Kembali Untuk Merawat Keindonesiaan (Refleksi Idulfitri)

Sebagai keluarga yang bhineka tunggal ika, saya merayakan lebaran bersama ipar dan saudara-saudari saya yang muslim. Juga orang se-kantor.  Kami selalu begitu. Hanyalah keharuan yang terjadi jika hati manusia tersentuh cinta Ilahi. Dan bagi saudara-saudari saya yang muslim, di antara sekian banyak hari raya keagamaan, Idulfitri lah yang paling dapat menyentuhkan cinta Ilahi pada perasaan manusiawi kita. 

Selamat Lebaran, mohon maaf lahir batin. Siapakah yang tak terharu menyaksikan orang berebut moment Idulfitri yang singkat itu melakukan mudik yang panjang dan melelahkan untuk bersilaturahmi dan saling memohon maaf dalam rangkulan kasih dan pengampunan? Lebih daripada khutbah tentang kohesi sosial yang panjang-panjang, bersilaturahmi dan saling memohon maaf di hari raya Idulfitri sungguh amat membebaskan karena dipersiapkan dengan ibadah puasa Ramadan sebulan utuh.  

Selama bulan suci Ramadan, saya menyaksikan saudara-saudari saya berpuasa, berdoa, merenungkan, memuji nama Allah, bergulat untuk menemukan kembali fitrahnya. “Pertemuan” dengan Sang Khalik yang Rahman dan Rahim menjadi pangkal tolak pertemuan dengan sesama. Manisfestasinya terluapkan di hari raya Idufitri. Manusia menemukan fitrahnya secara utuh: “bertemu” dengan Tuhan dalam kedamaian, sekaligus juga berjumpa dengan sesamanya dalam rangkulan kasih penuh rekonsiliasi. Karena itu, sukacita Idulfitri memang meluap menerobosi sekat-sekat kemajemukan masyarakat. 

Beban hidup terbesar manusia adalah kesalahan kepada orang lain. Tentu juga kepada Tuhan. Namun mohon maaf kepada Tuhan terasa lebih mudah karena ibaratnya hanya kita dan Tuhan. Apalagi Tuhan Maha Pengampun. Sementara bersalah kepada orang lain, harus diperbaiki secara terbuka. Terjadi pergulatan dengan ego pribadi, kecongkakan, dan gengsi.  Idulfitri justeru menghadirkan kesempatan untuk bersilatrahmi, saling memohon dan memberi maaf, tanpa kehilangan muka. Dan itu sungguh melegakan manakala disertai niat untuk tidak mengulanginya. Maka tidak berlebihan jika saya (meski bukan penganut muslim) mengatakan Idulfitri dalam permenungan saya sungguh hari raya pembebasan dan kemenangan kemanusiaan. 

Liburan panjang merayakan lebaran sudah usai dan semua kembali ke kantor, ke tempat kerja, kampung halaman tempat mencari nafkah dan mendapatkan rezeki. Pemandangan paling menakjubkan di hari pertama masuk kantor adalah rangkulan penuh kasih, persis yang dialami di hari raya Idulfitri disertai dengan duduk-duduk menikmati hidangan yang dibawakan teman-teman muslim. Suasananya penuh kekeluargaan persis di hari pertama pertama Idulfitri dalam keluarga. 

Kalau di hari raya Idulfitri orang tampil semarak dengan busana muslim terbaru dengan model yang beraneka, usai lebaran orang kembali ke tempat kerja dengan tampilan berseragam. Kebanyakan kita mungkin hanya melihatnya sebagai eksemplar dari kewajiban kantor. Tetapi sejatinya semangat tampil berseragam di tengah gaung semangat tampil beda,  mengindikasikan satu hal ini: dengan seragam, kebersamaan, dan kekompakkan lebih terasa. 

Jika pluralitas mencerminkan keniscayaan, berseragam mencerminkan sebuah tekad untuk bersama dalam kemajemukan. Laksana rusa merindukan air, jiwa kita merindukan kebersamaan sejati.  Sebagaimana tubuh kita membutuhkan makanan untuk hidup, jiwa kita menginginkan hubungan, kebersamaan, dan interaksi. Butuh kebersamaan dalam melangkah. 

