Kemenag Harap Mahasiswa Katolik Jadi Duta Moderasi Beragama

Deiyai (Papua) --- Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro menyapa mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa. Kehadirannya di Tanah Papua dalam rangka menghadiri wisuda sarjana.

Di hadapan para wisudawan, Bayu Samodro berpesan tentang pentingnya penguatan moderasi beragama. Yaitu, cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan berlandaskan prinsip adil, berimbang dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa. Moderasi beragama bukanlah upaya memoderasikan agama, melainkan memoderasi pemahaman dan pengamalan dalam beragama.

“Anda yang hari ini diwisuda harus siap untuk menjadi penyuluh agama dan pekerja pastoral lainnya di paroki–paroki. Anda adalah duta moderasi beragama. Layani umat Katolik dengan baik," pesan Bayu Samodro di Papua, Jumat (5/11/2021).

"Kalaupun tidak jadi penyuluh, maka jadilah orang yang berguna untuk gereja, bangsa, dan negara sesuai talenta dan ilmu yang telah Anda miliki,” sambungnya.

Menurut Bayu Samodro, nama Sekolah Tinggi Katolik di Deiyei adalah Touye Paapaa. Artinya cahaya lilin. “Saya berharap cahaya lilin ini akan  terus menyinari Deiyai,” ungkap Bayu Samodro.

“Semoga STK ini menjadi mutiara bagi Papua dan menjadi mercusuar untuk mewartakan Indonesia hebat, Indonesia tangguh dalam merekat kerukunan dan memajukan kehidupan bangsa,” lanjutnya.

Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa adalah salah satu dari 23 perguruan tinggi keagamaan Katolik di Indonesia yang menjadi binaan Ditjen Bimas Katolik. Ini juga satu-satunya sekolah tinggi keagamaan Katolik yang dimiliki Keuskupan Timika. Sekolah tinggi ini membuka satu program studi,  Pendidikan Keagamaan Katolik. Lulusannya bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Deiyai adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua, ulunya pernah menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Paniai. Untuk sampai ke Deiyai, dapat ditempuh melalui perjalanan udara melalui Nabire dan melanjutkan perjalanan darat kurang lebih enam jam menggunakan mobil.

Bayu Samodro mengatakan, keberadaan sekolah tinggi ini adalah bentuk kehadiran Negara dalam pemerataan pembangunan di bidang pendidikan. “Pemerataan pembangunan di Papua dapat diawali dengan pembangunan di bidang pendidikan dengan fokus pada pendidikan karakter melalui pendekatan keagamaan,” ungkap Dirjen.

“Kementerian Agama melalui layanan di bidang keagamaan, memastikan bahwa Papua adalah bagian dari NKRI. Melalui kehadiran pendidikan keagamaan Katolik, Kementerian Agama hadir bagi seluruh rakyat,” sambungnya.

Selain sekolah tinggi, di Deiyai juga berdiri Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Awedabi. SMAK Aweidabi adalah salah satu dari 45 SMAK yang dibina Ditjen Bimas Katolik.