IAIN Takengon Teliti Literatur dan Budaya Gayo

Padang (Kemenag) --- Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon tengah meneliti literatur dan budaya Gayo. Riset ini dilakukan antara lain untuk memperkuat muatan isi pembelajaran literatur dan budaya Gayo.

Selain itu, riset ini sejalan dengan upaya penguatan moderasi beragama melalui pelestarian budaya. "Tim peneliti akan fokus pada sistematisasi data agar bisa disajikan dengan lebih mudah kepada pembaca," terang Rektor IAIN Takengon Zulkarnain di Padang, Selasa (17/5/2022).

Menurut Zulkarnain, IAIN Takengon, sejak sebelum proses penegerian, telah mengajarkan mata kuliah institusional, yaitu Literatur dan Budaya Gayo. Awalnya mata kuliah ini disebut Syari'at dan Adat Gayo. "Muatan syari'at dan adat tentu telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari mata kuliah literatur dan budaya Gayo," jelasnya.

Riset ini, kata Rektor, dilakukan dalam rangka pengembangan muatan isi mata kulaih Literatur dan Budaya Gayo. Riset diharapkan akan mendapat data objektif, termasuk pertumbuhan dan perkembangan etos keilmuan yang dilakukan oleh para cendekia zaman dulu, secara lebih khusus setelah Indonesia merdeka.

Secara Geografis, wilayah Gayo zaman dulu masih terisolasi. Sehingga, untuk memasarkan hasil bumi, seperti tembakau dari Takengon ke Kota Biruen, ditempuh dengan jalan kaki sekitar tiga hari tiga malam. Uang hasil menjual tembakau dibuat untuk  membeli kebutuhan dapur, antara lain garam.

"Jadi, sejak dulu, masyarakat Gayo dikenal pekerja keras. Bahkan mereka harus melakukan perjalanan pulang pergi dari Takengon ke Biruen hingga enam hari untuk memenuhi kebutuhan," papar Zulkarnain.

Semangat kerja keras juga tercermin pada etos mencari ilmu. Sejak dulu, sejumlah putra Gayo ada yang belajar di wilayah Aceh Utara dan sekitarnya. Bahkan, sudah ada juga yang berangkat belajar ke Thawalib (putra) Padang Panjang. 

"Akses yang sulit, jarak tempuh yang jauh dari Gayo ke Thawalib tidak menyurutkan semangat. Mereka tempuh karena tekad ingin memperoleh ilmu, berguru pada orang yang tepat," sebutnya.

Thawalib Padang Panjang, lanjut Zulkarnain, sejak dulu telah menjadi salah satu lembaga pendidikan yang sudah cukup terkenal pada waktu itu.
Para pendidik (ulama kharismatik) di Thawalib ini menjadi pertimbangan bagi para santri untuk mendatangi tempat ini, termasuk sejumlah putra Gayo. "Di antara nama putra Gayo yang telah belajar ke Thawalib waktu itu Almarhum Lathif Rusydi, Moh. Ali Djadun, Mahmud Ibrahim," sebutnya.

Basis keilmuan yang telah mereka pelajari di Thawalib ini membekas sangat kuat. Sehingga, ketika kembali dari belajar di Thawalib dan berada di tengah masyarakat, mereka hadir dan berkiprah menjadi guru bagi ummat (masyarakat) sekitarnya.

"Jejaring sanad keilmuan inilah yang diteliti oleh tim yang terdiri dari Zulkarnain, Saumiwaty dan Ihsan Harun. Semoga penelitian ini dapat dirampungkan tahun ini juga," tandasnya.