Kedaulatan Allah di Tengah Krisis Kehidupan

“…karena pada hari-hari itulah orang Yahudi mendapat keamanan terhadap musuhnya dan dalam bulan itulah dukacita mereka berubah menjadi sukacita dan hari perkabungan menjadi hari gembira, dan supaya menjadikan hari-hari itu hari perjamuan dan sukacita dan hari untuk antar-mengantar makanan dan untuk bersedekah kepada orang-orang miskin." (Ester 9:22)

Latar belakang kitab Ester adalah suasana perbudakan orang Yahudi di Babel, khususnya pada fase pemerintah raja-raja Media dan Persia. Lebih khusus lagi adalah masa pemerintahan raja Ahasyweros, anak Darius, keturuanan Raja Koresh. Kerajaan Persia mencapai puncak kejayaannya dengan menguasai 127 daerah membentang dari India sampai Etiopia.

Kitab Ester tidak satu kalipun menyebut nama Allah atau Tuhan, tetapi memunculkan figur raja sebagai tokoh sentralnya. Hal yang diyakini merupakan pengakuan bahwa Allah berdaulat atas manusia melalui suatu sistem pemerintahan manusia.

Raja-raja Persia ini mulai dari Koresh, Darius, Ahasyweros dan Artahsasta disebutkan sebagai raja-raja yang dipakai Tuhan dan berperan dalam kepulangan orang Yahudi dari Babel kembali ke Yerusalem, baik dalam pembangunan kembali Bait Allah maupun pembangunan tembok kota Yerusalem. Mordekhai yang menjadi orang kedua dalam pemerintahan raja Ahasyweros disebutkan juga dalam kitab Ezra dan Nehemia sebagai orang yang ikut pulang dari pembuangan di Babel dan ikut dalam pembangunan kembali Bait Allah di Yerusalem.

Latar belakang di atas memperlihatkan bahwa kelamnya masa pembuangan di Babel ternyata tidak menghilangkan kehadiran dan peran Allah sebagai Bapa, Tuhan yang setia, yang tidak dapat mengingkari perjanjian abadi dengan leluhur bangsa Yahudi atau Israel. Dalam murka-Nya yang menyala-nyala, Allah harus menghukum bangsa ini. Tetapi murka-Nya segera surut karena kesetiaan Allah lebih besar daripada kesalahan bangsa ini. Dengan mengingat kepada kesetiaan-Nya itu maka tidaklah heran jika kitab Ester memperlihatkan secara terselubung bahwa Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu. Dengan begitu juga kita dapat belajar dari kitab Ester ini setidak-tidaknya tiga hal penting.

Pertama, Allah berdaulat atas kesalahan manusia.

Dalam Ester 1:12 disebutkan, "Tetapi ratu Wasti menolak untuk menghadap menurut titah raja yang disampaikan oleh sida-sida itu, sehingga sangat geramlah raja dan berapi-apilah murkanya." 

Lalu dalam Ester 1:19 dijelaskan, "Jikalau baik pada pemandangan raja, hendaklah dikeluarkan suatu titah kerajaan dari hadapan baginda dan dituliskan di dalam undang-undang Persia dan Media, sehingga tidak dapat dicabut kembali, bahwa Wasti dilarang menghadap raja Ahasyweros, dan bahwa raja akan mengaruniakan kedudukannya sebagai ratu kepada orang orang lain yang baik dari padanya."

Ini menggambarkan sebuah bencana rumah tangga kerajaan yang dapat berdampak luas kepada nasib seluruh warga kerajaan karena menyangkut keputusan seorang maha raja yang sangat berkuasa. Jika keputusan yang dibuat salah maka akan memakan atau mengakibatkan banyak korban.  Beruntung bahwa raja Ahasyweros memiliki orang-orang yang bijaksana yang ditempatkan menjadi penasihat-penasihat terdekatnya. Raja pun sangat menghormati mereka sehingga masukan-masukan mereka juga sangat menolong dan menghindarkan raja dari membuat keputusan yang keliru di tengah luapan emosi yang menggelora. 

Keputusan selanjutnya adalah melakukan penggantian ratu dan di sinilah muncul Hadasa atau Ester yang terpilih menjadi ratu pengganti. Ester, seorang gadis Yahudi yang sudah menjadi yatim piatu kemudian diangkat anak oleh sepupunya sendiri yaitu Mordekhai. Orang tua Ester adalah orang Yahudi yang dibawa ke pembuangan dari Yerusalem. Arahan-arahan yang diberikan Mordekhai dan juga para pengasuhnya di istana menjadikan Ester terpilih sebagai ratu yang baru. 

