Hindu dan Pentingnya Merawat Kebhinekaan

Om swastyastu. Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri dari ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai pulau Rote. Dari berbagai suku bangsa, yang memeluk agama yang berbeda, dengan budaya yang berbeda menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang multiculture , berbagai macam suku bangsa agama dan budaya. Ini semua merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Masyarakat Indonesia sangat majemuk  dengan keanekaragaman agama, budaya, dan bahasa. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa berpotensi menjadi sumber konflik. Karenanya perlu dasar yang bisa mengikat semua anggota kelompok sosial yang berbeda-beda. Dasar negara Pancasila  adalah pilihan yang tepat dari para pendiri bangsa untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan lambang Burung Garuda dan Bhineka Tunggal Ika

Merawat Kebhinekaan
Pluralitas dan heterogenitas yang tercermin pada masyarakat diikat dalam prinsip persatuan dan kesatuan bangsa yang kita kenal dengan Bhinneka Tunggal Ika . Semboyan ini bersumber dari Kakawin Suta Soma yang ditulis oleh  Mpu Tantular: Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ( berbeda-beda tetapi tetap satu, tiada dharma yang mendua)

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, merawat kebhinekaan menjadi sebuah kewajiban bagi umat Hindu. Ini ditegaskan dalam Sloka Bagavad Gita Bab IV Sloka 11: Bagaimanapun (jalan) manusia mendekatiku , aku terima wahai Arjuna, manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.

Sloka dari Bagavad Gita tersebut memberikan ajaran yang sangat jelas bahwa  Tuhan tidak diskriminasi, hanya memihak satu bangsa dan agama, melainkan mengajarkan adanya perbedaan jalan menuju kepada-Nya.

Ajaran Hindu juga mengenal filosofi Wasudhaiwa Kutumbhakam. Artinya, kita semua bersaudara. Dengan dasar inilah, perbedaan budaya dan agama tidak membuat umat Hindu menjadi terkotak-kotak dan saling curiga. Kita  tetap sebagai saudara.

Ajaran lainnya adalah Tat Twam Asi, engkau adalah aku, aku adalah engkau. Sebagai sesama makhluk Tuhan yang sama-sama memiliki atman yang bersumber dari Brahman (Brahman Atman Akyam), rumusan ini membimbing kita mengasihi orang lain sebagaimana kita menyayangi diri sendiri . Inilah jalan utama menuju masyarakat santih, kehidupan damai dan harmonis. Kita merasakan perasaan yang sama bila saudara kita tersakiti. Sehingga, kita tetap saling menjaga, melindungi, memahami satu sama lain. Jika demikian, niscaya kedamaian kita dapatkan.

Tat Twam Asi berarti selalu mengutamakan cinta kasih, bhakti, rela berkorban tanpa pamrih untuk menjaga  keharmonisan dalam kebhinekaan  

Di masa Pandemi Covid -19, penyebaran virusnya tidak memilih siapa dan apa suku agamanya. Semua tersasar oleh virus ini. Dengan demikian, marilah kita saling menjaga, bahu-membahu, saling menolong tidak menyebarkan berita hoak yang dapat menciptakan suasana kegaduhan. Mari kita merawat kebhinekaan dengan terus memupuk rasa persaudaraan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan filosofi Vasudhaiwa Kutumbakam, bahwa kita adalah bersaudara. Bhineka Tunggal Ika, bahwa berbeda-beda tetap satu juga. Loka samasta sukhina bhawantu, biarlah seluruh dunia Bahagia.

OM Santih Santih Santih Om

Pitri Widyowati (Rohaniwan Hindu)