Halaqah Ulama ASEAN: Perkuat Daya Saing Pendidikan Islam

Jakarta (Kemenag) --- Kementerian Agama kembali menggelar Halaqah Ulama ASEAN. Kegiatan kali ketujuh ini digelar di Jakarta, dari 17 – 19 Oktober 2017. Sejumlah ulama dan intelektual Muslim dari negara-negara ASEAN dijadwalkan hadir, antara lain: Dr. Hambali Haji Jaili (Brunei Darussalam), Dr. Esmael Ebraham (Filipina), Dr. Ma Thanh Thanh Hoang (Vietnam), Dr. Ahmad Kamel (Thailand), dan lainnya.

Halaqah ini kali fokus pada pembahasan tentang upaya memperkuat daya saing pendidikan Islam. Sejumlah narasumber dijadwalkan akan hadir, antara lain: Prof. Dr. Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Prof. Ronald Lukens Bull, Ph.D (University of North Florida, USA), dan Dr. Syed Muhammad Khairudin Aljunied (National University of Singapore dan Georgetown University USA).

Apa signifikansi dan urgensi penyelenggaraan halaqah tersebut dalam konteks kehidupan beragama di ASEAN pada umumnya dan Indonesia pada khususnya, berikut petikan wawancara Humas Kemenag dengan Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian pada Kamis, 12 Oktober 2017 lalu:

Apa latar belakang penyelenggaraan halaqah ulama ASEAN tahun 2017?

Halaqah Ulama ASEAN ini merupakan tindaklanjut dari halaqah yang diselenggarakan tahun 2016. Halaqah saat itu merekomendasikan dua hal, yaitu: moderasi Islam dan penguatan daya saing lembaga pendidikan Islam. Untuk itu, halaqah tahun ini akan fokus pada rekomendasi tersebut.

Halaqah ini merupakan agenda tahunan. Gelaran sekarang merupakan kali ketujuh. Halaqah pertama digelar pada tahun 2010. Namun, untuk halaqah yang berskala Internasional ini baru dua tahun terakhir, sebelumnya hanya tingkat nasional.

Jadi apa target halaqah sekarang?

Target halaqah tahun ini adalah rumusan tentang pengembangan Islam yang moderat melalui jaringan lembaga pendidikan Islam ASEAN. Selain itu, sharing pengalaman tentang pengutan daya saing lembaga pendidikan Islam di ASEAN.

Target ketiga adalah membuat model lembaga pendidikan Islam yang kompetitif yang mampu merespon tantangan dalam masyarakat ekonomi ASEAN. Lembaga pendidikan Islam ke depan harus mampu memproduk alumni yang mampu bersaing dan kompetitif. Kalau di Indonesia, salah satu contohnya adalah MAN Insan Cendekia. Lulusan madrasah ini banyak diterima di kampus bonafide dunia, baik di Jepang, Eropa, maupun Amerika.

Halaqah diikuti siapa saja?

Halaqah akan diikuti para ulama dari 10 Negara ASEAN. Sedikitnya ada 300 peserta, terdiri dari: lembaga pendidikan Islam ASEAN, ulama pesantren, akademisi perguruan tinggi keagamaan, birokrasi, anggota parlemen, perwakilan mahasiswa asing di Indonesia, dan tokoh masyarakat.

Selain itu, ada juga peserta dari China dan Timor Leste. Untuk pembicara, kita juga menghadirkan narasumber dari Amerika, selain tokoh intelektual dari masing-masing negara ASEAN.
Dalam forum ini, kita ingin bisa belajar bersama, berbagi pengalaman antar negara tentang upaya peningkatan daya saing lembaga pendidikan Islam.

Halaqah tahun ini mengangkat tema “Memperkuat Daya Saing Lembaga Pendidikan Islam ASEAN”. Apa pertimbangan pokoknya?

Tema ini dinilai penting, pertama karena pendidikan memiliki peran sentral. Pendikan itu segala-galanya. Melalui pendidikan, kita mau merubah hal-hal yang bersifat substantial dan mendasar.  "Education is slow, but it is a powerful force." atau “Pendidikan itu lambat, tapi ia adalah kekuatan yang dahsyat.”

Surat Al-Quran yang pertama turun adalah al-‘Alaq, berisi perintah membaca, dan itu sangat terkait dengan pendidikan. Dengan pendidikan, kita bisa memperkuat dan memperkokoh daya saing.

Halaqah ini nantinya akan diarahkan pada tiga isu strategis, yaitu: pertama, pengembangan Islam moderat melalui jaringan lembaga pendidikan Islam ASEAN; 2) penguatan daya saing lembaga penddikan Islam di ASEAN, dan 3) membuat model lembaga pendidikan Islam yang kompetitif, mampu merespon tantangan dalam menghadapi Masyaraakt Ekonomi ASEAN (MEA).

Lantas, apa yang akan dihasilkan?

Selain paparan narasumber, halaqah juga akan menjadi forum sharing pengelolaan lembaga pendidikan Islam. Dari situ, diharapkan bisa dirumuskan rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti.

Rekomendasi itu nantinya tidak hanya diberikan kepada Dirjen Pendidikan Islam sebagai penanggung jawab lembaga pendidikan Islam di Kementerian Agama. Lebih dari itu, rekomendasi akan ditujukan kepada seluruh lembaga/kementerian yang mengelola pendidikan. Juga kepada para pengambil kebijakan, ormas, dan lembaga-lembaga pendidikan itu sendiri.

Dari Halaqah ini, diharapkan moderasi Islam, rahmatan lil alamin, dan  competitiveness dunia pendidikan Islam akan semakin menggema di ASEAN and beyond.