kehidupan kita. Kajian kali ini masih berkenaan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang beberapa waktu lalu kita sudah peringati. Mimbar kali ini membahas tentang esensi kebangkitan Kristus. 

Umat Kristen yang dikasihi dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Kita masih hangat dalam suasana kebangkitan Tuhan. Memang kita memperingati kebangkitan Tuhan kita, Yesus, 2000 tahun lalu, tetapi suasana ini tentu memiliki dampak bagi setiap kehidupan kita, khususnya bagi orang percaya. Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus menampakkan diri Nya berulang kali selama 40 hari untuk membuktikan bahwa Ia bangkit.

Memang kita hidup 2000 tahun setelah itu. Maka makna dan esensi kebangkitan Tuhan Yesus dalam kehidupan kita yang sekarang, harus memiliki dampak yang konkrit bagi kita dan bagi sesama dalam pengabdian kita kepada Tuhan Yesus Kristus. 

Yohanes 11:25 menjelaskan: Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.

Tuhan Yesus memperkenalkan diriNya sebagai kebangkitan dan hidup. Pernyataan ini adalah sebahagian dari cerita mengenai Kematian Lazarus, saudara Maria dan Marta. Saat itu, Lazarus sudah mati selama empat hari. Tetapi Tuhan Yesus sanggup membangkitkannya. Tentu secara manusia hal ini tidak mungkin terjadi. Tetapi apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Tuhan. 

Yang menjadi persoalan mengenai kebangkitan Tuhan Yesus, apa yang bisa membawa implikasi dalam kehidupan kita sebagai seorang percaya. Kita harus memahami esensi kebangkitan itu sendiri atau makna yang terpenting yang bisa kita kenakan di dalam kehidupan kita, yaitu pengabdian kita kepada Tuhan. 

Ada beberapa hal mengenai esensi kebangkitan Kristus yang kali ini kita pelajari. Hal itu diharapkan bisa mengubah kehidupan kita, bukan hanya mampu menjadi pendengar tetapi kita harus mampu menjadi pelaku kebenaran Firman Tuhan. 

Bapak/ibu yang kekasihi Yesus Kristus. Apalah artinya kalau kita memperingati dari tahun ke tahun mengenai kematian, kebangkitan Tuhan, tetapi itu tidak bisa mengubah kehidupan kita. Setiap tahun, mestinya kita tidak lagi atau bukan lagi hanya memperingati kebangkitan Tuhan. Lebih dari itu, kita harus mengalami kebangkitan kuasa kebangkitan itu dari dalam diri kita dan berdampak bagi orang orang yang di sekitar kita. Dari tahun ke tahun, kita harus mengalami itu. Untuk apa menjadi orang percaya tetapi hanya mempercayai sejarah, mengulang sejarah dalam keadaan situasi apapun yang sedang kita alami tapi tanpa mengubah kehidupan kita.

Banyak orang secara emosional menangis, mengingat kematian Tuhan, tetapi sungguh-sungguh tidak bisa menghargai/menghormati pengorbanan Tuhan dalam kehidupan yang sedang berjuang untuk hidup kudus berkenan di hadapan Tuhan. 

Begitu pun juga dengan berita kebangkitan Nya. Orang hanya berseru Tuhan Yesus bangkit, Tuhan Yesus bangkit. Tetapi faktanya di dalam dirinya tidak mengalami kebangkitan yang sejati yang benar. Karena, mereka tidak mengalami esensi kebangkitan dari Tuhan Yesus itu sendiri. Sehingga, peringatan itu tidak berdampak apapun dalam dirinya. Dari tahun ke tahun, hidup mereka masih dalam pergumulan dosa, bergelut di dalam dosa, kekurangan, kelemahan, tanpa mengalami perubahan, tanpa mengalami apa yang berkenan di hadapan Tuhan. 

Oleh karena itu bapak/ibu yang kekasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, mari kita melihat esensi kebangkitan Tuhan. Pertama, kebangkitan berbicara mengenai ketaatan Yesus kepada Bapa Nya. 

