Janji

Wei De Dong Tian. Saat ini, janji sering digunakan sebagai bumbu pergaulan. Kalangan pengusaha yang bertransaksi, politisi yang sedang berkampanye, bahkan orang tua ketika membujuk anaknya, sering melontarkan janji. Ada yang konsisten dengan janjinya dan berupaya memenuhi. Namun, tidak sedikit yang ingkar dan menganggap hanya senda gurau. 

Lalu apa sih yang dimaksud dengan Janji? Secara bahasa janji dapat dibagi menjadi  dua tingkatan yakni: Prasetia dan Janji. Prasetia dalam KBBI diartikan sebagai niat (janji) yang teguh dari diri sendiri yang ditujukan atau diikrarkan kepada Tian, Nabi, atau para Shenming  (Para Suci). Sedang janji adalah perkataan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu. Pengakuan yang mengikat diri sendiri terhadap ketentuan yang harus ditepati atau dipenuhi .

Agama Khonghucu mengajarkan umatnya untuk selalu menepati janji. Sebab, menepati janji berarti melakukan apa yang dikatakan dan menunjukkan ketulusan, integritas, kejujuran, sehingga bisa menjadi orang yang dapat dipercaya. Berkenaan itu, sangat  penting untuk menjaga kata-kata atau janji dalam suatu hubungan, pekerjaan, dan semua aspek kehidupan. Sebab, kata-kata atau janji  yang sudah terucap, empat ekor kuda tidak dapat mengejar (Lunyu XII : 8).

Agama Khonghucu  mengajarkan umatnya selalu berhati-hati dalam berkata atau pun berjanji. Hal ini dapat ditemui pada beberapa ayat suci yang bersumber kepada Sabda Nabi Agung Kongzi yang dapat dibaca pada Kitab-kitab Suci Agama Khonghucu.

Berikut beberapa point ajaran  tentang pentingnya menggenapi perkataan/janji:
a. Lunyu Jilid XII ayat 3 pasal 2. Nabi Kongzi Bersabda, ‘Melaksanakan sesuatu itu sukar, maka dapatkah orang tidak hati-hati dalam bicara.’ Ayat ini mengajarkan  agar sebelum mengucapksn kata-kata/ janji sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu serta disesuaikan dengan kemampuan keadaan kita.

b. Mengzi  Jilid VI B ayat 7 pasal 3: ‘…Semoga kita semua yang berjanji, Selanjutnya dalam  kata-kata dan perbuatan selalu baik-baik menepatinya.’ Ayat ini sangat jelas mengajarkan agar setiap  janji harus digenapi dan ditepati.

c. Li Ji  jilid  XXIX  Biao Ji ayat 49 berbunyi,  Nabi Kongzi Bersabda, ‘Mulut bermurah tetapi kenyataan tidak datang; Penyesalan dan bencana akan mengenai diri. Maka seorang Junzi lebih suka orang menyesalinya (karena menolak membantu) dari pada mengobral janji’. Ayat ini mengajarkan agar kita tidak mudah mengobral janji yang pada kenyataannya tidak dapat ditepati ataupun tidak menjadi kenyataan karena si pembuat janji hanya berbohong atau berpura-pura yang dapat membuat orang tidak akan lagi mau memercayainya.

Ketiga ayat di atas hanyalah sebagian dari ajaran luhur Khonghucu tentang pentingnya menjadi umat yang berbudi luhur/ Susilaan (Junzi ) yang dapat dipercaya dalam kehidupan dengan selalu menjaga perkataan dan tidak mudah mengucapkan janji. Apabila terlanjur janji, maka wajiblah untuk menepati. Karena salah satu manfaat berharga bagi manusia yang selalu menepati janji di antaranya berupa hubungan sosial yang lebih baik, memperbesar kepercayaan orang lain, yang akan memperluas  kebaikan dan kebajikan antarsesama manusia.

Kita semua dapat belajar untuk lebih hati-hati dalam mengucapkan kata-kata/janji. Sebab, orang bisa dihargai karena menepati satu janji, bukan ketika berani mengucapkan seribu janji. Jangan pernah berjanji jika memang sulit untuk menepati. Karena sekecil apapun janji, tetaplah janji yang harus ditepati tanpa terkecuali.

Semoga kita senantiasa dapat memperbaharui diri, belajar menjadi manusia yang lebih baik. Sehingga, Rahmat Karunia Tian, Bimbingan agung Nabi Kongzi, restu dan penyertaan segenap para shenming dan leluhur tercurah bagi kita semua. Shanzai

Wenshi ( WS ) Martin (Rohaniwan Agama Khonghucu, Makin Ternate, Maluku Indonesia)