Islam Bicara Body Shaming

Selain bullying, ada istilah yang belakangan muncul di linimassa, yaitu Body Shaming. Sebagian kita mungkin sudah mengerti apa itu Body Shaming? Atau jangan-jangan malah tanpa sadar menjadi pelakunya?

Body Shaming itu perilaku yang dibilang buruk, yaitu mengomentari kekurangan fisik orang lain. Ada kalanya dilakukan atas kesadaran penuh, meski banyak pula tanpa sadar melakukannya. Latar belakang Body Shaming beragam, bisa karena basa-basi, bercanda kelewatan, atau hanya sekedar untuk mencairkan suasana dalam sebuah obrolan. Padahal, sebenarnya kebiasaan buruk ini tidak baik karena menyakiti hati orang lain.

Coba deh kamu cermati, ada grup lawak di TV (media) yang memainkan Body Shaming sebagai cara untuk mengundang tawa penonton. Mungkin di awal-awal terasa lucu dan menimbulkan tawa  lepas. Tapi, lama kelamaan bikin boring, bahkan jengkel karena seperti kekurangan bahan lelucon. 

Ada juga aktor hiburan yang mencoba memainkan "kekurangan" sekaligus "kelebihan" fisiknya sebagai cara mengundang tawa. Dia sangat bangga dengan bentuk fisiknya, sehingga dia lakukan "kapitalisasi" untuk mencari popularitas dan rejeki. Sadarkah kita bahwa meski dia "mengolok-olok" dirinya sendiri, tapi tanpa sadar penonton dibawa arus perilaku Body Shaming kepada orang yang memiliki bentuk fisik sama dengannya.

Karena cara dia bercanda disiarkan melalui media publik, tanpa disadari telah membentuk watak publik untuk membiasakan perilaku Body Shaming. Ya, kalau hanya ditujukan kepada yang bersangkutan sebagai objek sih tidak masalah, tapi bagaimana dengan orang lain yang memiliki bentuk fisik yang sama, mirip, atau serupa. Tentu mereka akan tersingung, marah, minimal sakit hati.

Kita mesti tahu, Body Shaming itu bisa dipastikan berdampak langsung maupun tidak pada orang yang dikomentari. Setidaknya ada beberapa dampak psikologis, sosiologis, bahkan teologis dari perilaku Body Shaming loh.

Secara psikologis, Body Shaming bisa berdampak langsung pada "korban". Apalagi dipermalukan di hadapan publik. Korban bisa kehilangan kepercayaan diri (PD) saat berinteraksi dengan orang lain. Komentar negatif terhadap fisik orang lain bisa membuat kepercayaan diri korban berkurang. Bahkan, bisa berpengaruh buruk dan mengendap dalam waktu yang sangat panjang. Bukan tidak mungkin dia akan mengurung diri karena stress dan merasa "insecure" terhadap penampilan fisiknya. 

Coba kamu bayangin, jika ada seseorang yang memiliki bobot lebih (over-weight), lalu di depan banyak orang atau di  medsos, dibilang "bagong" atau "gembrot". Kalau yang kurus dibilang "belalang" kurang gizi. Bahkan karena tidak suka terhadap seseorang, lalu dibilang "muka jelek dan pesek".

Satu hal yang justru merugikan bagi pelaku Body Shaming adalah memperlihatkan bahwa dirinya nampak tidak smart, dan tidak matang (maturity). Pelaku dengan mudah diketahui sebagai pribadi yang tidak hangat dan tidak menyenangkan. Tahu kan kamu bagaimana rasanya menghadapi orang yang menyebalkan?

Lalu bagaimana dampak sosial Body Shaming? Bagi korban akan merasa malu dan bisa jadi akan mengasingkan diri dari lingkup sosialnya. Pada titik tertentu, dia bisa berbuat nekat, seperti bunuh diri misalnya, na'udzu billah. Tekanan batin yang dia rasakan akan berdampak pada hubungan sosial, akan terjadi permusuhan, bahkan pertengkaran (baku hantam). Betapa banyak orang yang tega membunuh orang lain, gegara Body Shaming. 

Yang lebih mengkhawatirkan justru dampak teologis bagi pelaku Body Shaming itu sendiri. Kita sadar, tidak ada manusia yang tercipta sempurna, meski manusia dicipta sebagai makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk lain. Artinya, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, kita adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Jika ada seseorang yang kekurangan fisik, semisal (maaf) hidung pesek, mulutnya maju, dan lain-lain, itulah karya Tuhan. Jadi, orang yang kamu ejek itu ciptaan Tuhan, dan mengejeknya berarti kamu ikut mencela ciptaan-Nya yang secara teologis merusak keyakinan (akidah).

Hukum Body Shaming?

Sebagaimana perilaku Bullying, Body shaming bisa disebut sama kejamnya. Artinya, mengomentari kekurangan fisik orang lain bisa dikategorikan perilaku Bullying. Meski kamu tidak melakukan kontak fisik yang merugikan, namun apa yang kamu lakukan sudah termasuk Bullying secara verbal. Bahkan, tindakan ini lebih kejam karena sangat bisa mempengaruhi pembentukan karakter seseorang.

Pandangan Islam jelas, Body Shaming itu masuk kategori haram karena bisa merusak persaudaraan. Bukankah kita harus saling menghormati. Memang manusia di dunia ini tidak ada yang sama dari sisi penciptaan, minimal sidik jarinya beda. Orang yang mirip identik sekalipun, secara fisik tidak sama persis. Karenanya, Islam menekankan pentingnya kita menerima apapun "bentuk" manusia sebagai sebuah realitas ciptaan Tuhan yang patut dihargai.

Allah dalam Al-Quran menjelaskan: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS: Al-Hujurat: 13)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda, bersuku bangsa, yang pastinya berbeda warna kulit, rambut, mata, hidung, dan bentuk tubuh. Atas keragaman itu, Tuhan meminta kepada kita untuk saling memahami, saling mengenal, dan tidak saling menghina. 

Manusia memiliki kemuliaan dengan akal dan hatinya. Akal seharusnya digunakan manusia untuk berfikir sebelum berbicara dan menulis. Demikian juga hatinya digunakan untuk menimbang rasa, apakah sikap dan perilaku kita menyakiti hati sesama atau tidak. Tiada makhluk yang paling mulia selain manusia yang memanfaatkan akal dan hatinya dengan baik dan benar.

Tertawa lepas melalui Body Shaming mungkin bagi sebagian orang menjadi kepuasan diri. Tapi mesti diingat, bahwa perbuatan itu bisa membuat orang lain sakit hati. 

Jauhi Body Shaming karena itu tidak terpuji dan pada akhirnya akan membuat kamu menyesal. Apalagi, jika korban tidak mau memaafkan. Na'udzu billah []

Thobib Al-Asyhar
(Penulis Buku Remaja Fikih Gaul, Dosen SKSG Universitas Indonesia)