Kedua, Tuhan Yesus bangkit bukan hanya karena kuasa Allah yang sanggup membangkitkan Nya. Allah yang maha dahsyat. Allah yang maha segalanya. Bapa maha segalanya. Segala sesuatu bersumber dari pada Nya. Tentu tidak perlu diragukan kuasa Tuhan yang begitu dahsyat yang begitu sanggup membangkitkan Tuhan Yesus.

Tetapi, harus kita pahami dengan benar, kebangkitan Tuhan Yesus juga berbicara mengenai ketaatan kepada kehendak Bapa di Sorga. Yang terpenting bukan hanya Tuhan sanggup atau Allah sanggup membangkitkan Dia dari orang mati. Tetapi dengan ketaatan Nya kepada seluruh kehendak Bapa Nya, maka Tuhan Yesus Bangkit.

Dalam Ibrani 5:7 dikatakan : Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.

Karena kesalehanNya, karena ketaatanNya, Tuhan didengarkan doa/pergumulan di taman Getsemani yang dilalui sepanjang malam. Tiga kali Ia berseru, bukan kehendak Ku yang jadi Bapa, tetapi kehendak Mu yang jadi. Tentu pemaknaan tiga kali Tuhan Yesus berulang-ulang kali mengucapkan kata itu, itu merupakan suatu peneguhan/kesiapan untuk masuk di dalam penderitaan dan puncak penderitaan mati di kayu salib. 

Di sini kita melihat betapa taat Nya Tuhan Yesus kepada seluruh kehendak Bapa. Tentu ini mengajarkan setiap kita sebagai orang percaya, kita pun juga harus belajar taat kepada Tuhan, kepada Bapa di surga. Tentu di masa sekarang ini, kita pun juga belajar taat kepada pemerintah yang menjadi wakil Tuhan, apalagi dalam masa pandemi seperti sekarang ini. Setahun lebih kita di dalam masa pandemi. Bisakah kita taat kepada pemerintah untuk menjaga prokes/protokol kesehatan dengan ketat. 

Jangan karena kita menganggap Tuhan kita yang Maha Kuasa, Allah kita yang Maha Kuasa melindungi tetapi kita sendiri tidak menjaga. Kita tidak bertanggung jawab. Keharusan menjaga jarak, memakai masker itu bahagian dari ketaatan. Terhadap pemerintah yang terlihat saja kita tidak bisa taat, bagaimana Dia yang tidak terlihat. Kita mau mengatakan, aku mau taat kepadaMu Ya Bapa, kepada Tuhan, tapi kepada pemerintah saja kita tidak bisa taat. 

Oleh sebab itu, saya mengajak semua umat Kristen bahwa bukan hanya sekedar mempercayai Kuasa Tuhan yang melindungi/menutup bungkus, tapi jangan lupa ada tanggung jawab yang harus kita kerjakan dan itu menunjukkan ketaatan kita. Kita harus taat kepada pemerintah demi keselamatan kita bersama, demi keselamatan orang-orang yang kita kasihi. Kalau kita bisa taat kepada pemerintah, tentu kita bisa taat kepada Tuhan. 

Ada yang bilang, kita bisa taat kepada Tuhan, tidak perlu pemerintah. Loh, pemerintah yang terlihat itu wakil Tuhan yang harus dihargai/dihormati. 

Jadi, dalam hal ini, esensi kebangkitan, berbicara mengenai ketaatan. Kalau Tuhan tidak taat, Tuhan Yesus tidak taat kepada kehendak Bapa, mustahil Tuhan Yesus dibangkitkan. Tetapi faktanya Tuhan Yesus taat. Makanya, Ibrani tadi mengatakan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Jadi bukan hanya Kuasa Allah Bapa yang sanggup membangkitkan, itu tidak perlu diragukan sekali lagi, Allah sanggup membangkitkan, tetapi karena ketaatan Tuhan Yesus Ia didengar kan, Ia menang atas maut.

