Gemerlapan Masjidil Haram Hilangkan Kesederhanaan Ka`bah

Jeddah-19/01 (PIKDA) - (Dep.Agama) Pembangunan Makkah al Mukarramah termasuk Masjidil Haram, mengakibatkan kesederhanaan Ka`bah menjadi hilang. Demikian halnya dengan Madinah al Munawwarah dan Jeddah di sisi lain. Amirulhaj HA Malik Fadjar mengemukakan kesan pertama berada di Masjidil Haram saat ini dibandingkan dengan ketika pertama kali menginjakkan kaki di hadapan Ka`bah, ketika menjadi undangan pemerintah tahun 1970. "Dari Jeddah ke Makkah ditempuh empat jam dengan kendaraan bermotor, sedang dari Madinah ke Makkah harus menginap di tengah perjalanan," kenangnya. Kesederhanaan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat ketika itu, sekarang kesederhanaan yang ditempilkan sudah hilang. Semuanya serba modern sehingga terkadang membuat jamaah haji Indonesia khususnya yang datang dari desa, membingungkan. Untuk membuka kran air wudhu di Bandara Internasional King Abdul Azis Jeddah, sering jamaah mengalami kesulitan.

"Ada yang bisa AC, banyak yang tidak dapat tidur dengan AC," paparnya.  Bercerita tentang kesederhanaan Masjidil Haram, Ka`bah dan sekitarnya, Malik Fadjar terkesan dengan lingkungan yang asli. Ketika itu Masjidil Haram masih dalam proses pembangunan, bahkan bangunan yang mengelilingi sekitar Ka`bah belum seluruhnya selesai. Untuk thawaf lanjutnya, sebagian masih berbatu kerikil. Baru sebagian yang dilapisi marmer lengkap dengan pendingin udara.

"Masih sederhana sebagaimana Ka`bah yang tetap dalam kesederhanaan," paparnya.  Lingkungan yang mengelilingi Masjidil Haram juga tampil sederhana. Rumah-rumah penduduk masih mengeliling kompleks Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah al Munawwarah. Pasar Seng demikian masyarakat Indonesia menyebutnya, masih tampil dalam kesederhanaan. Masyarakat muslim yang menunaikan ibadah haji dari tahun ke tahun berbelanja berbagai kebutuhan di sana.  Masyarakat muslim yang menjadi pedagang, para mukimin dan penduduk Makkah menawarkan barang dagangannya. Sejak zaman yang sangat lama, perdagangan selalu ramai memberikan pelayanan kepada jamaah haji.

Demikian halnya dengan lingkungan pemukiman yang sekarang berdiri gedung-gedung baru, hotel berbintang lima. Semuanya serba gemerlapan, tidak siang ataupun malam lampu yang menerangi bagaikan sinar matahari yang membuat benderang.  Kesederhanaan yang tampil mengelilingi Ka`bah sekarang telah tiada, semuanya serba gemerlapan. Bukan saja di sekitar Ka`bah melainkan di tempat-tempat perhajian. Padang Arafah sudah menjadi Taman Arafah lengkap dengan pohon rindang yang membawa kesejukan. Tidak ada lagi kegersangan di sekelilingnya kecuali batu yang tetap tidak bergerak dari tempat asalnya.  Demikian halnya dengan Mina, terus dibenahi lengkap dengan sarana dan prasarana modernitas. Terlebih dengan rencana pembangunan Jembatan Jamarat, tempat jamaah haji dari seluruh dunia melontar Jumrah.

Jembatan empat lantai yang diharapkan dapat menampung jamaah sekaligus berjumlah tiga juta orang. Dilengkapi dengan tempat pendaratan helikopter yang dibutuhkan untuk mengevakuasi jamaah. Lorong-lorong bawah tanah yang dapat digunakan untuk ambulan mengangkut keperluan jamaah. Insya Allah semua daya dan upaya untuk memudahkan jamaah dalam manasik, membawa kebaikan. mch/pur (Republika)