Dalam Ester 2:17 dijelaskan, "Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih dari pada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih dari pada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti."

Satu sisi penting dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat di masa kini yaitu kehadiran orang-orang yang memiliki pemikiran, pengertian dan pemahaman yang luas atas berbagai aspek kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara, di sekitar para pemimpin yang memilki otoritas tertinggi dalam menentukan nasib suatu bangsa, khususnya bangsa Indonesia.  

Kesalahan sangat mungkin tejadi dan dilakukan oleh siapapun, termasuk oleh seorang pemimpin seperti Kepala Negara. Tetapi ketika kesalahan terjadi, maka tanggapan dan koreksi selanjutnya atas hal tersebut jauh lebih penting supaya kesalahan tersebut tidak berdampak panjang berlarut-larut dan ada solusi yang tepat meredam semua kemungkinan kerusakan dan bencana.

Tidak ada seorang pun yang mengingini suatu kesalahan tetapi ketika itu terjadi maka Tuhan berdaulat dan membuktikan kasih setia-Nya lebih besar dari kesalahan apapun. Belajar kepada firman Tuhan yang tertulis, mendengarkan nasihat-nasihat dari orang-orang yang dapat dipercaya, kritik yang membangun dan masukan-masukan yang memperlengkapi adalah bentuk atau cara kita mengakui kedaulatan Tuhan di dalam kesalahan atau persoalan yang kita hadapi. 

Tidak perlu merasa gagal dengan suatu kesalahan, tetapi merespon dengan rendah hati setiap masukan akan membuka jalan kepada kasih setia Tuhan untuk mengembalikan kita kepada jalur yang seharusnya. 

Kedua, Allah mengubah rancangan kejahatan menjadi kebaikan.

Ester 3:13 menyebutkab, "Surat-surat itu dikirimkan dengan perantaraan pesuruh-pesuruh cepat ke segala daerah kerajaan, supaya dipunahkan, dibunuh dan dibinasakan semua orang Yahudi dari pada yang muda sampai kepada yang tua, bahkan anak-anak dan perempuan-perempuan, pada satu hari juga, pada tanggal tiga belas bulan yang kedua belas – yakni bulan Adar -, dan supaya dirampas harta milik mereka."

Rencana jahat Haman yang tanpa penyelidikan yang dalam, kemudian direstui oleh raja Ahasyweros untuk memusnahkan orang Yahudi pada masa itu, mungkin dapat digambarkan dengan peristiwa Holocaust. Yaitu pembantaian orang Yahudi oleh Nazi Jerman atas perintah Adolf Hitler pada masa Perang Dunia II yang telah menewaskan setidaknya 6 juta orang Yahudi. Suatu kengerian yang luar biasa yang bekasnya belum punah sampai sekarang, menyisakan luka dan trauma yang dalam pada mereka yang mengalami dan juga yang mendengarnya. 

Rencana jahat itu hampir berhasil. Tetapi kembali kita melihat bahwa Allah berdaulat atas semua situasi dan tidak membiarkan kejahatan merajalela tanpa kendali. Bagaimana  Allah berkarya itu sangat sistematis dan tidak terduga. Secara berurutan pasal-pasal kitab Ester mengisahkan pengangkatan Ester, tindakan Mordekhai menolong raja, rencana busuk Haman, Mordekhai diangkat menjadi pembesar, Ester mengadukan Haman kepada raja, Haman digantung, Mordekhai diangkat menjadi orang kedua dan kemudian mengendalikan kerajaan bersama ratu Ester. 

Dalam Ester 8:10-12 dijelaskan, "Maka ditulislah pesan atas nama raja Ahasyweros dan dimeterai dengan dengan cincin meterai raja,….dikirimkanlah surat-surat yang isinya: raja mengizinkan orang Yahudi di tiap-tiap kota untuk berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta memusnahkan, membunuh atau membinasakan segala tentara, bahkan anak-anak dan perempuan-perempuan, dari bangsa dan daerah yang hendak menyerang mereka, dan untuk merampas harta miliknya, pada hari yang sama di segala daerah raja Ahasyweros, pada tanggal tiga belas bulan yang kedua belas, yakni bulan Adar."

Selama kita melibatkan Allah di dalam segala sesuatu, kita dapat percaya bahwa Allah benar-benar mengendalikan segala sesuatu bahkan yang semula dirancangkan untuk tujuan kejahatan sekalipun. Allah mengubah seratus delapan puluh derajat atau sebaliknya dari yang dirancangkan siapapun. 

