In Memorium Andi Rasdiyanah, Rektor dan Dirjen Perempuan Pertama di Kemenag 

Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah, tokoh pengabdi pendidikan, ulama perempuan dan penulis yang juga penyair telah kembali kepada Khaliqnya, Kamis 19 Januari 2023. Ia wafat di Makassar pada usia 88 tahun. Sebagian besar umurnya di-darmabaktikan di dunia pendidikan dan mengajarkan ilmu pengetahuan agama, di samping kegiatan kemasyarakatan lainnya. Dunia pendidikan tinggi Islam Indonesia dan keluarga besar Kementerian Agama kehilangan salah seorang tokoh terbaiknya. 

Sebuah memori di masa almarhumah masih hidup. Suatu kebahagiaan bila dalam kunjungan kerja ke daerah saya bisa mampir silaturahmi kepada tokoh senior yang dihormati dan sesepuh yang berjasa bagi Kementerian Agama. Hari itu, di tahun 2018 saya ke Makassar sempat mampir mengunjungi kediaman Ibu Andi Rasdiyanah, mantan Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama tahun 1993 sampai dengan 1996. Sejak purnatugas beliau menetap di kota Makassar. Saya pertama kali bertemu secara langsung dan rupanya sekaligus perjumpaan terakhir. Ibu Andi Rasdiyanah senang sekali dikunjungi dan berbincang seputar perkembangan positif Kementerian Agama yang sudah lama ditinggalkan. Saat itu beliau kirim salam untuk para pimpinan Kementerian Agama di Jakarta.

Saat itu Ibu Andi Rasdiyanah sudah berusia 84 tahun, namun masih sehat dan masih bisa mengajar sebagai guru besar emeritus di UIN Alauddin. Bangsawan Bugis-Makassar itu di usia lanjutnya sehari-hari bertugas sebagai dosen tidak tetap pada Prodi S2 Ilmu Hadis Pascasarana UIN Alauddin Makassar. 

Saya diberi kenang-kenangan buku karya beliau. Pesan Ibu Andi Rasdiyanah, sebagai pejabat agar selalu menjaga integritas dalam setiap langkah. “Jangan sampai menjadi bahan pembicaraan yang tidak baik di belakang kita.” ucapnya.  

Andi Rasdiyanah lahir di Bulukumba Sulawesi Selatan pada 14 Februari 1935. Pada masa kecilnya menempuh pendidikan dasar dan lanjutan pertama pada Muallimat Muhammadiyah di Bulukumba. Ia melanjutkan pendidikan pada Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta (1954-1963). Kemudian masuk Sekolah Persiapan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta tahun 1956, meraih gelar BA dan Doctoral dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1963), dan Pendidikan Doktor di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1982). 

Karir di perguruan tinggi sebagai Pembantu Rektor I (Wakil Rektor) IAIN Alauddin Makassar (1967 - 1970), Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin (1972 - 1980), Wakil Rektor III IAIN Alauddin (1980-1985), dan Rektor IAIN Alauddin, (1985 – 1993, dua periode). Ia kemudian ditarik ke Jakarta, dan dipromosikan menjadi Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama tahun 1993 sampai dengan  1996. 

Pada tahun 1995 dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Ilmu Hadis pada Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin dan pernah menjadi Ketua Dewan Guru Besar IAIN (UIN) Alauddin Makassar. Ia pernah mengemban amanah sebagai Direktur Program Pascasarjana IAIN Alauddin (1996 – 2003, dua periode) dan Ketua Program Studi pada Program Pascasarjana UIN Alauddin (2005 – 2010).

Andi Rasdiyanah adalah rektor perempuan pertama memimpin Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Indonesia. Ia dilantik oleh Menteri Agama H. Munawir Sjadzali, MA pada tahun 1985. Ketika terpilih sebagai Rektor IAIN Alauddin, ia belum mencapai gelar Guru Besar, namun kemampuan akademik dan kepemimpinannya tidak diragukan.  

