Jangan Takut, Sebab Kita Beroleh Kasih Karunia

Perjumpaan Malaikat (Gabriel) dengan Maria diawali dengan perkataan "Jangan Takut". Mengapa demikian? Karena di zaman itu tidak lazim untuk orang biasa didatangi oleh Malaikat, hanya orang-orang tertentu dan khusus (keturunan Imam) saja. Dan jika didatangi oleh Malaikat, itu artinya hanya dua pesan yang akan disampaikan yaitu Kabar Sukacita (Kehidupan) atau Kabar Buruk (Kematian).

Apakah yang melatarbelakangi perkataan malaikat di atas? Pada mulanya Allah hidup bersama dengan manusia pertama (Adam) di Taman Eden penuh dengan kemuliaan, kekudusan, kelimpahan, kesehatan, sukacita dan penuh damai, tanpa adanya ketakutan. Sampai suatu ketika, manusia itu melanggar perintah Allah di Taman Eden (makan buah terlarang). Maka manusia itu jatuh dalam dosa dan akibat dosa adalah penghukuman.

Dosa membuat manusia menjadi takut, takut akan penghukuman. Maka Manusia itu (Adam) bersembunyi…. Kejadian 3:10 :  Ia (Adam) menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." Di situlah pertama kali muncul kata 'takut' (Rasa/kondisi) yang selanjutnya menguasai kehidupan manusia di bumi. Allah tidak pernah menciptakan rasa takut dan Allah juga tidak ingin manusia dikuasai oleh ketakutan.

Oleh karena itu, Malaikat datang kepada Maria dan berkata "Jangan Takut". Pesan yang sama juga disampaikan kepada Gembala-gembala di padang. Dalam Lukas 2:10 dijelaskan: Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa".

Itulah yang menjadi pesan Natal 2022 dan Tahun Baru 2023. Yaitu, Jangan Takut. Sebab, kita beroleh Kasih Karunia karena ada Kesukaan Besar untuk seluruh bangsa. Yaitu, hadirnya Juruselamat Dunia yang akan menyelesaikan dosa manusia (kita) dengan cara menjadi terhukum (salib). Sehingga, manusia bisa terbebaskan dari ketakutan dengan jalan mempercayai dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat satu-satunya.

Sejak bayi lahir, manusia sudah membawa dua rasa takut, yaitu takut akan suara keras dan takut jatuh. Dengan bertumbuhnya manusia menjadi dewasa, maka bertambah juga rasa takut itu menjadi kurang lebih 7.000 rasa takut (takut mati, gagal, ditolak, miskin, sakit, dan lainnya). Oleh karena itu, tragedi dalam kehidupan manusia bukanlah kematian, karena pada akhirnya semua manusia akan mati atau diangkat ke Surga (pengangkatan), melainkan rasa takut itu sendiri.

Yesus Kristus datang ke dunia bukan hanya menghilangkan rasa takut (akibat dosa) melainkan Ia menyelesaikan/membayar dosa (akar ketakutan) manusia. Sehingga, manusia yang percaya kepadaNya pasti beroleh kemerdekaan dari ketakutan, pengharapan, kepastian, kekuatan, kesehatan, kelimpahan, kemenangan dan hidup di bawah Kasih Karunia, bukan penghukuman lagi seperti yang awal di Taman Eden.

Hal ini dengan jelas tertulis pada Roma 8:1-2 : Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Roma 6:14 : Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Faktanya, masih banyak anak Tuhan yang hidup dibelenggu dan dikuasai oleh ketakutan. Terlebih lagi kini telah memasuki Tahun Baru 2023, kita mendengar banyak berita negatif dan menakutkan, bahwa ini adalah tahun yang gelap, sulit, banyak negara bangkrut dilanda resesi dan akan ada banyak lagi yang menyusul, serta kabar lainnya.

Bagaimana menyikapi dan merespon agar perkataan Malaikat itu kita alami di saat ini, seperti yang dialami oleh Maria?

Maria adalah sosok wanita yang dipilih oleh Allah untuk beroleh kasih karunia di antara wanita yang pernah ada di bumi ini baik sebelum atau sesudahnya. Dari rahimnya, hadir Juruselamat dunia, yaitu Yesus Kristus yang disebut Immanuel. Dia datang ke dunia bukan untuk menjadi Raja melainkan sebagai Raja di atas segala raja.

Tahukah anda bahwa jikalau saat ini kita bisa menjadi orang percaya/anak Tuhan itu karena Dia yang pilih kita, bukan kita yang pilih Dia. Ini seperti tertulis di Yohanes 15:16: Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Jadi, Dia yang sudah memilih kita sejak semula untuk memberikan kasih karunia-Nya agar kita berbuah, bukan untuk menghukum kita. Karena itu, mari respon pilihan Tuhan atas hidup kita seperti Maria merespon perkataan Malaikat itu.

Mari kita belajar dari cara Maria merespon kedatangan Malaikat yang membawa kabar baik dan memberikannya Kasih Karunia (Lukas 1:30-38)

1. Maria percaya akan pesan Allah melalui Malaikat.

Pesan Malaikat bahwa Maria akan mengandung. Tapi bagaimana mungkin, Maria belum menikah?

