Keburukan dari Dusta

Ekaṃ dhammaṃ atītassa, musāvādissa jantuno; Vitiṇ¬ṇa¬para¬lokassa, natthi pāpaṃ akāriyaṃ. Orang yang melanggar salah satu Dhamma (sila keempat, yang selalu berkata bohong), yang tidak memperdulikan dunia mendatang, maka tak ada kejahatan yang tidak dilakukannya. (Dhammapada, Syair: 176)

Kebohongan hanya dapat ditutupi dengan kebohongan yang lain. Demikian pepatah menjelaskan betapa buruknya efek dari berbohong atau dusta. Sekali manusia berbohong hanya dapat ditutupi dengan kebohongan-kebohongan selanjutnya. Mata rantai kebohongan akan semakin panjang bila tidak dapat diputus dengan sadar. Kebohongan mulai dari hal-hal yang ringan dan sederhana akan terakumulasi dan membentuk watak manusia untuk senantiasa berbohong. Walaupun seringkali kebohongan yang kecil atau sederhana tidak berakibat fatal bagi pihak yang dibohongi, tetapi memiliki bahaya yang amat serius bagi pihak yang berbohong, yaitu pembentukan karakter pembohong. Karakter pembohong dapat terpupuk dari kebohongan-kebohongan harian yang kelihatan sepele dan sederhana. 

Untuk mencegah karakter pembohong agar tidak berkembang menjadi kebiasaan, Dhamma menganjurkan manusia untuk senantiasa waspada dengan ucapannya. Dalam dunia modern yang berkembang dengan berbagai media sosial yang kompleks manusia bukan hanya menjaga ucapan tetapi harus senantiasa waspada dengan tulisan, ketikan, unggahan di media sosial. Tulisan di media yang bersifat terbuka untuk publik dapat menyesatkan banyak pihak kalau konten yang ada berisi kebohongan atau hoax belaka. 

Berbohong dalam Dhamma disebut dengan musavada, musa berarti sesuatu yang tidak benar, vada berarti ucapan. Musavada bermakna mengucapkan sesuatu yang tidak benar. Ucapan dikatakan berbohong bila memenuhi beberapa faktor yaitu: (1) Sesuatu hal yang tidak benar; (2) Mempunyai niat untuk menyesatkan; (3) Berusaha untuk menyesatkan; dan (4) Pihak lain jadi tersesat. 

Dalam konteks yang lebih luas, kebohongan atau musavada mencakup memfitnah (pisunavaca), berkata kasar (pharusavaca) dan bergunjing atau ucapan yang tidak bermanfaat (samphappalapa). Fitnah, kata-kata kasar dan gunjingan dapat berkibat yang sangat buruk. Bahkan banyak orang menyebut bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.  

Dalam konteks Buddhis, setiap perbuatan baik maupun buruk akan berakibat atau yang lazim dikenal dengan hukum karma. Demikian pula dengan kebohongan akan berakibat buruk bagi pelakunya, akibat yang bisa ditimbulkan antara lain adalah:

1)    Menjadi sasaran dan menderita akibat pembicaraan yang tidak baik; 
2)    Menjadi sasaran penghinaan 
3)    Tidak dipercaya oleh khalayak ramai

Sasaran pembicaraan buruk, penghinaan dan tidak dipercaya merupakan akibat yang menimbulkan banyak derita. Seseorang yang sudah tidak dipercaya akan susah berkembang baik dari sisi karir pekerjaan, ekonomi dan pergaulan sosial. Kepercayaan adalah harta paling utama bagi seseorang yang ingin berkarir dan bermitra dalam pengembangan ekonomi. Tanpa kepercayaan maka jalinan bisnis maupun usaha di bidang apapun tidak akan dapat berjalan dengan baik. Kepercayaan dari pihak lain diperoleh dengan usaha yang tidak mudah serta membutuhkan waktu lama. Orang yang terpercaya melewati berbagai ujian kejujuran yang panjang dan berliku. 

Dengan merenungkan susahnya mendapat kepercayaan seseorang hendaknya tidak terjerumus pada sifat dusta. Orang yang menukarkan kepercayaan atau sifat jujurnya dengan kebohongan dapat diibaratkan seperti menukar emas dengan kotoran. Membangun kepercayaan kembali merupakan hal yang lebih susah lagi untuk didapatkan. Stigma sebagai pembohong atau orang yang tidak jujur biasanya melekat serta susah untuk dihapuskan walaupun seseorang telah berubah menjadi pribadi yang jujur. Maka lebih baik tetap menjaga sifat jujur dan jangan sekali-kali mengotori diri dengan perilaku dusta. 

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.


TERKAIT