Hidup di Jalan Suci

Sering kali kita mendengar kata jalan suci atau Dao. Sebenarnya jalan suci itu apa? Bagaimana cara menempuhnya? Penting kah jalan suci itu? Tulisan dalam Mimbar Khonghucu kali ini mencoba mengupas tentang hal itu. 

Jalan suci itu tidak jauh dari kehidupan sehari-hari, kadangkala manusia lupa atau tidak menyadari untuk menjalankan jalan suci dalam kehidupannya sehari-hari. Dao/Jalan Suci itu tersurat dalam kitab Zhongyong, Bab Utama. 

Dao/Jalan suci itu ialah hidup atau prilaku kehidupan yang selaras atau mengikuti watak sejati/Xing  manusia sebagai perwujudan Firman Tian (Tian Ming) atas hidup manusia. Jadi Jalan Suci/Dao adalah hidup yang menggenapkan atau melaksanakan Firman Tian Yang Maha Esa. Hidup manusia yang selalu berlandaskan cinta kasih, kebenaran, susila dan bijaksana. Untuk hidup sesuai Firman Tian, manusia memerlukan bimbingan untuk membina diri menempuh jalan suci, yaitu agama/jiao.

Dalam menjalankan atau menempuh jalan suci itu, manusia dalam kehidupannya harus selalu menggemilangkan kebajikan/Ming De yang bercahaya. Jalan suci membimbing manusia agar dapat membina kehidupan rohaninya, menjaga dan menggemilangkan sifat-sifat bajik dalam dirinya, serta mengendalikan nafsu dan nalurinya agar menempati fungsinya dan tidak merajalela menguasai dirinya. 

Jalan suci mengantarkan pada terciptanya kehidupan yang tepat dan harmonis (Zhong He) lahir batin, jasmani rohani, dalam suasana yang indah dan bajik. Orang yang berada di jalan suci, mengasihi rakyat/Qin Min atau mengamalkan kebajikan dalam kehidupan. Sehingga, benih-benih kebajikan di dalam watak sejati yang bersifat cinta kasih, kebenaran/keadilan/kewajiban, susila/Li dan kebijaksanaan, atau cerdas arif benar-benar tumbuh berkembang kokoh di dalam batin dan mewujud di dalam pengalaman.

Semua itu perlu dilakukan dan dibina dengan sungguh-sunguh sehingga dapat mencapai puncak baik dan berhenti atau bersemayam di dalam dirinya. Dengan demikian, manusia benar-benar bersifat junzi atau susilawan, dapat dipercaya sebagai insan Tuhan yang satya kepada Tuhan (Zhong Yu Tian) Khaliknya, dan dapat dipercaya/Xin sebagai manusia yang mengasihi sesamanya (Qin Min), menyayangi sesama mahkluk dan bertanggungjawab terhadap kelestariaan alam lingkungan hidupnya. Dengan demikian, terjalin hubungan yang indah dengan Tuhan Khaliknya, dengan sesamanya, dengan sesama mahkluk dan alam  lingkungan hidupnya.

Hidup dalam jalan Dao/ hidup menempuh jalan suci ialah kehidupan lahir batin yang selaras dan tepat dalam tuntunan watak sejati, memenuhi hakikat kemanusian, memenuhi panggilan Firman Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hubungan ke atas (Vertikal), ini mewujud dalam satya, taqwa, berbakti kepada Tian. Sedang dalam hubungan ke bawah atau mendatar (horizontal), ini mewujud dalam sifat mengasihi, tengggang rasa dan tepasalira terhadap sesama manusia, menyayangi sesama mahkluk dan bertanggungjawab terhadap alam dan lingkungan atau berlaksa benda.

Inilah Jalan Suci yang satu yang menembusi semuanya yang diajarkan Nabi Kongzi, yakni: Zhong Shu atau Satya dan Tepasalira (Lunyu IV:15). Jadi, hidup dalam Dao/Jalan suci itu hidup yang selalu berlandaskan nilai-nilai kemanusian /nilai- nilai  kebajikan. Sehingga, manusia akan terhindar dari kesalahan-kesalahan, baik kepada manusia maupun kepada alam dan lingkungan di mana manusia hidup/atau berada. 

Di awal tulisan sudah dikatakan bahwa hidup menempuh Dao/jalan Suci itu sangat penting. Sebab, dengan hidup menempuh jalan suci, manusia akan terarah dan mempunyai pedoman. Menempuh jalan suci itu berarti hidup berlandasan ajaran agama yang kita yakini.