Ketiga, kebangkitan berbicara mengenai Takluknya Maut di dalam Tuhan Yesus. Dalam 1 Korintus 15:54-56 dijelaskan (saya singkat): Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenangan mu? Hai maut, dimanakah sengatmu?

Hal yang paling ditakuti dan dihindari oleh manusia adalah kematian. Manusia berusaha menghindari kematian. Manusia berusaha kalau bisa hidup selama nya di dalam dunia ini. Dalam sebuah berita di media online diinfokan bahwa ada satu negara yang sedang bereksperimen membangkitkan mayat. Di sana sudah ada laboratoriumnya, sudah ada 7 mayat di dalamnya yang dibekukan di bawah 0 derajat. Mayat itu sedang diteliti apakah suatu saat dapat dibangkitkan. Tidak sedikit orang sudah mulai bertanya-tanya dan berani berinvestasi. Kalau mati, mereka percaya bisa dibangkitkan. Ini bagian dari upaya manusia menghindari kematian. 

Padahal Tuhan katakan dalan firman-Nya: Hai maut, di manakah kemenangan mu? Hai maut, di manakah sengatmu? Seharusnya kematian itu bukan lah hal yang menakutkan. Kematian itu adalah perjumpaan kita dengan Tuhan kalau kita sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh hidup benar, kita menantikan momen itu, karena kita bertemu dengan Tuhan.

Kita bertemu dengan pencipta kita, kekasih jiwa kita, kekasih abadi kita. Dalam hal ini bukan berarti kita ingin cepat mati melainkan orang percaya harus hidup benar di dalam Tuhan, supaya waktu yang singkat ini menjadi efektif melayani Tuhan.

Sungguh luar biasa, bukan berarti kita mau cepat-cepat mati, tapi justru kita harus semakin efektif mempergunakan hidup kita bagi Tuhan dan Kerajaan Nya. Sehingga, kalau waktu kematian tiba, itu menjadi hal yang membahagiakan.

Firman Tuhan mengatakan: Berbahagialah orang yang mati di dalam Tuhan sejak sekarang ini, mereka beristirahat dari jerih lelah mereka. 

Mazmur katakan, berharga kematian orang yang dikasihi Nya. Rasul Paulus katakan, kalau aku hidup, hidupku memberi buah bagi banyak orang, kalau aku mati, aku milik Tuhan.

Jadi Tuhan yang luar biasa dalam kehidupan kita, Tuhan menang atas maut. Kematian tidak lagi menakutkan bagi orang percaya yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, yang sungguh-sungguh hidup berkenan di hadapan Tuhan.

Tapi ingat sekali lagi, bukan berbicara kita mau cepat mati, karena maut itu telah dimenangkan oleh Tuhan. Tetapi kita ingin semakin efektif menggunakan waktu hidup kita untuk menyenangkan hati Tuhan. Kematian itu hal yang realitas, apalagi di masa pandemi sekarang ini.

Keempat, kebangkitan berbicara mengenai pengharapan akan dunia yang akan datang. Dalam 1 Korintus 15:19 dijelaskan: Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.

Tuhan Yesus bangkit dengan tubuh fisik yang dipenuhi dengan kemuliaan. Bahkan Ia berjumpa dengan murid-murid Nya dalam ruangan yang tertutup. Tiba-tiba Tuhan hadir, Shalom Damai Sejahtera, dan murid-murid menganggap ada hantu. Tuhan katakan hantu tidak berdaging dan tidak bertulang, tetapi Aku ini berdaging dan bertulang. Ada roti panggang, ada ikan panggang. Maksudnya, ada ikan yang bisa dikonsumsi, ada madu. Tuhan membuktikan tubuh fisik itu butuh makan.

