Identitas yang Jelas

Ketika duduk dibangku sekolah atau universitas, kita sangat rindu untuk segera tamat/menyelesaikan tugas belajar. Sesudah itu, dapat bekerja di tempat yang baik dan berpenghasilan cukup. Tentu banyak perjuangan, tantangan yang harus kita lalui, yang terkadang membuat kita putus asa dan lain sebagainya.

Setelah mendapat pekerjaan sesuai dengan keinginan kita, masih muncul juga keinginan yang lebih, yang untuk meraihnya terkadang juga tidak mudah. Pertanyaannya adalah apakah kita akan kompromi dengan cara-cara duniawi untuk memperoleh apa yang kita inginkan?

Nats yang dibaca hari ini (Ulangan 13: 6-8) mengingatkan kita untuk memiliki iman yang konsisten dan stabil, jauh atau menjauhkan diri dari pengaruh-pengaruh jahat yang mungkin muncul dari pikiran kita ataupun pengaruh pikiran orang-orang yang dekat dengan kita.

Identitas sebagai anak-anak Tuhan harus jelas. Cara pikir dan pola hidup kita ditentukan oleh firman Tuhan. Dalam situasi apapun, ‘garam’ tidak boleh menjadi tawar atau ‘terang’ menjadi pudar nyalanya. Tuhan Yesus katakan kepada semua murid-muridnya, kamu adalah garam dan terang dunia. Jadi itulah identitas kita sebagai anak-anak Tuhan dalam situasi dan posisi kita masing-masing. 

Kita tidak boleh kehilangan jati diri sebagai anak-anak Tuhan, diantaranya:

a. Anak-anak Tuhan selalu dekat dengan Tuhan Yesus yang menyelamatkan. Apapun bentuk  tawaran duniawi tidak akan mengalihkan perhatiannya dari Tuhan Yesus. 

b. Anak-anak Tuhan selalu bersukacita dan bersyukur. Dua hal ini akan memberi semangat kepada kita untuk bekerja optimal atau maksimal dan tuntas, walaupun ditempat yang terpencil, tidak ada apresiasi dan lain sebagainya.

c. Anak-anak Tuhan selalu melihat kehadirannya sebagai duta Kristus, seperti Paulus sampaikan bahwa Kristus yang hidup di dalam aku, menjadi surat Kristus yang terbuka. Siap untuk dibaca oleh semua orang. Karena itu perlu jujur, hidup tulus dan berkenan kepada Tuhan.

d. Anak-anak Tuhan diberkati untuk menjadi berkat. Ketika menerima berkat dari Tuhan, kita harus bertanya, Tuhan ini untuk siapa? Bisa saja berkat itu bukan untuk kita atau keluarga kita, tetapi itu adalah titipan Tuhan untuk kita salurkan pada orang lain, seperti anak yatim piatu, janda, duda, dan lain-lain. Jadilah berkat untuk sesama kita.

e. Anak-anak Tuhan selalu hidup dalam pengharapan yang pasti. Bukan hidup untuk mengejar keinginan hawa nafsu. Hidup dengan iman yang realistis. Hal ini dapat menahan kita dari keinginan korupsi dan lain-lain. Cukupkan diri kita denga apa yang ada pada kita. Karena Tuhan memberi kepada kita secukupnya (Doa Bapa Kami).

Kiranya dari firman Tuhan yang kita baca di atas, kita mampu berefleksi sebagai anak-anak Tuhan yang tegas dan jelas, mencintai kebenaran dan keadilan, tidak kompromi dengan kejahatan, dengan demikian hidup kita akan diberkati dan menjadi berkat. Amin

 

Bishop I Nyoman Agustinus , M. Th (Gereja Kristen Protestan di Bali)


TERKAIT

Bersiap untuk Kedatangan Tuhan

Tuhan Bekerja dalam Setiap Pergumulan

SAMĀDHI BALA

Etos Kerja Orang Kristen