Festival PAI 2022, Merajut Optimisme di Daerah Perbatasan

Festival Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi siswa SMA dan SMK 2022 menjadi ajang adu bakat dan kreativitas peserta didik nusantara melalui ragam kegiatan yang dikemas dalam bentuk kompetisi. Gelaran perdana even yang digawangi Subdit PAI SMA/SMALB/SMK ini menjadi bagian dari transformasi gelaran sejenis di tahun-tahun sebelumnya.

Jika dahulu guru-guru PAI mengenal even Pentas PAI, maka di tahun 2022 ini ada Festival PAI dengan nafas berbeda, semangat baru dan lompatan baru. Sebab, ajang ini memberi kesempatan luas kepada para peserta didik di seluruh nusantara.

Gelaran dengan skala nasional ini bahkan tidak hanya diikuti peserta didik beragama Islam saja. Setidaknya ada 50 peserta didik beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu yang ikut ambil bagian dalam even ini. Sehingga, Festival PAI tidak hanya menjadi wadah bagi peserta didik beragama Islam saja, namun juga bagi siswa pemeluk agama yang lainnya.

Tema besar yang diangkat dalam kegiatan ini adalah Moderasi Beragama. Melalui Festival PAI ini, panitia ingin menyampaikan pesan-pesan positif melalui implementasi nilai-nilai moderasi beragama kepada peserta didik dari kalangan milenial. Pesan tersebut disampaikan dengan wadah dan ragam kreativitas yang berbeda, unik dan menyenangkan. Kolaborasi Subdit PAI SMA/SMALB/SMK dengan platform pendidikan sekolah.mu menjadikan kegiatan ini semakin berwarna dan menyenangkan.

Lintas Kawasan

Tidak hanya itu, nilai-nilai moderasi beragama melalui kegiatan Festival PAI ini dirasa mampu menembus batas dan sekat serta dinding pemisah yang selama ini dialami oleh mereka yang tinggal di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Gelaran nasional seperti Festival PAI ini (sebelumnya Pentas PAI) jarang sekali diikuti oleh mereka yang tinggal di daerah 3T. Atau, bahkan peserta didik di daerah 3T tersisih sejak awal karena seleksi yang berjenjang mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Festival PAI menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ajang ini membawa warna yang menarik, menyajikan sistem kompetisi yang berselimutkan nilai-nilai pembelajaran. Peserta Festival tidak hanya dituntut untuk berkompetisi pada tiga jenis lomba, namun mereka juga diminta berkolaborasi, menerima materi terutama berkaitan dengan nilai-nilai moderasi beragama. Sistem lainnya yang berbeda pada gelaran Festival PAI adalah seleksi langsung pada tingkat nasional untuk dua jenis kompetisi (Cipta Konten Islami di Media Sosial dan Proyek Inovasi Moderasi Beragama). 

Panitia memberikan ruang yang luas kepada seluruh peserta untuk langsung berkompetisi secara sehat melalui seleksi langsung tingkat nasional. Pada dua cabang kompetisi ini, nantinya akan dipilih enam peserta terbaik untuk diseleksi di babak final. Dengan demikian, setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk masuk dan menembus babak final, bergantung pada kreativitas mereka masing-masing.

Salah satu sekolah di daerah 3T yang juga turut ambil bagian dalam gelaran Festival PAI 2022 adalah SMK Negeri 1 Tulin Onsoi. Bagi kita yang tinggal di daerah perkotaan, mungkin nama sekolah ini terasa asing. Uniknya, hasil penelusuran penulis di laman google pada Senin (19/9/2022), SMK Negeri 1 Tulin Onsoi telah dinyatakan tutup permanen. Padahal, di sekolah ini masih ada puluhan peserta didik yang belajar bersama guru-guru hebat yang terus mendampingi mereka. 

SMKN 1 Tulin Onsoi berada di kawasan daerah 3T, perbatasan dengan Negara Malaysia. Tulin Onsoi adalah nama salah satu kecamatan di kabupaten Nunukan. Jarak Nunukan ke kecamatan Tulin Onsoi dapat ditempuh sekitar 5-6 jam melalui darat, dan sekitar 3 jam melalui laut dan sungai. 

Selain berada di daerah 3T, sekolah ini juga tidak memiliki fasilitas memadai, seperti listrik dan jaringan internet. Beberapa Desa di Kecamatan Tulin Onsoi tidak memiliki listrik. Mereka memanfaatkan tenaga surya untuk kebutuhan penerangan sehari-hari. Jika ingin menggunakan jaringan internet, harus dibantu dengan antena penguat sinyal dan hasilnya pun tidak begitu maksimal.

