Kemenag Akan Gelar Kongres Digitalisasi Aksara Pegon

Cirebon (Kemenag) --- Kementerian Agama akan menggelar Kongres Digitalisasi Aksara Pegon. Rencana ini dibahas bersama dalam pertemuan pra kongres yang digelar Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Ditjen Pendidikan Kemenag, di Kota Cirebon.

Giat ini melibatkan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) dan Perwakilan Pegiat Aksara Daerah. Pra kongres membahas sejumlah langkah-langkah nyata dalam mendigitalisasikan Aksara Pegon agar bisa hadir di ranah digital. Sehingga, generasi mendatang tetap bisa mengenal serta menggunakan Aksara Pegon dalam rutinitas pendidikan maupun digital mereka.

Direktur PD Pontren Waryono mengatakan bahwa kegiatan inovasi digitalisasi akan sangat berdampak positif bagi kalangan santri.  "Dalam hal digitalisasi Aksara Pegon ke depan, diperlukan konsistensi bagi kita dan rutin menyelenggarakan program yang berkesinambungan untuk terus menjaga tujuan, agar tidak hanya menjadi kegiatan seremonial semata," ujarnya di Cirebon, Kamis (21/4/2022).

Pengguna terbesar Aksara Pegon di Indonesia adalah kalangan akademisi atau santri-santri yang ada di Pesantren. Namun, saat ini penggunaannya masih dilakukan dengan cara menulis manual.

"Karena mayoritas pengguna Aksara Pegon dari kalangan santri, maka diperlukan inovasi-inovasi program. Ini perlu diperhatikan terkait ketetapan, baik itu cara membaca dan bentuk varian font," terang Staf Ahli Menag bidang Hukum dan HAM, Abu Rokhmad. 

Kegiatan persiapan pra kongres Aksara Pegon dihadiri juga para Pegiat Aksara. Forum ini menyepakati bahwa salah satu cara agar digitalisasi Aksara Pegon dapat terwujud diperlukan beberapa tahapan, yaitu: melakukan forum diskusi dan menetapkan standarisasi varian rasm dan font (khot), tata letak papan tombol dan transletasi, setelah itu mendaftarkannya agar dapat digunakan dalam dunia digital dengan berbagai macam perangkat. 

Setya Amrih Prasaja, perwakilan Pegiat Aksara Jawa dan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan bahwa perlu diperhatikan penulisan dan cara bacanya, agar tidak terjadi salah paham dalam penerapannya. "Digitalisasi Aksara Pegon merupakan sebuah Inovasi yang sangat baik dan menjadi salah satu acuan koreksi untuk Aksara Jawa, namun perlu juga diperhatikan terkait penetapan cara baca, jenis karakter font yang digunakan, agar tidak terjadi salah paham,” terangnya. 

Heru Nugroho selaku Wakil Ketua PANDI menyampaikan bahwa Aksara Pegon sangat dekat dengan kalangan Pesantren. "Dengan kemajuan zaman yang sangat pesat, digitalisasi perlu dilakukan agar memudahkan santri-santri dalam kegiatan belajar mereka," tandasnya.