Hijau Alamku, Damai Jiwaku

Yathapi Bhamaro Puppham, vannagandham Ahethayam, Paleti Rasamadaya, Evam Game Care. Bagaikan seekor kumbang mengumpulkan madu dari bunga-bunga tanpa merusak warna maupun baunya, demikian pula hendaknya, orang bijaksana mengembara dari desa ke desa. (Dhammapada, Syair 49)

Pesona alam indah nan hijau yang terhampar luas di bumi Indonesia, memberikan gambaran kesuburan dan kekayaan. Hijaunya alam itu juga memberikan suasana kenyamanan, ketenangan, dan keharmonisan dalam batin. Begitulah kesan yang dapat kita peroleh.

Kesan positif tersebut akan membawa manfaat dalam mengembangkan suasana kehidupan yang harmoni, emosi yang seimbang, kesegaran mata, ketenangan pikiran yang membawa kedamaian dan kepedulian terhadap lingkungan. 

Lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Manusia tidak dapat hidup tanpa adanya lingkungan. Namun pada kenyataannya, sebagian kerusakan lingkungan lebih disebabkan karena ketidakpedulian dan ketidakbijaksanaan manusia dalam mengelola dan melindungi alam.

Manusia cenderung mengedepankan keserakahan dalam mengelola alam.  Keserakahan itu merupakan manifestasi dari adanya degradasi moral dalam diri manusia. Oleh karena itu, pendekatan agama menjadi solusi terbaik dalam mengatasi permasalahan lingkungan.

Dalam ajaran Buddha, semua fenomena di alam semesta merupakan hubungan sebab dan akibat, saling mempengaruhi dan bergantungan. Semua yang terjadi berdasarkan pada hukum sebab-akibat yang saling bergantungan (Paticcasamuppada). Dengan demikian segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia, maka akan mengakibatkan sesuatu yang dampaknya akan dirasakan kembali oleh manusia.

Ajaran Buddha menekankan agar manusia dapat selaras dengan alam. Memanfaatkan kekayaan alam bukan berarti merusak alam. Terkait hal tersebut Guru Agung Buddha memberikan perumpamaan selayaknya seekor kumbang yang memanfaatkan keindahan bunga untuk diambil madunya akan tetapi disisi lain kumbang tersebut membantu proses penyerbukan. Memperlakukan alam secara bijaksana yang akan membawa keuntungan dalam melangsungkan kehidupan tanpa menyebabkan dampak kerusakan.

Upaya mempertahankan alam dari kerusakan dan membiarkan hutan tetap hijau dengan pohon-pohon yang mampu tumbuh subur, Guru Agung Buddha juga memberikan aturan yang tegas dalam Vinaya Pitaka bahwa para Bhikkhu tidak merusak biji-bijian, mencemari air dan tumbuh-tumbuhan dengan kotoran, seperti air liur, air seni dan tinja, juga menebang pohon.

Sebaliknya, Guru Agung Buddha memberikan nasehat manfaat merawat lingkungan sebagaimana tertuang dalam Vanaropa Sutta, bahwa mereka yang membangun hutan, membangun jembatan, tempat minum dan sumur, memberikan tempat tinggal, pada mereka jasa akan terus bertambah siang dan malam.

Teladan Guru Agung Buddha dalam hal penghargaan terhadap alam adalah ketika melakukan ungkapan terima kasih dan penghargaan (kattannukatavedi) terhadap pohon Boddhi, beliau berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi dan memandanginya terus-menerus dengan mata tidak berkedip selama satu minggu karena telah memberi-Nya tempat untuk berteduh sewaktu berjuang untuk mencapai tingkat Buddha.

Refleksi dari hal tersebut adalah bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan dan bergantungan baik dengan sesama manusia maupun lingkungan haruslah saling berterima kasih dan saling menjaga satu sama lain.

Untuk itu, mari kita selamatkan alam dengan senantiasa menjaga keseimbangan alam dan turut melestarikan dengan aksi nyata. Kurangi penggunaan kertas, hemat energi, dan melakukan penghijauan kembali merupakan hal yang patut kita lakukan. Alam yang hijau akan memberikan kedamaian dalam jiwa manusia.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)