Filmnya Ditawari Tayang di TV, Apa Kata Sineas Muda MAN 4 Sleman?

Sleman (Kemenag) --- Perubahan era digitalisasi membuat ruang belajar semakin luas. Mudahnya akses informasi dan ilmu pengetahuan, selain pengetahuan akademik yang didapat di sekolah, membuat siswa dapat berkreasi tanpa batas dan menghasilkan karya luar biasa yang kadang tidak terduga.

Berawal dari tawaran salah satu rumah produksi untuk menjadikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Sleman menjadi salah satu tempat pengambilan gambar sebuah film nasional, dan keterlibatan peserta didik menjadi figuran pada proyek ini, para siswa tertarik mengikuti lomba film pendek dan dikerjakan dengan penuh kesungguhan.

Hasil kerja keras siswa berbuah manis. Berbekal kemampuan otodidak film garapan siswa MAN 4 Sleman mendapat tawaran dari beberapa stasiun TV untuk ditampilkan versi panjangnya agar dapat menginspirasi para sineas muda untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Bagaimana kisah para sineas muda asal MAN 4 Sleman ini memproduksi film pertama mereka? Simak cerita serunya dalam wawancara tim humas Kemenag Kurniawan dan Romadanyl (fotografer) dengan sutradara dan para pemain film Sang Penjaga Repoeblik Djogjakarta, garapan siswa MAN 4 Sleman pada Sabtu (5/11/2022).



Mas Ivan, sebagai siswa dan juga sekarang bertugas sebagai sutradara ini keren banget lho, boleh mas diceritakan bagaimana awalnya bisa membuat film ini?

Kami awalnya mendapat tugas dari sekolah untuk membuat film pendek yang akan diikutsertakan dalam perlombaan film. Alhamdulillah, saya dipercaya menjadi sutradara. Teman-teman juga sepertinya serius menggarap film ini. Dan akhirnya di tingkat kabupaten kita menang.

Saat ini, kita menunggu jadwal untuk perlombaan lanjutan di tingkat provinsi. Lalu pak Aziz beberapa hari lalu ngabarin bahwa ada dua stasiun TV yang menawarkan penayangan film ini tapi durasinya ditambah agar sesuai dengan kebutuhan stasiun TV.

Berapa panjang durasi yang di butuhkan stasiun TV nya ? Memangnya film yang lalu berapa lama waktu nya?

Yang lalu kurang lebih 20 menitan, Mas. Kebutuhan dari stasiun TV untuk penayangan 1 jam tapi sudah termasuk iklan di TV nya jadi kebutuhannya sekitar 35 sampai 40 menitan.

Lumayan juga ya untuk pemula membuat film yang menurut saya lumayan panjang. Jadi bagaimana, dari mana ide ceritanya? Tentang apa sih cerita film yang dilombakan ini?

Kami dapat ide ceritanya dari Pak Awang. Film ini bercerita tentang perjuangan Adi Sucipto dan Adi Sumarmo saat melawan Belanda. Lalu kami olah dan memilih beberapa peran yang dibutuhkan, latihan dialog, dan langsung shooting.

Cepat juga ya prosesnya?

Betul, Mas. Prosesnya lumayan singkat dan makanya saya juga kagum sama teman-teman bisa menghayati peran yang saya lihat ya sudah seperti pemain profesional.

Yang lalu kan ceritanya 20 menitan ya Mas, akan di genapkan menjadi 35 menit atau 40 menit. Ini cerita berikutnya lanjutan atau buat cerita baru sih, Mas?

Untuk kebutuhan di TV ini kami tetap akan menampilkan cerita yang lalu, selanjutnya kami akan shooting untuk tambahan ceritanya, tentu saja dengan garapan yang lebih menarik dan dibuat lebih menantang untuk mengeksplore bakat akting teman-teman.

Jadi pada cerita lanjutannya lebih banyak ekspresi ya?

Iya, Mas  Kalau di cerita sebelumnya memang banyak mengambil latar peperangan. Jadi ketegangan riil teman-teman di depan kamera relate sama keadaan perang yang memang menegangkan. Tapi cerita tambahan ini akan lebih banyak ekspresi karena mengambil latar tentang obrolan warga desa, para gerilyawan di warung kopi, kebencian terhadap orang desa yang berpihak ke Belanda. Jadi akan lebih memunculkan ekspresi marahnya, ketawanya, nangisnya. Yah, lebih kompleks lah.

