Gizi Tercukupi Masyarakat Sehat Berprestasi

Anupavado anupaghato, patimokkhe ca samvaro, mattannuta ca bhattasmim. Pantanca sayanasanam, adhicitte ca ayogo, etam buddhana sasanam. Tidak mencari kesalahan orang lain, tidak menyakiti makhluk lain, dapat mengendalikan diri sesuai dengan peraturan, memiliki sikap madya dalam hal makan, berdiam di tempat yang sunyi serta giat mengembangkan batin nan luhur, inilah Ajaran Para Buddha. (Dhammapada, Syair 185)

Madya dalam hal makan erat kaitannya dengan hidup sehat. Memiliki pola pengaturan makan yang baik dapat mengurangi risiko penyakit dan juga dapat dimilikinya berat badan yang ideal. Makanan bergizi tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, akan tetapi juga suasana hati.

Hidup sehat dan berkualitas dengan ketercukupan makanan yang baik, rajin berolahraga, dan istirahat cukup menjadi penting dalam kehidupan manusia. Pilihan makanan akan sangat mendukung, konsumsi makanan segar lebih baik dibandingkan makanan olahan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah keseimbangan kandungan makanan seperti karbohidrat, protein, serat, vitamin dan mineral. Semuanya dibutuhkan oleh tubuh.

Setiap orang sadar bahwa makanan memiliki peran penting bagi kehidupan. Apa yang dimakan dan konsumsi harus diperhatikan dengan baik. Makanan yang dikonsumsi harus bersih, sehat dan mengandung nutrisi yang sesuai kebutuhan tubuh. Porsi makanan yang dikonsumsi juga harus disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan. Semakin tinggi aktivitas kerja yang menyita waktu dan tenaga, maka tentu perlu diimbangi dengan jumlah porsi makanan. Untuk itulah pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mengeluarkan Pedoman Gizi Seimbang (PGS), sebagai bentuk perluasan dari semboyan makanan yang melegenda yakni 4 Sehat 5 Sempurna. Gizi seimbang yang memberikan kecukupan dalam kalori, kecukupan protein, kecukupan lemak, dan kecukupan vitamin dan mineral. Dengan keseimbangan gizi tersebut dapat tersedia zat-zat yang diperlukan oleh tubuh seperti zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur.

Dalam hal makan, Guru Agung Buddha mengajarkan untuk mengedepankan sikap seimbang (mattannuta ca bhattasmim). Sikap tersebut merupakan bagian dari proses pengendalian diri atas nafsu keinginan, sebagai bentuk latihan pengembangan batin. Terlebih-lebih bagi para bhikkhu yang memiliki banyak aturan dalam hal makan, baik dalam hal tatacara makan, tatacara menerima persembahan makanan, waktu untuk makan, dan jenis makanan yang diijinkan dan yang tidak diijinkan (terkait dengan daging dan biji-bijian).

Selain dalam hal makan, para bhikkhu juga memiliki peraturan lain yang secara keseluruhan bagi bhikkhu Theravada memiliki 227 peraturan (Sila) dalam Patimokkha sedangkan bagi bhikkhu Mahayana menjadi 250 peraturan. Bagi umat awan ketentuan dalam hal makan tidak seketat ketentuan para bhikkhu. Namun yang lebih diutamakan adalah mendorong agar menjadi orang yang dapat menakar makanan sesuai dengan kebutuhannya.

Guru Agung Buddha mengajarkan untuk senantiasa melakukan perenungan terhadap kebutuhan hidup yang akan digunakan (tankhanikappacca vekkhanapatho) dan kebutuhan hidup yang telah digunakan (atitappacca vekkhanapatho),  termasuk dalam hal makanan. Merenungkan tujuan sebenarnya saya memakan makanan, bukan untuk kesenangan, bukan untuk pemabukan, bukan untuk menggemukkan badan, bukan untuk memperindah diri, tetapi hanya untuk kelangsungan hidup dan mempertahankan tubuh, untuk menghentikan rasa tidak enak dan untuk membantu kehidupan suci, dengan berpikir bahwa saya akan menghilangkan perasaan lapar yang lama dan tidak akan menimbulkan perasaan baru dengan makan berlebihan, dengan demikian saya akan dapat mempertahankan tubuh ini dari gangguan-gangguan dan hidup dengan nyaman.

Karena itulah, penting bagi setiap orang untuk menyediakan asupan makanan yang cukup dan bergizi, terlebih bagi anak-anak sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara sehat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya keseimbangan gizi perlu dikokohkan, agar tercipta generasi yang kuat, sehat, dan cerdas dalam mewujudkan Indonesia maju. Dengan gizi tercukupi masyarakat menjadi sehat dan mampu berprestasi sebagai bangsa yang unggul.

Selamat Hari Gizi Nasional ke-61

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)