Jnana Yadnya dan Pengembangan Pendidikan Agama Hindu

Suka, duka, lara dan pati dari setiap insan manusia pasti adanya. Hal ini juga diyakini umat Hindu. Catur Bekel Numadi tidak bisa dilepaskan dari karma. Derap langkah karma melahirkan pengorbanan dan persembahan atau yadnya yang didasari ketulusikhlasan. Yadnya tidak bisa dilepaskan dari Tripitama (Tiga Pilar Utama) yakni Tattwa, Susila, dan Acara. Kerap kali persembahan dirasa menghasilkan pengurangan materiil, namun didalamnya ada makna pahala.

Yadnya mengejawatah dalam perpaduan karma, marga, dan bhakti marga, hingga melahirkan produk upakara yadnya. Dalam hal tententu, beragama digiring pada persoalan kontestasi upakara hingga menelan biaya yang besar. Beragama lalu bergeser dari ranah substansi. Model beragama seperti ini kerap kali membuat stagnan, depresi, bahkan prustasi. 

Ada sebagian masyarakat yang sampai berhutang karena kontestasi upakara yadnya. Pertimbangan prestise dalam beryadnya melahirkan egosektoral yang mengarah pada pemikiran beragama yang dangkal. Kuantitas yadnya akhirnya dipandang lebih dominan dibandingan kualitasnya. Fenomena ini kerap memunculkan keluh kesah di kalangan umat Hindu sendiri. Mereka merindukan beragama hindu yang kaya substansi dan khasanah, terlebih di era digital saat ini.

Lembaran tattwa yadnya yang berisi sastra pengetahuan suci tentang yadnya banyak menjelaskan tentang substansi ajaran Hindu. Dalam Atharva Veda misalnya, dijelaskan tentang Sila, Yadnya, Tapa, Dhanam, Prawrejya, Bhiksu, dan Yoga. Bahwa agama Hindu mempunyai tujuh bagian yang menjadi pilar utama.

Pertama, Sila yakni Etika. Kedua, Yadnya yang berarti persembahan suci. Ketiga, Tapa yaitu pengendalian diri termasuk yasa-kerti. Keempat, Dhanam, baik dalam bentuk materi yang disebut arta dana atau dana punia, widya dhana atau pengajaran pengetahuan, maupun dharma dana atau pengajaran agama/guru lokal. 

Kelima, Prawrejya atau Penyucian. Keenam, Bhiksu. Yakni sesana pandita dan pemangku. Dan ketujuh, Yoga atau pemusatan pikiran, sabda, bayu, dan idep kepada Tuhan melalui meditasi atau pemujaan.

Tujuh pilar utama agama Hindu ini juga menjelaskan tentang persembahan dalam bentuk widya dhana, yakni pemberian pengetahuan bagi seseorang yang masih dalam kondisi (awidya). Widya Dhana sering diidentikkan dengan Jnana Yadnya. Yaitu, persembahan berupa ilmu pengetahuan untuk menumbuhkembangkan kognisi/tattwa. Di sinilah pentingnya pendidikan agama Hindu. 

Dunia pendidikan agama Hindu pada industry 4.0 yang berbasis K13 sangat menekankan kehidupan karakter peserta didik yang memiliki rasa Jnana Yadnya. Belajar agama Hindu tidak hanya wacana, namun lebih pada praktik maupun kontekstual keseharian. Belajar agama Hindu tidak bisa diikat oleh ajaran “Mulo Keto” namun dijawab dengan Adi Keto. 

Jnana Yadnya sebagai dasar bahwa peserta didik bisa membagi ilmunya dengan sesama temannya yang dikenal dengan belajar secara andragogik. Namun yang belum ada dalam kurikulum pelajaran dari tingkat dasar hingga menengah adalah bagaimana Jnana Yadnya sebagai profit untuk kehidupan kaum pebisnis Hindu yang akan membuka lapangan pekerjaan.

Jadi solusi yang ditawarkan untuk melengkapi dan menyempurnakan kurikulum K13 demi terwujudnya kader generasi Hindu yang memiliki jiwa Hindupreneurship yang memiliki profit dalam pelajaran agama Hindu antara lain : (a) Memberikan pengalaman best praktis pada siswa Hindu (sindu) untuk survival dalam menghadapi tantangan peradaban, (b) memasukkan materi enterprenuership pada pelajaran agama Hindu, (c) melatih dan mendidik siswa berjiwa AKII (aktif, kreatif, inovatif, dan inspiratif) yang juga memiliki makna kekuatan (Power) sehingga menghasilkan produk untuk profit, (d) sederhanakan konsep upakara Yadnya bagi siswa tanpa mengurangi makna upakara Yadnya. Dari hal diatas, dapat menjadikan fungsi Jnana Yadnya sebagai pondasi menjadi generasi Hindu yang kaya raya akan materi maupun kaya raya akan substansi.

Candra Prawartana M.Pd (Rohaniwan Hindu)