Di dalam kitab Lun Yu IV: 8 disebutkan, “Pagi hari mendengar Jalan Suci, sore hari matipun ikhlas”. Dengan menjalankan dao/jalan suci, kala diberi kesempatan untuk hidup di dunia oleh Tian, kita wajib menjalankan apa yang Tuhan Firmankan. Yaitu, hidup yang selalu berlandaskan cinta kasih, kebenaran, Susila, dan bijaksana. Sehingga, saat waktunya dipanggil, kita ikhlas menerimanya. Sebab, sudah menjalankan hidup sesuai apa yang Tuhan Firmankan. 

Hidup dalam jalan suci itu tidak boleh terpisah, biar sekejap pun. Jadi di kala susah dan senang, bahagia dan sedih, manusia selalu hidup menempuh jalan ini. Manusia wajib memegang teguh cinta kasih. Sebab  cinta kasih itu adalah kemanusian. Kalau kata itu telah satu dengan perbuatan, maka itu dinamai Jalan Suci. 

Jadi, dengan berpegang teguh pada nilai kemanusiaan, manusia akan tetap hidup dalam jalan suci, tidak terpengaruh dengan keadaan atau kondisi yang menyebabkan manusia tidak hidup dalam jalan suci. Kalau kebenaran tidak dapat dilakukan oleh manusia dan jalan suci itu disia-siakan dan tidak dilalui, hati akan lepas dan tidak tahu bagaimana mencarinya kembali. Kondisi ini sungguh menyedihkan.

Untuk dapat hidup dalam jalan suci, kita senantiasa wajib mawas diri. Hal ini sebagaimana tersurat dalam kitab Lun Yu VII: 2. Bimbingan untuk itu, tiap hari hendaknya kita secara teratur menyisihkan waktu untuk duduk diam (Jing zou ), melakukan renungan ; belajar dengan tidak merasa  jemu dan mengajar orang lain  dengan tidak merasa capai. Adakah itu di  dalam diri?

Dalam kehidupan sehari-hari, hendaklah manusia selalu dapat mengintrospeksi diri agar hidupnya selalu dalam jalan suci. Manusia perlu memeriksa diri terhadap perbuatan atau kelakukan yang selalu dalam jalan suci. Kalau manusia setiap hari mau meluangkan waktunya untuk merenungan terhadap perbuatan  yang dilakukan, maka dia terhindar dari perbuatan yang melanggar jalan suci.

Setidaknya ada tiga hal yang setiap hari perlu diperiksa. Pertama, dalam kesuguhan/satyaaan terhadap Tian, menjalankan Firman Tian dengan melakukan cinta kasih, kebenaran, Susila, dan kebijaksaan, baik   di rumah, di tempat kerja, maupun masyarakat. Misalnya,  berbakti kepada orang tua, menghargai orang lain, mencinta sesama, menjaga lingkungan sekitar. Jika melalukan itu, kita berarti sudah hidup dalam jalan suci. 

Kedua, dalam pergaulan sehari-hari-hari dengan kawan dan sahabat, dapat dipercaya, tidak melakukan perbuatan atau tindakan yang merugikan dan melukai orang lain. Ini berarti kita sudah dapat hidup dalam jalan suci. Misalnya, tidak pernah ingkar janji terhadap perkataan atau ucapaan yang sudah dikatakan, berarti sudah hidup dalam jalan suci. 

Terakhir, dalam memeriksa diri sebagai insan Tuhan, kita wajib untuk dapat mengembangkan kebajikan setiap hari agar kebajikan yang kita lalukan bersinar. Dengan kata lain, kita wajib teratur memeriksa diri bagaimana iman dan satya kepada Tian, bagaimana jalinan dengan sesama manusia, dan bagaimana mempelajari dan melatih, mengamalkan ajaran  Nabi untuk senantiasa  mawas diri. Dengan mawas diri berarti hidup dalam jalan suci/Dao. 

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hidup dalam Dao/Jalan Suci adalah hidup mengikuti agama yang diridai Tuhan yang akan membawa manusia bahagia, ,damai dan tentram. Untuk mencapai ini memang tidak mudah. Manusia harus senantiasa dapat memegang teguh peri cinta kasih dan hidup dalam kebenaran. 

Demikian, semoga menjadi renungan kita semua dalam menjalankan kehidupan ke arah yang lebih baik.
 
Dq. Ramli, S.Pd, (Guru Agama Khonghucu)
 


TERKAIT

New Normal dalam Perspektif Hindu

Tuhan Selamatkan Semua Orang

Kelegaan di dalam Kesesakan

Kamacchanda

Kekuatan Memberi