Kesabaran adalah Praktik Beragama yang Paling Baik

Khantī paramaṁ tapo titikkhā, nibbānaṁ paramaṁ vadanti buddhā, na hi pabbajito parūpaghātī, samano hoti paraṁ viheṭhayanto. Kesabaran adalah praktik religi yang terbaik, para Buddha berkata, nibbana adalah (kebahagiaan) yang tertinggi. Sesungguhnya orang yang menjalani hidup suci tidak menyakiti yang lain, seorang pertapa tidak menindas yang lain. (Dhammapada: syair 184)

Magha Puja 2565 Tahun Buddhis yang jatuh pada tanggal 16 Februari 2022 senantiasa diperingati oleh umat Buddha dengan penuh kesabaran, mengingat bahwa pandemi Covid-19 masih berlangsung bahkan mengalami kecenderungan penyebaran yang meningkat. Umat Buddha harus menahan diri untuk membatasi keluar rumah, bepergian, maupun menghadiri kerumunan. Puja bakti di vihara, klenteng, maupun arama diatur dan dibatasi pada jumlah persentase tertentu sesuai dengan anjuran pemerintah. Tidak terkecuali pada perayaan magha puja saat ini. Kerumunan yang melibatkan banyak orang dilaksanakan dengan menggunakan pola hybrid di mana sebagian umat dapat mengikuti acara melalui zoom meeting, atau menonton di kanal Youtube.

Melatih kesabaran dalam praktik religi agama Buddha sangat penting dalam upaya menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan cinta kasih (metta). Sabar bukan hanya terbatas pada kesediaan dan kerelaan seseorang untuk menunggu dalam waktu lama, tetapi lebih dari itu adalah kemampuan batin untuk mengendalikan diri dari amarah sehingga tidak melakukan perbuatan yang menyakiti fisik seperti memukul dan melukai, mapun batiniah seperti menghardik, mencaci, menyalahkan dan mengucapkan kata-kata kasar yang menyakiti hati.

Kesabaran dapat dilatih dalam setiap kesempatan seperti puja bakti di vihara maupun di rumah, saat di ruang publik seperti di taman, bahkan di dalam moda transportasi umum. Setiap umat Buddha dapat melatih kesabaran ini dengan bermeditasi atau samadhi. Praktik meditasi sangat fleksibel karena dapat dilakukan dengan duduk, berdiri, mapun berjalan. Aspek meditasi yang terpenting adalah pikiran yang terkonsentrasi pada obyek perenungan, baik perenungan terhadap pernafasan (anapanasati), gerak-gerik tubuh, maupun obyek lainnya yang sesuai dengan karakter masing-masing individu.

Kesabaran juga memegang peranan yang sangat penting di teknologi 4.0 saat ini, di mana kemajuan dan perkembangan teknologi sangat cepat dan merambah secara massif ke semua lini kehidupan. Segala informasi dapat diakses setiap orang dengan mudah, baik melalui media sosial maupun kanal informasi lainnya. Mereka yang memiliki kesabaran akan dapat menganalisa setiap informasi dengan jernih sehingga dapat memberikan respon yang positif dan tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. 

Demikian pula terhadap produk-produk teknologi yang senantiasa berubah maju dan berkembang setiap saat, mereka yang memiliki kesabaran akan mampu memilah dan memilih produk yang sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya, bukan karena tergoda dan berorientasi pada gengsi maupun kemewahan. Mereka tidak takut dikatakan “jadul”, “gaptek” atau ketinggalan zaman. Buddha berkata bahwa meski disinggung oleh hal-hal duniawi, namun batin tak tergoyahkan, tiada sedih, penuh damai, itulah bekah utama (Manggala Sutta).

Kesabaran telah nyata sangat bermanfaat di saat pandemi yang cenderung meningkat saat ini. Masyarakat yang tadinya kurang memiliki kesabaran, mau tidak mau juga ikut melatih kesabaran untuk turut serta mencegah penyebaran virus Covid-19. Dengan melatih kesabaran, khususnya melalui meditasi secara rutin, setiap orang lambat laun akan menyadari hakikat kehidupan yang tidak kekal (anicca), dan penuh dengan ketidaksempurnaan (dukkha), sehingga dirinya tidak mudah emosi atau marah, dan terhindar dari pengaruh negatif. Mereka yakin bahwa persoalan yang dihadapi seperti tekanan ekonomi akibat perubahan yang drastis, pasti akan berakhir. Demikianlah hendaknya setiap orang dapat melatih diri untuk selalu sabar.

Sabbe satta bhavantu sukkhitatta. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.