Dan waktu Tuhan naik ke surga yang akan nanti kita peringati kembali, Dia pun naik dengan tubuh fisik tubuh rohani yang dipenuhi dengan kemuliaan. Ini menandakan apa? Bahwa surga itu adalah alam fisik, bukan alam roh. Entah di belakang langit biru, atau di gugusan bintang mana, atau di galaksi apa, kita tidak tahu. Tapi yang kita pahami, surga itu alam fisik, karena Tuhan naik dengan Tubuh fisik.

Dalam wahyu 21 dikatakan: Ia akan menjanjikan langit yang baru, bumi yang baru, dan Yerusalem yang baru, turun dari surga berhias bagaikan pengantin perempuan dan setiap kita yang berkenan di hadapan Nya , masuk di dalam kota itu.

Jadi kebangkitan Tuhan Yesus berbicara mengenai pengharapan akan dunia yang akan datang. Jangan kita hanya menaruh harap kepada hidup yang ini saja, nanti kita menjadi orang yang paling malang sebagaimana firman Tuhan yang telah disebutkan tadi. Kita harus melihat ada kehidupan di balik sekarang ini, ada langit baru dan bumi yang baru di mana di dalam nya terdapat kebenaran.

Dunia yang sekarang ini tidak memiliki kebenaran. Sekalipun kita mencari keadilan, kita bisa saja diperlakukan tidak adil, padahal kita sudah benar.  Itulah dunia. Tapi Tuhan janjikan langit baru, bumi baru, di dalamnya terdapat kebenaran dan hanya orang orang yang hidup benar yang masuk, layak menempati Yerusalem yang baru. 

Bumi yang sekarang ini akan hancur. Dalam firman Tuhan dikatakan, firman harus digenapi, firman harus digenapi. Kita jangan berpikir bahwa inilah tempat rumah tinggal kita. Ini bukan tempat kediaman kita. Makanya Tuhan naik ke surga. Dia bilang: Aku menyediakan tempat bagimu supaya di mana Aku berada, kamu pun berada. Ini ungkapan kekasih, merupakan ungkapan mempelai kita. Sebagai mempelai Tuhan di akhir zaman, gereja Tuhan yang disempurnakan dan Dia nanti sebagai mempelai anak Domba yang datang menyongsong kehidupan kita, membawa kita ke tempat Dia berada. 

Jadi jangan membangun rasa bahagia berlebih di dalam dunia ini. Kita tidak akan menemukan kebahagiaan lebih di dalam dunia ini. Kita harus membangun kebahagiaan kita di dalam Tuhan. Di dalam nikah, keluarga kita, kita membangun kebahagiaan di dalam Tuhan. 

Bapak/Ibu yang kekasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Esensi kebangkitan dari Kristus berbicara mengenai ketaatan kepada seluruh kehendak Bapa dan kebangkitan juga berbicara mengenai menaklukan maut. Hal yang paling ditakuti oleh manusia pada umumnya adalah kematian. Tetapi karena Tuhan telah menang, kematian bukan lagi hal yang menakutkan. Kita tahu kalau kita mati, Tuhan yang menjemput kehidupan kita. Bukan berarti kita ingin cepat mati, tapi kita ingin semakin menggunakan waktu yang singkat ini untuk mengabdi bagi Tuhan dengan benar.

Terakhir, ada pengharapan di dunia yang akan datang atau ada pengharapan untuk dunia yang akan datang, bukan pengharapan di dalam dunia ini. Jangan taruh pengharapan kepada hal-hal yang di dalam dunia ini, karena kita bisa menjadi orang yang paling malang. Dunia ini akan hancur dengan nyala api. Tapi kita taruh pengharapan kita di langit baru, bumi yang baru, dan Yerusalem yang baru. Di sanalah tempat kediaman kita. 

Bapak/Ibu yang kekasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Biar kiranya kebenaran ini menjadi berkat bagi kita di manapun kita berada. Amin

 

Pdt Juan Duykers (Ketua Badan Penghubung Pusat dan Wakil Ketua Umum)