Srikandi pendidikan dari daerah Indonesia Timur itu semasa muda ditempa melalui organisasi sebagai kader Nasyiatul Aisyiyah serta aktivis PII dan HMI Cabang Yogyakarta. Menikah dengan Amir Said tahun 1962 dan dikaruniai enam orang anak. Dalam perjalanan karirnya di kampus maupun di birokrasi Andi Rasdiyanah membuktikan diri seorang yang berwasasan nasional, menghargai kebhinekaan dan berprinsip. 

Dalam otobiografi 75 Tahun Prof. Dr. Amir Syarifuddin (mantan Rektor IAIN Imam Bonjol Padang) diceritakan bahwa Menteri Agama Dr. H. Tarmizi Taher pada waktu itu dalam pertemuan dengan alim ulama dan tokoh masyarakat Minangkabau di Bukittinggi sekitar tahun 1993 menyampaikan dalam pidatonya, “Jabatan Dirjen Binbaga Islam biasanya diisi oleh orang IAIN, kalau tidak Rektor yang masih aktif atau mantan Rektor. Kalau yang pantasnya Pak Amir (maksudnya Prof. Dr. Amir Syarifuddin, pen) inilah yang saya tunjuk menjadi Dirjen. Bagaimana mungkin saya yang orang Padang yang baru menjadi Menteri Agama menunjuk Pak Amir, apa kata orang nantinya?” Tarmizi Taher memutuskan untuk mengangkat Dra. Hj. Andi Rasdiyanah, Rektor IAIN Alauddin Makassar, sebagai Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Sejak tahun 2005 Direktorat Jenderal Binbaga Islam diubah nomenklaturnya menjadi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. 

Andi Rasdiyanah adalah perempuan pertama yang diamanahi tugas sebagai pejabat eselon satu dalam hal ini Direktur Jenderal di Kementerian Agama. Selama 4 tahun menjabat Dirjen Binbaga Islam cukup banyak karya dan legasinya yang bermanfaat kepada umat, bangsa dan dunia pendidikan Islam di tanah air dalam menjawab tantangan masa depan di masa itu. Segala kemajuan yang dicapai oleh Kementerian Agama saat ini tidak terlepas dari andil dan kontribusi para pendahulu yang telah berbuat di masanya. 

Setelah menjabat di Kementerian Agama (dahulu Departemen Agama) sampai batas usia pensiun sebagai pejabat struktural tahun 1996, ia mengabdi kembali di kampung halamannya Sulawesi Selatan hingga akhir hayat. 

Andi Rasdiyanah dikenang sebagai profil seorang ibu yang sukses membina keluarga, sukses mencapai puncak karir tertinggi sebagai akademisi di kampus, sukses sebagai birokrat penggerak kemajuan bagi lingkungan organisasi dan pemangku kepentingan, dan sebagai muslimah yang hidupnya bermanfaat bagi umat dan masyarakat luas.  

Sejumlah karya tulis dihasilkannya sejak muda hingga berusia lanjut, di antaranya karya sastra dan puisi. Karya sastranya semasa muda dimuat di Majalah Panji Masyarakat yang terbit di Jakarta. Publikasi ilmiahnya yang cukup populer berjudul Bugis Makassar Dalam Peta Islamisasi Indonesia, Kumpulan Puisi Al-Quran dan lain-lain.
Pada acara peluncuran buku Refleksi 75 Tahun Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah – Meneguhkan Eksistensi Alauddin, tahun 2010, ia mengungkapkan bahwa harta yang dimilikinya berupa uang, emas, rumah merupakan harta yang akan habis dan tidak akan kekal. Sementara, tulisan berupa buku merupakan harta yang abadi dan akan menjadi pegangan bagi anak cucunya.

Semoga Allah Swt melimpahi arwah almarhumah dengan rahmat dan ridha-Nya serta menempatkannya di surga yang terindah. Mudah-mudahan banyak generasi penerusnya.


M. Fuad Nasar (Pemerhati Sejarah Kementerian Agama, mantan Sesditjen Bimas Islam. Saat ini Kepala Biro AUPK UIN Imam Bonjol Padang).