Hubungan dan kebersamaan itu tentu saja bukan terbatas pada hubungan dan kebersamaan antarindividu, keluarga, dan kerabat dekat, melainkan juga antarkelomopok, masyarakat dan bangsa. “Husnut Tafaahum", istilah yang baru-baru ini digunakan Wapres Ma’aruf Amin. Bagusnya saling memahami. Suatu sesadaran penuh untuk membangun kesepahaman saling pengertian universal. Rekan saya Ketua PWNU NTT, KH Drs. Pua Monto Umbunai, menjelaskan dari Husnut Tafaahum akan lahir Husnut Tasaamuh (bagusnya saling toleransi) dan berlanjut ke Husnut Ta’aawun (bagusnya saling menolong). 

Setiap agama mempunyai nilai dan relevansi universal. Begitu diamalkan dan dengan amal itu dikembangkan, ia menjadi kekuatan yang membawa manusia kepada kebaikan. Menggunakan istilah Gus Menteri, agama menginspirasi. Maka kita sangat berkepentingan, untuk mengatakan, kebiasaan saling memberi maaf, bisa dikembangkan menjadi suatu sifat jiwa besar yang bisa mengatasi kekerdilan jiwa dan hati. Jiwa kerdil mudah terperesok menjadi iri hati dan benci yang bisa menghambat langkah-langkah mewujudkan kehidupan bersama yang damai. 

Man can never be religious enough, manusia tidak pernah dapat menjadi cukup religius. Dia harus terus membina dirinya menjadi semakin religius dari hari ke hari agar dia menjadi manusia yang religius. Agama mengajarkan bahwa manusia tidak pernah diselamatkan seorang diri, tetapi selalu sebagai anggota persekutuan dalam umat, dalam agama. Orang beragama selalu beragama dalam negara, maka bisa juga ditambahkan kita juga diselamatkan dalam negara dengan nilai-nilai agama. Kita dari waktu-waktu berjuang untuk menjadi orang beragama yang baik dan dengan itu juga menjadi warga negara yang baik.

Nilai-nilai universal Idulfitri menginspirasi kita untuk merawat kelestarian bagi yang fitrah sepanjang tahun dan musim yang berganti. Kebiasaan untuk tidak kenyang sendiri di hari raya Idulfitri hendaknya terus kita kembangkan, tidak hanya menyantuni kaum miskin, tetapi juga untuk tidak korupsi. Keindahan mengagungkan kebesaran Tuhan di hari yang fitri terus kita lestarikan tanpa direcoki kegemaran kita mencela agama dan keyakinan lain yang berbeda. Kita menjadi orang beragama yang baik kalau kita juga berusaha untuk membuat lingkungan kita, membuat orang lain menyadari pentingnya kehidupan agama, dan melakukan tindakan dan perbuatan yang dibenarkan secara agama. 

Kampung halaman, udik, tempat kita menimbah kelestarian yang fitri sudah memenuhi segenap ruang hati kita. Maka kita semua menang di hari kemenangan ini. Kini kita kembali ke halaman tempat kerja kita dengan semangat baru yang fitrah untuk merawat keindonesiaan. Bagusnya dengan saling memahami, dengan saling toleransi dan dengan saling tolong. 

Ada banyak soal yang musti diselesaikan negara ini untuk kemaslahatan hidup bersama. Agama-agama yang banyak di Indonesia mustinya saling memahami, saling toleransi dan saling tolong dengan menyumbangkan kekayaan teologinya masing-masing untuk pembaikan kehidupan bersama dan mengapa kita musti hidup bersama. 

Dengan cara itu, kita bisa yakin bahwa kita mampu menjadikan NKRI sebagai rumah moderasi, tempat semua orang merasa aman dan nyaman. Dengan cara itu pula lah kita bisa yakin, kita akan tumbuh menjadi bangsa yang maju dan berkeadaban yang luhur.

JB Kleden (Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Kupang)