Imamat Umum Pengikut Kristus

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Hari ini, Gereja Semesta merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Biasanya, bahkan sudah menjadi tradisi, pada hari raya ini diadakan penerimaan komuni pertama.

Pada pesta Tubuh dan Darah Kristus ini, kita mengenangkan secara khusus kehadiran Yesus di dalam Ekaristi Mahakudus. Perayaan Ekaristi adalah perayaan keselamatan yang kita terima dari Tuhan, puncak dari perayaan iman kita. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan dengan baik.

Kutipan Injil Lukas hari ini kiranya menjadi inspirasi bagi kita dalam rangka menghayati imamat umum kita kaum beriman. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita memiliki panggilan imamat umum yang harus dihayati di dalam hidup sehari hari. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil menjadi penyalur rahmat/berkat Allah kepada umat manusia dan ciptaan Allah lainnya terutama bagi umat yang miskin dan berkekurangan, lapar dan haus dalam berbagai kebutuhan hidup sehari-hari.

Apa yang kita miliki dan nikmati sampai saat ini adalah anugerah Allah, yang harus kita bagikan kepada siapa pun. Aneka rahmat yang kita terima merupakan usaha yang kita lakukan sekaligus buah kerja keras kita, tetapi pertama-tama dan terutama merupakan kemurahan hati Allah. Oleh karena itu, layaklah kita juga bermurah hati dengan memperhatikan siapa pun, tanpa pandang bulu, latar belakang, bahasa, suku asal, dan sebagainya.

Harapannya, dengan semakin kaya, pandai, cerdas, terampil, tua, berpengalaman, kita pun semakin bersyukur dan berterima kasih atau rendah hati. Sepertinya kita perlu berilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Bermurah hati dengan rendah hati sungguh merupakan tindakan atau perilaku yang terpuji, mulia, dan memesona. Kita semua kiranya memiliki pengalaman iman selama berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi, puncak iman dan ibadat Gereja.

Kita semua mengalami kebersamaan hidup yang indah, duduk sama tinggi berdiri sama rendah, bersama-sama berdoa dan bernyanyi; saling menyampaikan damai sejahtera Allah dan sama-sama menerima Tubuh Kristus. Rasanya kemurahan hati dan kerendahan hati, hidup, dan menjiwai kita semua selama berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi. Baiklah sebagaimana di akhir Perayaan Ekaristi kita menerima ajakan pengutusan, “Marilah pergi, kita diutus”, marilah dalam kepergian dan sepak terjang kita di mana pun dan kapan pun, kita senantiasa bermurah hati, menyalurkan rahmat/berkat Allah kepada sesama dengan rendah hati dan tulus ikhlas.

Secara formal, Sakramen Ekaristi mengulang kembali upacara perjanjian Allah dengan umat-Nya melalui menerima dan makan Ekaristi sebagai lambang tubuh dan darah-Nya. Kiranya setiap kali menerima komuni, kita kembali menyatakan komitmen untuk lebih setia dan mengasihi Dia yang sudah lebih dahulu setia dan mengasihi kita. Kita juga perlu menyiapkan diri untuk menyambut kehadiran-Nya dalam rupa tubuh dan darah dalam Komuni Kudus. Dengan demikian penyelamatan Tuhan sungguh hadir dalam seluruh karya, hidup, dan kehidupan kita.

Ya Tuhan, terima kasih atas Tubuh dan Darah-Mu yang aku terima dalam Ekaristi. Buatlah aku selalu pantas menyambut-Mu dan setia dalam kasih-Mu, amin.

 

Baron Ferryson Pandiangan, S.Ag., M.Th. (Pembimas Katolik Kanwil Kemenag Provinsi Aceh)