Ini Tujuh Program Kemenag Tingkatkan Kualitas PTKI

Babel (Kemenag) --- Upaya meningkatkan kualitas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) terus dilakukan Kementerian Agama. Apalagi, tingkat kepercayaan publik ke PTKI semakain tinggi. Minat mahasiswa untuk kuliah di perguruan tinggi binaan Kemenag juga terus bertambah.

Sekjen Kemenag Nizar Ali mengatakan bahwa kepercayaan masyarakat menjadi amanah yang harus disikapi dengan menghadirkan layanan pendidikan PTKI yang bermutu, serta adaptif dan relevan dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat.

“Akan hal ini, dibutuhkan kepemimpinan PTKI yang adaptif dan responsif dengan berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan tinggi saat ini,” kata Nizar saat menjadi narasumber pada pembinaan pegawai dan wawasan kebangsaan bagi ASN, Mahasiswa dan Alumni IAIN SAS Babel, Rabu (7/9/2022).

Dalam rangka mendukung peningkatan kapasitas PTKI, lanjut Nizar, Ditjen Pendidikan Islam telah merumuskan tujuh program strategis yang disebut dengan Sapta Program. Pertama, pendirian Lembaga Akreditasi Mandiri. Pendirian LAM didasarkan pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 pasal 55, ayat 5, 6, 7 dan 8. 

“Ditjen Pendis telah menginisiasi Pendirian LAM Keagamaan sejak tahun 2017. Tahun 2021 ini LAM Keagamaan akan berdiri,” ujarnya.

Kedua, penguatan Rumah Moderasi Beragama (RMB) dan Ma’had Al-Jami’ah. RMB diperkuat untuk merevitalisasi peran PTKIN dalam tiga bidang, yakni: pusat kajian moderasi beragama, konselor FKUB, serta Diklat Moderasi beragama bagi civitas akademika, ASN guru, pengawas Kemenag Provinsi/ Kab/kota dan ASN Pemprov/Pemkab. “Sedangkan Ma’had al-jami’ah difungsikan untuk mengawal implementasi integrasi ilmu pada PTKIN, dengan penekanan taaruf fiddin dan tafaqquh fiddin,” jelasnya.

Sekjen Kemenag Nizar saat foto bersama dengan Civitas Akademika IAIN SAS Babel

Ketiga, redesain pembinaan kemahasiswaan. Pemberdayaan kaderisasi kemahasiswaan dilaksanakan melalui pendidikan dan pelatihan secara sistematis dan berjenjang (prodi, fakultas, universitas, dan tingkat nasional), dimulai dari diklatpimda hingga diklat pimnas. Selain itu pembinaan juga diarahkan pada penguatan akademik dan non akademik, bakat dan minat serta penguatan networking.

Keempat, Redesain Kurikulum. Upaya ini dimulai dengan evaluasi implementasi integrasi ilmu melalui pemberdayaan Ma’had Al-jami’ah. “Di samping juga mengadaptasi Konsep Kampus Merdeka, Merdeka Belajar,” sebutnya.

Kelima, Grand Design Pengembangan PTKI. Grand Desain (GD) merupakan cetak biru pengembangan PTKI dalam berbagai aspeknya. Tatakelola PTKI akan dikembangkan dengan mengacu pada Grand desain tersebut. GD ini antara lain meliputi pengembangan kelembagaan, infrastruktur dan SDM.

Keenam, Program Double Degree. Program ini bersifat opsional, yaitu untuk PTKI dengan PTU atau PTKI dengan PT diluar negeri. Program ini akan memberikan peluang kepada alumni PTKI agar memiliki daya saing nasional dan Internasional. 

Ketujuh, Pembentukan Cyber Islamic University (CIU). Mendorong pembentukan CIU dengan ystem daring dan dimandatkan kepada PTKIN tertentu. Dimulai melalui piloting prodi terbuka yang memberikan akses Pendidikan tinggi bidang keislaman serta afirmasi kepada Guru madrasah/Sekolah daljab yang belum sarjana dan alumni Pendidikan menengah atas yang tidak terserap di kampus regular. 

“CIU juga dirancang untuk rintisan kampus digital (smart campus),” tandasnya.