Berapa banyak Mas Ivan, pemain yang terlibat di proyek ini?

Kalo di scene tambahan ini kita hanya melibatkan belasan orang aja. Tapi di cerita awal kemarin sekitar 40 orang pemain yang terlibat langsung.

Lumayan banyak juga ya? Ini semuanya siswa sini mas?

Semua siswa MAN 4 ini, Mas, bukan cuma pemain, kru nya juga. Editornya juga semua siswa sini. Memang ada beberapa bantuan dari luar, seperti yah tadi Pak Awang, beberapa guru pendamping, ada juga keterlibatan salah satu alumni kami, Mas Adit namanya yang alhamdulillah membantu kelancaran proses pembuatan film ini.

Dengan berbekal keterampilan otodidak, dan teman-teman yang baru terjun ke dunia akting ini tanpa pendidikan khusus, sulit ga sih Mas mengerjakan proyek ini?

Kalau skala 1 -10 mungkin kesulitannya di 8 sih, Mas. Keuntungannya mungkin karena kita paham alur ceritanya. Teman-teman juga pendalaman karakternya lebih mudah karena dialek juga sesuai kebutuhan skenario. Beberapa istilah Jawa layak digunakan karena latar memang di Jawa. Dan yang paling penting teman-teman semua sangat serius dan bekerja keras. Jadi memudahkan proses kerja ini.

Luar biasa, berapa lama kemarin proses shootingnya?

Dari pagi sampai malam, Mas. Seharian sih, dan rencananya juga untuk scene tambahan ini kita akan usahakan proses shootingnya juga seharian karena sewa alatnya juga lumayan mahal.

Baik Mas Ivan. Selanjutnya saya nyoba nanya ke Mba Gita dan Mba Hikmah.
Maaf Mba Gita berperan sebagai siapa?

Saya berperan sebagai Lastri

Kalau Mba Hikmah?

Saya berperan sebagai Pariyem

Mba-mba kesulitan gak sih membawakan peran Lastri dan Pariyem ini? Boleh dong cerita sedikit tentang peran Lastri dan Pariyem ini?

Lastri ini seorang perempuan yang biasa menyediakan makanan para kadek yang akhirnya menyerang Belanda. Sejauh ini alhamdulillah gak terlalu banyak kesulitan. Hanya saja paling agak susah bermain intonasi, tapi saya berusaha latihan berkali-kali agar sempurna saat shootingnya.



Kalau Pariyem ini adalah gerilyawati yang menyamar jadi penjaga warung untuk memperoleh informasi-informasi penting yang nantinya akan disampaikan kepada para pejuang lainnya. Karakternya tegas, dan sebetulnya saya juga gak terlalu kesulitan membawakan karakter ini. Karena mungkin ini karakternya saya banget. Maksudnya sehari-harinya saya ya seperti Pariyem ini.

 Keren, saya kagum dengan teman-teman semua. Apa kesulitan dalam berperan film ini?

Dalam scane tambahan ini memang lebih detail sih, Mas. Jadi menghayati peran jadi sangat penting, mengeluarkan semua kemampuan yang ada. Kalo scene yang lalu kendalanya karena shooting seharian paling ya moodnya turun karena capek, ditambah juga cuaca hujan, mungkin belum terbiasa aja. Mudah-mudahan nanti waktu shooting untuk tambahan cerita ini kita sudah bisa lebih terbiasa dengan keadaan cuaca dan juga ritme pekerjaannya.

Oke teman-teman terakhir harapannya dengan film ini?

Harapannya tentu kami bisa shooting dengan lancar, lomba tingkat provinsi nya juga bisa menang dan filmnya bisa ditonton banyak orang terus bisa di terima karyanya.

Baik Mas Ivan, Mba Gita, Mba Hikmah, terima kasih wawancaranya. Mudah-mudahan filmnya sukses dan bisa melahirkan karya-karya keren lainnya. Sekali lagi terima kasih ya.