Guru Agama Diminta Ajarkan Sikap Moderat Rasulullah

Makassar (Kemenag)— Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan Khaeroni meminta para guru untuk mengajarkan kepada para siswa tentang toleransi dan sikap moderat Rasulullah.

“Saya harap, selain agar mengukir prestadi, para siswa juga dididik tentang keteladanan Rasulullah, termasuk dalam toleransi dan sikap moderat," kata Khaeroni, Kamis (23/4/2021) di MTs Negeri 1 Kota Makassar.

"Karena beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak,” sambungnya.

Mantan Kepala Biro IAIN Kendari ini berharap, guru pendidikan agama Islam dapat memberi pemahaman sejak awal tentang akhlak Rasulullah terhadap sesama, meski beda agama. Misal, akhlak Rasulullah yang tetap melayani pengemis buta yang selelu mencelanya.

Menurut mantan Kepala Biro IAIN Salatiga ini, penguatan moderasi beragama saat ini telah menjadi program utama Kemenag. Secara sederhana, moderasi beragama bisa dipahami sebagai cara berfikir dan bersikap yang menghargai kemanusiaan, menghargai kesepakatan bersama dan esensi konstitusi.

Menghargai kemanusiaan misalnya tercermin dalam sikap saling menghormati. Contoh lainnya adalah mau tolong menolong, tanpa membedakan suku, ras, dan agama. 

Jika ada orang mau menolong, namun harus melihat agamanya dulu, itu  merupakan ciri sikap tidak moderat.

"Misalnya, tidak mau menolong orang kecelakaan, hanya karena beda agama, suku, dan ras. Padahal ini menyangkut nyawa seseorang,” terangnya.

Sikap moderat juga ditandai dengan penghargaan atas esensi kesepakatan bersama. Pendiri bangsa misalnya, bersepakat membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan dasar Pancasila dan UUD 1945. "Ini harus dihargai bersama karena sudah menjadi kesepakatan," ujarnya.

“Ciri sikap tidak moderat lainnya adalah tidak menghargai esensi konstitusi. Jika ada kelompok yang tidak mau bayar pajak, ini juga tidak moderat. Sebab, tidak menghargai esensi konstitusi," pungkasnya.