Dalam Yesaya 54:17 dijelaskan, "Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau dalam pengadilan akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi bagian hamba-hamba Tuhan dan kebenaran yang mereka terima daripada-ku, demikianlah firman Tuhan."

Saat ini kita masih dalam suasana pandemi. Bagaimana pandemi ini muncul, sampai saat ini masih simpang siur. Ada banyak teori dari mulai suatu konspirasi sampai sebagai akibat suatu kecelakaan. Jauh sebelum merebaknya kasus Wuhan, berbagai orang di belahan bumi memperkirakan akan terjadi depopulasi – pengurangan jumlah manusia yang hidup di muka bumi, salah satu yang disebutkan akan terjadinya suatu pandemi. 

Bahwa saat ini benar terjadi pandemi yang telah memakan korban jutaan orang meninggal di seluruh dunia, belumlah suatu bukti bahwa hal itu terjadi. Tetapi, duka yang dirasakan oleh keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh mereka yang dikasihinya tentu sangat memilukan. Belum lagi kesulitan-kesulitan yang timbul, sementara semua pihak berjuang untuk mengendalikan angka kesakitan dan dampak-dampak kesehatan, mental, sosial, ekonomi dan lain-lain sama-sama memberi tekanan mental berat bagi kita yang hidup di masa ini.

Tetapi, berkaca pada apa yang Allah lakukan di masa Ester terhadap orang Yahudi, kita harus tetap menjaga asa dan iman kita bahwa Allah bekerja untuk kita semua untuk mendatangkan kebaikan. Bahwa Allah sanggup dan sedang terus bekerja untuk mengubah situasi ini menjadi kebaikan. Kita harus terus percaya bahwa Allah tidak akan membiarkan konspirasi jahat untuk menghancurkan manusia ciptaan Allah seberdosa apapun manusia itu. Kita tahu Allah menghendaki setiap orang diselamatkan bukan binasa dalam dosanya. 

Allah yang dahulu meluputkan orang Yahudi dari kebinasaan adalah Allah yang sama yang hari-hari ini mengubah bencana pandemi menjadi kebaikan. 

Ketiga, Allah memakai umat-umat-Nya untuk keluar dari krisis.

Sebagai orang percaya, kita sepatutnya meyakini bahwa setiap krisis yang terjadi merupakan batu loncatan untuk menjadi lebih baik. Maksud lebih baik adalah kita menjadi pribadi yang cocok dengan rancangan Tuhan. Untuk itu, tentu ada yang harus ditanggalkan atau sebaliknya harus ada yang ditambahkan. Oleh karena itu kita harus percaya bahwa Tuhan sangat mengandalkan gereja-Nya yang Am menjadi pemeran yang baik dari rancangan Tuhan sehingga mendatangkan kebaikan kepada bumi kita dan kepada semua manusia ciptaan Tuhan. 

Dengan belajar dari kitab Ester ini, maka kita sebagai umat Tuhan dapat mengambil sikap sebagai berikut:

Pertama, tidak mengeluh dengan kondisi sulit yang terjadi, apalagi menyalahkan orang lain, tetapi terus mempercayai Tuhan yang penuh kasih, setia dan pemelihara hidup kita bahwa Allah berkuasa dan mengendalian segala sesuatu;

Kedua, mau terus dibaharui dengan belajar dan diajar oleh firman Tuhan dan oleh orang-orang yang dapat dipercaya sehingga kita menjadi orang-orang cocok dengan kebutuhan Tuhan pada saat ini;

Ketiga, terus mengerjakan yang benar dan baik sekalipun tidak memperoleh penghargaan apapun karena hal itu akan menjadikan kita terampil supaya pada waktunya Tuhan dapat mengandalkan kita untuk tujuan-tujuan yang mulia;

Keempat, harus rela melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi kita demi kepentingan Tuhan dan kepentingan orang lain yang mungkin akan menyita kenyamanan dan kesenangan kita;

Kelima, menggunakan kesempatan, jabatan dan posisi yang Tuhan ijinkan kita nikmati untuk keselamatan dan kesejahteraan orang banyak karena dengan begitu Tuhan dimuliakan dan orang dituntun kepada pengenalan akan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Selamat hari Minggu !

Salam kasih hamba-Nya,

 

Pdt.dr. Horas A.L. Tobing, M.Th (Rohaniwan Kristen)


TERKAIT

Belenggu bagi Gharavasa

Agama dan Pelayanan

Kesetiaan

Siap Menjadi Tanda Kehadiran Tuhan

Bila Umat Tuhan Merendahkan Dirinya