Hindu dan Moderasi Beragama

“Dengan cara apapun seseorang mendekatiKu, Aku menerimanya; Karena sesungguhnya setiap jalan yang ditempuh manusia adalah jalanKu, adalah jalan menujuKu” (Sloka 11 bab IV, Bhagavadgita)

OM Swastyastu, Umat sedharma yang berbahagia. Mimbar Hindu kali ini mengangkat tema Hindu dan Moderasi Beragama.

Kutipan sloka di atas menunjukkan bahwa umat Hindu telah memiliki landasan yang kuat untuk terus menerus melakukan pembaharuan/moderasi dalam praktik-praktik keagamaannya. Bahkan tidak ada seorangpun atau lembaga manapun yang mempunyai otoritas, untuk mendikte cara-cara kita melakukan praktik-praktik keagamaan. Tuhan menyediakan dan mempersilakan umat Hindu untuk datang dan menghadapNya dengan cara apapun, sekali lagi dengan cara apapun.

Umat Sedharma yang berbahagia. Agama sejatinya adalah tuntunan untuk mengantarkan umat menuju pada kesadaran (Cetana). Pertanyaannya adalah kesadaran tentang apa? Kesadaran tentang hakikat, yaitu hakikat keberadaan kita (eksistensi kita sebagai manusia), hakikat tujuan dari keberadaan kita, dan hakikat bagaimana cara kita menuju tujuan tersebut.

Tentang hakikat keberadaan/eksistensi kita sebagai manusia, agama Hindu memberikan tuntunan/pengetahuan tentang Yoni, karma wasana dan dalam butir-butir Pancasradha ada atma, reinkarnasi, dan karmaphala. Selanjutnya agama Hindu banyak memberikan paparan dalam Shastra suci tentang hakikat tujuan kita sebagai manusia, seperti yang tercantum dalam Catur Purusha Artha (empat tujuan hidup manusia) yaitu Dharma, Arta, Kama dan Moksha. Demikian juga dalam Panca Srada, butir terakhir, yaitu Moskha (pembebasan). Shastra yang paling jelas dan lugas memaparkan tentang tujuan hidup umat Hindu adalah Mokshartam Jagadhita ya ca iti Dharma

Sampai di sini terasa sangat jelas dan tegas tentang hakikat keberadaan dan tujuan dari keberadaan kita menurut ajaran Hindu. Namun, masih menyisakan jarak dan ruang antara keberadaan dan tujuan dari keberadaan tersebut. Di sinilah selanjutnya, agama Hindu memberikan tuntunan dalam berbagai shastra suci jalan menuju tujuan hidup manusia. Misalnya, ajaran catur marga yoga (empat jalan penyatuan), catur asrama (empat tingkat kehidupan), berbagai tatacara korban suci atau yadnya, berbagai bentuk disiplin/sadhana dan etika seperti dasa sila, tapa, brata, yoga dan samadhi.

Umat Sedharma yang berbahagia. Hampir tidak ada perdebatan dan penyangkalan akan tuntunan yang diberikan oleh agama Hindu tentang hakikat keberadaan dan tujuan dari keberadaan kita. Sebaliknya, tidak sedikit masalah timbul tentang praktik-praktik dari tuntunan shastra suci menuju tujuan hidup kita, terkhususnya dalam tatacara ber-yadnya (korban suci) seperti dalam melaksanakan ritual/upacara. Di sisi lain tidak dipungkiri berbagai kegiatan upacara memberikan warna dan kesemarakan tersendiri dalam praktik keagamaan sebagaimana diamanatkan shastra suci yaitu Satyam, Siwam, Sundaram

Umat Sedharma yang berbahagia. Yadnya (korban suci) yang semata-mata menonjolkan aspek materi adalah suatu praktik yang mubazir apabila miskin akan tatwa, kehilangan akan tujuan (iksa), melebihi batas kemampuan (sakti). Lebih memprihatinkan lagi dan sangat disayangkan, ada kelompok-kelompok yang berusaha mempertahankan secara dogmatis tata cara beragama termasuk beryadnya atau berupacara. Apabila praktik-praktik keagamaan yang menonjolkan materi semata terus dipertahankan, tidak mustahil agama Hindu akan kehilangan roh/spirit sanatana dharmanya yang pada gilirannya akan ditinggalkan umatnya. Karena akan menjadi praktik yang memberatkan dan beban bagi kehidupan yang kering akan makna serta dan tidak jarang menjadi praktik eksploitasi semata. Praktik-praktik keagamaan seperti itu dapat menjadikan stigma negatif bagi agama dan umat Hindu, seperti agama yang tidak flexible, boros, memberatkan dan kering secara spiritual. Tentunya umat sedharma semua tidak mengharapkan semua itu terjadi.

Umat Sedharma yang berbahagia. Kita semua patut merenungkan amanat dalam sloka Bhagavadgita yang menjadi pengawal dari dharma wacana ini. Yaitu “Dengan cara apapun seseorang mendekatiKu, Aku menerimanya; Karena sesungguhnya setiap jalan yang ditempuh manusia adalah jalanKu,  adalah jalan menujuKu. Demikian juga yang ditegaskan secara lebih jelas dan teknis dalam shastra suci Manawa Dharma shastra bab VII sloka 10 yang maknanya: “Menyukseskan tujuan dharma hendaknya dijalankan dengan lima landasan yaitu iksa (Tujuan), sakti (kemampuan), desa (aturan setempat) dan kala (waktu) serta tidak boleh bertentangan dengan tattwa (kebenaran).”

Dua amanat itu lebih meyakinkan kita sebagai umat Hindu, bahwa moderasi beragama menjadi suatu keniscayaan dalam praktik agama Hindu. Sekali lagi, moderasi beragama adalah keniscayaan dalam praktik agama Hindu. Moderasi beragama menjadikan praktik keagamaan adalah sebuah kebutuhan bagi umatnya di tengah-tengah kehidupan duniawi dan material. Sebuah praktik yang meringankan jalan umatnya menuju hakikatnya. 

Apabila demikian halnya, apapun yang menjadi pilihan atau cara dalam mempraktikkan keyakinannya akan menjadi sebuah offering (persembahan) yang indah, menyenangkan, menggembirakan, membahagiakan dan membebaskan. Apabila hal itu telah benar-benar dirasakan oleh umatnya, itulah indikator sederhana bahwa kita sudah sampai pada hakikat dari tujuan keberadaan kita. Astungkara

Demikianlah umat sedharma yang berbahagia dharma wacana singkat saya. OM Shanti Shanti Shanti OM

Prof. Dr. I Ketut Adnyana (Rohaniwan Hindu)