Ikhlas dan Upaya

"Kaya dan mulia itu firman tapi bagi yang mencari akan mendapatkan dan bagi yang menyia-nyiakan akan kehilangan".

Dalam kehidupan, manusia memiliki waktu harian yang sama, yaitu: 24 jam. Mereka juga menghirup udara yang sama, dan berpijak di atas bumi yang sama. Tetapi, mengapa ada yang menjadi orang kaya dan ada pula yang menjadi orang miskin?

Salah satu faktor mungkin karena terlahir dari keluarga kaya dan berkecukupan hingga memperoleh warisan ataupun melanjutkan usaha keluarganya. Mungkin ini bisa kita jadikan satu patokan salah satu faktor pencipta orang kaya.

Tetapi, ada pula orang yang memiliki latar belakang tidak terlahir dari keluarga kaya dan berada tapi bisa menjadi seorang kaya dan berada. Artinya, ada yang kaya sejak lahir dan ada pula yang karena berusaha maka menjadi kaya dan berada.

Ada pula yang sudah terlahir dari keluarga kurang berada, tapi hanya pasrah menerima keadaan tanpa mau berusaha untuk mengubahnya. Jadi, meski sama-sama memiliki latar belakang yang sama, terlahir dari keluarga kekurangan, tapi tidak memiliki masa depan yang sama karena memiliki pola pikir (mindset) yang berbeda yakni pola pikir orang miskin dan pola pikir orang sukses (kaya).

Ada fenomena keluarga susah makan atau miskin yang hidup dalam kekurangan dan ketidakmampuan. Mereka hidup dengan mengandalkan pemberian atau sumbangan, tidak mau berusaha lebih untuk memperbaiki kesejahteraan keluarganya. Apabila ditanya bagaimana bisa melewati kehidupan yang serba kekurangan selama ini? Jawabanya selalu dan pasti "Kami menerima dan menjalaninya dengan ikhlas. Kami hanya bisa berdoa kepada Tian agar diberikan kehidupan yang lebih baik lagi."

Sekilas jawaban ini terkesan agamis, tapi sebenarnya tidak. Sebab, ujian "miskin" tidak hanya diterima dan dijalankan, tapi harus menjadi sarana belajar. Dengan belajar dari apa yang dialami, kita dapat keluar dari situasi miskin itu.

Faktanya, ada juga orang yang berlatar belakang keluarga susah atau miskin, tapi selalu berusaha dan bekerja lebih giat demi memperbaiki kesejahteraan hidupnya. Mereka memiliki prinsip, "bila orang lain bisa beroleh kesejahteraan hanya dengan melakukan satu usaha, diri sendiri harus berani pula meraih kesejahteraan walau harus melakukannya seratus kali".

Mereka lalu memaksimalkan kemampuan dan mengeluarkan semua upaya untuk bekerja lebih giat. Adapun bagaimana hasilnya, mereka selalu menyerahkannya kepada Firman Tian (ikhlas). Mereka akhirnya bisa berhasil dan sejahtera.

Dari fenomena kehidupan dua keluarga di atas, bisa kita dapati dua kata kunci: "ikhlas" dan "upaya". Keluarga pertama ikhlas menerima kemiskinan dan kekurangan tetapi tidak menjadikan kemiskinan tersebut sebagai sarana belajar dan motivasi untuk berusaha lebih dalam upaya untuk keluar dari kemiskinan. Sedangkan keluarga kedua menjadikan kemiskinan sebagai sarana belajar untuk lebih memotivasi diri hingga lebih berupaya dan lebih ngotot dalam berusaha dan selalu ikhlas dalam setiap doa. Jadi wajar saja bila keluarga kedua bisa lebih sejahtera dan keluar dari kemiskinan lebih cepat dari pada keluarga pertama.

Pada hakikatnya, kalau kita hanya ikhlas menerima, tapi tidak mau belajar, maka kemiskinan itu tetap akan melekat. Jadi ada dua kata yang perlu digarisbawahi, yaitu "ikhlas" dan "upaya".

"Ikhlas" itu bentuk dari kepasrahan (pasif dan sifatnya Yin). Ini dilakukan ketika berdoa. Tidak memaksa, hanya ikhlas melepaskan dalam untaian kata doa. Sedang "upaya" (aktif bersifat Yang) tidak kendor, ngotot dan lakukan sekuat tenaga, lakukan yang optimal sebagai upaya manusia.

Maka ketika berupaya, jangan bilang ikhlas karena itu sama artinya dengan saya merelakan rejeki saya diambil orang, saya mengikhlaskan kesempatan ini buat orang lain. Tapi harus ngotot sekuat kemampuan dan sekuat tenaga. Lakukan ini dalam kerja di siang hari.

Malamnya, ikhlaskan, serahkan pada Tian, segala upaya yang dilakukan di siang hari, sebagai sajian persembahan wujud bakti kita kepada-Nya. Jadi jangan sampai terbalik di dalam upaya dan doa. Sebab, kegagalan sering kali terjadi ketika: dalam upaya malah ikhlas (pasif), dalam doa malah ngotot memaksa (aktif). Yang harus dilakukan ialah, aktif (ngotot) dalam upaya, dan pasif (iklhas) ketika berdoa.

Milikilah selalu semangat 'Bekerja setangkas mungkin sambil berhemat. Carilah di luar diri. Akan hasilnya berserah kepada Firman Tian'. Dengan jalan ini yakin kita akan memiliki kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia.

Semoga kita semua dimampukan untuk menjadi dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Shanzai

 

Martin (Rohaniwan Konghucu)