Jadilah Orang Religius

Appam pi ce sahitam bhasama no, dhammassa hoti anudhammacari, ragan ca dosan ca pahaya moham, sammappajano suvimuttacitto, anupadiyano idha va  huram va, sa bhagava sa mannassa hoti. Biarpun seseorang sedikit membaca Kitab Suci, tetapi berbuat sesuai dengan Ajaran, menyingkirkan nafsu indria, kebencian, dan ketidaktahuan, memiliki pengetahuan benar dan batin yang bebas dari nafsu, tidak melekat pada apapun baik di sini maupun di sana; maka ia akan memperoleh manfaat kehidupan suci.(Dhammapada, Syair 20)

Dalam kehidupan sehari-hari kata religius sudah tidak asing kita dengar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata religius memiliki arti bersifat religi; bersifat keagamaan; yang bersangkut-paut dengan religi.

Sebagai negara yang religius, Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar negara dan simbol pemersatu bangsa yang sangat plural ini. Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi dasar penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara serta mengilhami empat sila lainnya sebagai cita-cita bangsa dan negara Indonesia.

Untuk itu, umat beragama diharapkan dapat mengejawantahkan nilai-nilai religius di masing-masing agama sesuai nilai-nilai universal sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain memiliki pengetahuan akan agama dan kepercayaan yang diyakininya, umat beragama diharapkan pula dapat menerapkan nilai-nilai agama dan kepercayaannya dalam kehidupan ini.

Bagi umat Buddha, Dhamma menjadi sumber nilai ajaran Buddha dalam menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Inti ajaran para Buddha adalah tidak melakukan kejahatan, meningkatkan kebajikan dan memurnikan batin sendiri.

Ada tiga tahapan mempelajari Dhamma, yaitu: belajar teori dengan tekun (pariyatti dhamma), praktik dalam kehidupan sehari-hari (patipatti dhamma) dan hasil penembusan setelah belajar teori dan praktik dalam kehidupan sehari-hari (pativedha dhamma).

Tahapan mempelajari Dhamma memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa Guru Agung Buddha telah mendorong para Bhikkhu dan murid-murid-Nya untuk tekun belajar dan penuh semangat mempraktikkan Dhamma yang telah Beliau ajarkan agar dengan upaya sendiri mereka dapat melihat, menembus, dan mengalami sendiri apa yang telah Buddha ajarkan.

Buddha adalah sosok Guru Agung yang mengajarkan apa yang telah dipraktikkan dan yang mempraktikkan apa yang telah diajarkan. Buddha menjadi sosok panutan dan inspirasi bagi umat Buddha untuk tekun mempelajari Dhamma.

Untuk menjadi orang religius, tidak cukup hanya dengan mengetahui teori Dhamma semata, tetapi juga hendaknya dapat mempraktikkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari sehingga pada akhirnya dapat menembus dan membuktikan sendiri ajaran para Buddha.

Dalam diri manusia, ada tiga macam kotoran batin yang hendaknya dapat dilihat, disadari, dan berusaha dipadamkan, yaitu: keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha). Tiga macam kotoran batin ini sering pula disebut sebagai tiga macam akar kejahatan. 

Apabila tiga akar kejahatan ini dapat dilihat, disadari, dan dipadamkan melalui tiga tahapan mempelajari Dhamma, maka seseorang akan menjadi orang religius yang terkendali dalam ucapan, pikiran, dan perbuatannya.

Sikap hidup seorang yang religius akan tercermin pada implementasi kemurahan hati (dana), moralitas (sila), konsentrasi (samadhi), dan kebijaksanaan (panna) dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Sungguh sulit dan sangat berharga untuk dapat terlahir sebagai manusia. Untuk itu gunakanlah setiap kesempatan dalam hidup ini untuk tidak melakukan kejahatan, meningkatkan kebajikan dan memurnikan batin sendiri.

Jadilah orang religius dalam hidup ini. Semoga semua makhluk berbahagia.

 

Caliadi (Dirjen Bimas Buddha)