“SMK Negeri 1 Tulin Onsoi sendiri sudah memiliki tower penguat sinyal dan jaringan internet, namun hasilnya tidak begitu memuaskan, sinyal yang didapat tidak terlalu bagus. Terkadang listrik di sekolah pun tidak menyala,” kisah Nisa, salah satu Guru PAI di SMK Negeri 1 Tulin Onsoi kepada penulis melalui aplikasi percakapan Whatsapp.

SMK Tulin Onsoi berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Utara, yang setiap hari sabtu dan minggu peserta didiknya libur. Saat mendapatkan informasi terkait Festival PAI 2022, Nisa dengan semangat mengajak peserta didiknya yang beragama Islam untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya tahu banyak kendala terkait jaringan apalagi kegiatan dilaksanakan secara daring. Namun, saya tidak patah semangat untuk memberikan motivasi. Kata-kata yang selalu saya sampaikan kepada anak-anak adalah, ‘Ayuk bisa yuk, meskipun kita berada di daerah terpencil, tapi semangat kita tidak boleh kecil’,” cerita Nisa dengan penuh gelora.

Ada 18 peserta didik SMK Negeri 1 Tulin Onsoi yang ikut mendaftar di kegiatan Festival PAI 2022. Dari 18 peserta didik tersebut, dua di antaranya gugur karena kendala teknis. Email yang mereka tuliskan saat pendaftaran ternyata salah, sehingga pada saat coaching dan mentoring, dua peserta didik ini tidak bisa turut serta.

Nisa menjelaskan bahwa kegiatan coaching dan mentoring yang dilaksanakan saat hari libur (17 dan 18 September 2022) juga menjadi tantangan tersendiri. Peserta didik tidak berkumpul dalam satu tempat, sehingga mereka tidak bisa menggunakan fasilitas sekolah, misalnya komputer.

“Anak-anak mengikuti coaching dan mentoring saat malam hari. Mereka juga mengerjakan soal-soal yang ada pada saat malam. Pagi sampai sore anak-anak harus membantu orang tuanya bekerja di kebun, sehingga otomatis anak-anak kami hanya punya waktu sore setelah pulang dari kebun sampai malam harinya,” ungkapnya terenyuh.

Nisa begitu bersemangat membimbing anak-anak melalui aplikasi Whatsapp. Hanya dengan cara seperti itu, ia tetap bisa membersamai murid-muridnya dalam mengikuti agenda coaching dan mentoring Festival PAI 2022. Selain kondisi lingkungan seperti jarak yang jauh, dilihatnya anak-anak kelelahan terutama saat hari kedua. Hari senin saat mereka semua kembali ke sekolah, raut wajah lelah benar-benar nampak di wajah mereka. 

Namun demikian, di sisi lain, Nisa juga melihat kebahagiaan di rona wajah mereka. 16 peserta didiknya berhasil menuntaskan coaching dan mentoring dan mendapatkan sertifikat.

“Sekolah kami sangat mendukung. Kepala sekolah dan seluruh guru juga memberikan semangat dan dukungan kepada anak-anak yang mengikuti Festival PAI 2022. Saya sebagai guru PAI merasa bangga dan bersyukur karena kami baru kali ini bisa terlibat langsung dalam even nasional seperti Festival PAI 2022 ini,” terang Nisa penuh sukacita.

Ia berharap even seperti ini akan selalu ada setiap tahunnya. Sehingga bagi para pelajar yang berada di daerah 3T juga memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berkompetisi.

Rida Anisa, demikian nama lengkapnya, adalah satu dari jutaan guru di negeri ini yang bangga akan adanya Festival PAI 2022. Nisa merasa bangga karena siswanya bisa terlibat langsung di kegiatan nasional seperti Festival PAI ini. Sebagaimana rasa bangga yang juga dimiliki jutaan guru PAI lainnya di seluruh pelosok negeri, yang turut serta memeriahkan gelaran nasional Festival PAI Tahun 2022.

Kegiatan Festival PAI 2022 dimulai sejak 1 September 2022 hingga 4 November 2022. Tercatat tujuh ribuan peserta didik yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka bukan hanya peserta didik yang beragama Islam, tetapi juga ada yang beragama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Pada tanggal 17 dan 18 September 2022, seluruh peserta mengikuti kegiatan coaching dan mentoring secara daring. Mereka yang berhasil menyelesaikan rangkaian kegiatan daring ini akan mendapatkan sertifikat sebagai syarat melanjutkan ke tahap berikutnya.

Abdul Muis (Guru PAI SMAN 1 Yosowilangun Kabupaten Lumajang)