Maria tetap percaya akan pesan itu, sekalipun faktanya tidak mungkin. Maka terjadilah semua yang dipesankan oleh Malaikat (Gabriel).

Mungkin dunia mengatakan dan memprediksikan bahwa 2023 adalah tahun gelap, resesi, banyak kebangkrutan, penganguran, sakit penyakit, kehancuran dan kemunduran. Tapi saat ini, Tuhan berkata Jangan Takut. Sebab kita yang sudah dipilihNya beroleh kasih karunia (kebaikan, kemurahan, kuasa dan kemampuan Tuhan yang luar biasa yang membuat kita menang akan keadaan, situasi dan kondisi apapun).

Manakah yang kita mau percaya? Fakta, kenyataan, keadaan, perkataan dunia, vonis dokter, atau Firman Tuhan? Fakta tidak bisa mengubah Firman Tuhan. Sebaliknya, Firman Tuhan lah yang dapat mengubah fakta. Percayailah Firman Tuhan lebih dari apapun di dunia ini, sekalipun kadang itu tidak masuk akal/logika atau berbeda dengan pengalaman dan lainnya.

2. Maria Berani Mengambil Risiko. Beberapa risiko yang harus dihadapi oleh Maria, antara lain:

Pertama, di zaman itu, jika diketahui bahwa ada wanita yang hamil tanpa suami, maka itu adalah aib/sial bagi orang/keluarga yang tinggal di sekitarnya. Hukumannya, orang-orang saat itu diperbolehkan melempari wanita itu sampai mati.

Kedua, Yusuf tunangan Maria saat itu ingin meninggalkan Maria karena Maria sudah mengandung terlebih dahulu.

Ketiga, Maria dan Yusuf harus lari bersembunyi ke Mesir karena Herodes ingin membunuh bayi Yesus.

Keempat, Maria kehilangan impiannya karena harus mengandung bayi Yesus. Sekalipun banyak risiko yang harus dihadapi, tapi Maria berani untuk menghadapinya.

Seringkali kita tidak berani mengambil risiko untuk Firman Tuhan/Kebenaran yang Tuhan sudah nyatakan kepada kita. Kita tidak berani melangkah, tidak mau mengampuni, takut gagal, nanti apa kata orang, kompromi dengan dosa, takut dikucilkan, dan lainnya. Pada waktu kita berani mengambil risiko (keluar dari kenyamanan) berdasarkan perintah Tuhan/Firman Tuhan, maka Roh Kudus yang akan menolong, mendampingi dan menjamin bahwa kita pasti mengalami apa yang telah di FirmankanNya.

Itu seperti dijelaskan pada Lukas 1:35: "Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Lukas 1:37 : Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil."

3. Maria Berserah. Dalam mengahadapi semua halangan rintangan, sebagai orang yang telah dipilih Allah, Maria tidak bergantung dan mengandalkan kekuatan, kemampuan, skill, dan lainnya. Maria berserah total kepada Allah yang telah memilihnya.

Ini seperti tertulis pada Lukas 1: Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia. Pada waktu Maria berserah penuh kepada Allah (sesuai pesan malaikat), maka Dialah yang menuntun, mengerjakan, serta melindungi Maria dan keluarganya.

Apapun yang akan kita hadapi dan lewati di Tahun 2023, harus membuat kita berserah dan bergantung sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus dan Firman-Nya

Kesimpulannya, jangan biarkan diri dan hidup kita sebagai anak Tuhan dibelenggu dan dipenjarakan oleh ketakutan. Sebab, akar dari ketakutan, yaitu dosa, sudah dibayar lunas oleh Yesus Kristus di atas kayu salib. Sehingga membuat kita tidak bisa dikuasai dosa lagi, bebas dari penghukuman dan hidup di bawah kasih karunia.

Respon pilihan Tuhan yang telah memilih kita jadi anak-anakNya untuk hidup dalam kasih karunia-Nya, yaitu dengan mempercayai Firman-Nya sekalipun sulit untuk dipahami/dimengerti terlebih lagi berbeda dengan fakta/keadaan. Selain itu, kita harus berani ambil risiko untuk melakukan Firman Tuhan, apapun nanti akibatnya. 

Risiko yang timbul oleh karena melakukan Firman-Nya itu lebih kecil/ringan daripada tidak melakukan Firman-Nya. Pada waktu kita sudah memutuskan sesuatu oleh karena Firman Tuhan yang mengatakan/menyuruhnya, maka kita harus terus berserah, bukan menyerah sampai apa yang Allah janjikan itu digenapi (terjadi) dalam hidup kita.

Jangan takut. Sebab, kita beroleh kasih karunia untuk memasuki dan berhasil di tahun 2023.

Pdt. Gerry Pakke, BBM, MACM (Gembala Gereja Betania Fresh Anointing (BFA) Jogja, Solo, Gunungkidul & Ambon, serta KETUA 1 Sinode Gereja Betania Urapan Baru atau GBUB)