Kerjasama Umat dan Sukses STQH Nasional 2021

Sofifi (Kemenag) --- Perhelatan Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) Nasional XXVI Tahun 2021 telah selesai dilaksanakan. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi Jumat (22/10/2021) malam. 

Suksesnya pelaksanaan kegiatan nasional keagamaan umat Islam ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah hingga tentu saja partisipasi masyarakat setempat.

Menariknya, suksesnya penyelenggaraan STQH Nasional XXVI  juga tak lepas dari peran serta umat non-muslim di Maluku Utara. Untuk mengetahui bagaimana pera mereka, simak wawancara Tim Humas Kemenag Kurniawan dan Romadanyl bersama Ketua Rukun Umat Katolik Tobelo Halmahera Utara Wenses Laus  dan Jemaat gereja Balison Halmahera Barat Novalina.

Ini kegiatan Keagamaan nasional pertama kali di Sofifi ya, Pak Wenses?

Benar mas, karena Sofifi juga belum lama di bangun menjadi pusat pemerintahan Provinsi Maluku Utara dan kami bangga bisa menjadi tuan rumah. Karena efeknya pembangunan menjadi lebih cepat dan yang paling penting kami bisa bertemu dengan saudara-saudara se-Indonesia.

Tadi malam sudah ditutup  dan kita lihat sukses acaranya. Dan yang saya dengar umat non Islam ikut membantu ya, Pak?

Melihat penutupan tadi malam, meriah tempat ini menjadi sangat terang dan ini juga menjadi hiburan bagi kami, kami menikmati kebersamaan dengan para peserta dan official seluruh Indonesia yang hadir di sini. Sungguh berkesan dan banyak juga umat kami yang ikut menyaksikan kegiatan STQH ini meskipun mungkin tidak begitu paham isinya. 

Dan memang mas dari mungkin hampir setahun lalu, umat di gereja setiap kebaktian atau misa kami selalu mengingatkan atau bahkan kadang-kadang umat yang mengingatkan bahwa akan ada even besar di kota kita. Dan kita harus turut mensukseskan even ini dan setelah melihat penutupan tadi malam kami ikut lega rasanya.

Persiapan untuk even Nasional sebesar ini tentu bukan dilakukan satu atau dua bulan belakangan ini ya ,Pak. Lalu apa saja yang sudah dilakukan oleh Bapak Ibu umat non Islam untuk even ini?

Kalau untuk keterlibatan mungkin bermacam macam, Mas. Misalnya kalau untuk jemaat gereja yang kebetulan menjadi ASN, mereka langsung masuk di kepanitiaan. Ada yang jadi LO untuk mendampingi peserta atau untuk petugas administrasinya. Tapi untuk jemaat gereja yang lain, yang kebetulan bukan sebagai ASN kami semua melakukan kebersihan dekat Masjid Raya Shaful Khairat.  sebagai tempat utama pelaksanaan even ini dan juga jalanan sekitar agar terlihat lebih bersih dan indah. 

Gereja di hampir semua tempat di Maluku Utara ini juga memasang spanduk dan baliho menyambut pelaksanaan STQH di Maluku Utara ini. Termasuk juga pada saat pelaksanaan pawai taaruf pada awal even lalu, kami turut memeriahkan dengan mengikuti iring-iringan, bahagia sekali rasanya, seru, haru dan bangga jadi satu kami juga ingin menunjukkan kepada orang-orang di luar sana bagaimana rukunnya kami di Maluku Utara ini.

Sebelum even, para jemaat gereja suka tanya ke Pembimas di Kemenag, kapan ada kerja bakti? Kami kami diajak ya biar bisa sama-sama. Apa yang bisa kami bantu untuk kelancaran even ini? Sungguh sekali lagi lagi even ini membuat berkah untuk daerah kami karena saya yakin bukan hanya kerukunan yang lebih baik dapat tercipta tapi perekonomian mulai menggeliat setelah sekian lama pandemi melanda negara kita.

BU Nova, Apakah di Kristen juga sama? Apa ada arahan dari pihak Gereja untuk mensukseskan acara ini?

Jadi seperti yang saya sampaikan tadi karena antusiasnya para jemaat akan even ini semua saling mengingatkan apa lagi nih yang bisa di lakukan? Jangan lupa ya saling jaga ketertiban, eh kita besok kerja bakti ya gitu.. Dan itu sering disampaikan oleh para jemaat sendiri selain memang ada arahan dari pihak gereja untuk turut mensukseskan even besar ini.

Bagaimana kehidupan sehari-hari umat beragama di Maluku Utara? 

Semua baik aman dan kami pun dilindungi oleh umat muslim sebagai umat mayoritas. Ibadah berdampingan, menggelar hajatan, musibah orang meninggal dan saling kunjungi, merayakan hari besar agama masing-masing dengan tenang sudah menjadi pemandangan biasa di sini jadi ya biasa aja mungkin tidak terlihat. 

Tapi saya yakin di Indonesia datanya masih sama, masih rukun dan kami pun begitu, hanya saja mungkin tidak banyak terkespose media. Tapi ketika even STQH ini jadi lebih kelihatan, karena kita jadi sering kumpul sama-sama untuk mensuskseskan acara ini, sering kerja bareng berbagi informasi dan akhirnya kami jadi semakin akrab mungkin ini salah satu berkah yang tuhan kirimkan kepada kami semua umat beragama di Sofifi melalui even ini. 

Terima kasih bapak / ibu atas wawancaranya, mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain.