Kesaksian Abraham

Bapak, ibu yang dikasihi dalam Tuhan. Mimbar Kristen pekan ini membahas kebenaran Firman Tuhan dalam Kejadian 22:1 yang berbunyi sebagai berikut:

“Setelah semuanya itu, Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: "Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau.  Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: "Bapa." Sahut Abraham: "Ya, anakku." Bertanyalah ia: "Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?" Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: "Abraham, Abraham." Sahutnya: "Ya, Tuhan."  Lalu Ia berfirman: "Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku." Lalu Abraham menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan."

Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Hari ini kita akan belajar dari sebuah tema yang bersumber dari kebenaran Firman Tuhan, yaitu Manifestasi Orang Percaya Dalam Kehidupan. Kita belajar dari tokoh Alkitab, yaitu Abraham. Apakah manifestasi orang percaya dalam kehidupan? Yang pertama, dikatakan Abraham, taat dalam mendengar dan melakukan kebenaran Firman Tuhan. 

Saudara-saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan. Ketika Allah berbicara kepada Abraham, Abraham lalu sahutnya: Ya Tuhan. Kata Ya Tuhan di sini berarti Abraham siap mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Ia mendengarkan kebenaran Firman Tuhan tidak separuh-separuh, tetapi sampai akhir. Dari cerita ini dan ketika Allah lagi berfirman kepadanya, Abraham lalu berkata ya Tuhan, jangan kau apa-apakan anak itu. Ia juga tunduk kepada suara kebenaran itu. Artinya, ia mendengarkan kebenaran Firman Tuhan dan tidak separuh-separuh tetapi sampai akhir dan sampai selesai ia mendengar kebenaran Firman Tuhan.

Saudara-saudaraku, ketika Abraham mendengarkan kebenaran Firman Tuhan, ia mendengarkan Firman Tuhan itu dengan teliti. Bagaimana ia sampai ke tempat tujuan, yaitu gunung Moria, bahkan dari jauh ia bisa memandang tempat itu, karena ia mendengar kebenaran Firman Tuhan dengan teliti. Apa yang dikatakan Allah, ia mendengarkannya dengan teliti sehingga tidak ada kesalahan yang dia buat. Perjalanan itu bukanlah perjalanan yang dekat, tetapi memerlukan waktu tiga hari. Namun, karena dia teliti dengan kebenaran Firman Tuhan, ia mengerti tempat yang dia tuju.  

Abraham bukan hanya mendengar kebenaran Firman Tuhan tetapi ia juga taat melakukan kebenaran Firman Tuhan. Ketika Firman Tuhan datang kepadanya berupa sebuah perintah. Perintah yang tidak masuk di akal, yaitu untuk membunuh anaknya sendiri dengan tangannya sendiri dan dikorbankan kepada Allah. Abraham taat melakukan kebenaran Firman Tuhan ini. Abraham taat melakukan perintah ini walaupun ia tahu bahwa perintah ini pasti memedihkan hatinya, pasti mendukai hatinya, sebagai seorang ayah yang sangat mengasihi anaknya yang tunggal. Dikatakan tunggal sebab Ismael sudah diusirnya dan sudah tidak tahu lagi di mana rimbanya. Abraham taat ia hendak membunuh anaknya sendiri, sampai dengan saat-saat terakhir, ia mengangkat tangannya dan hendak menyembelih anaknya. Di sini Abraham adalah orang yang sangat taat dalam melakukan kebenaran Firman Tuhan. Dia lebih taat kepada Tuhan daripada mengasihi anaknya sendiri. 

Saudara-saudaraku yang dikasihi Tuhan. Abraham mengasihi Tuhan dengan segenap hatinya, dengan segenap kekuatannya, dengan segenap akal budinya. Memang dia mengasihi Ishak, tetapi ia lebih mengasihi Tuhan sehingga ia lebih taat kepada Tuhan daripada mengasihi anaknya yang tunggal itu. Mana ada ayah yang tega memukul anaknya bahkan membunuh anaknya sendiri. Anaknya tidak ada kesalahan apapun, tetapi ia harus membunuh anaknya dengan tangannya sendiri. 

Kita melihat manifestasi yang kedua dalam kehidupan orang percaya dari teladan Abraham. Yaitu dia bersaksi dengan imannya. Pertama, dia bersaksi kepada kedua bujangnya. Dia berkata kami akan pergi sembahyang dan kami akan pulang kepadamu. Kata kami di sini berarti jamak. Dia pergi berdua berarti dia akan pulang bedua. Padahal Alkitab berkata dia pergi dan akan mempersembahkan anaknya yang tunggal di sana, berarti ia akan pulang sendirian. Namun yang terjadi ialah ia berkata kepada bujangnya kami akan pulang berdua. 

Saudara-saudaraku, peristiwa ini mengandung sebuah kesaksian dari bapak Abraham kepada bujangnya, karena ia percaya bahwa Allah akan membangkitkan Ishak walaupun Ishak mati terbunuh menjadi korban bakaran pada saat itu. Di dalam Ibrani 11:17 dikatakan sebagai berikut:

Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Inilah iman bapak Abraham dan iman itu dinyatakan kepada bujangnya. Apabila kita menyaksikan kuasa Allah dalam kehidupan kita hari-hari ini kepada dunia ini, kuasa Allah yang bekerja di dalam kehidupan saudara dan saya, apabila kita bersaksi bagaimana Allah turut bekerja dalam kehidupan saudara dan saya, kita menyaksikan kemurahan Tuhan, kita menyaksikan kuasa Allah kepada dunia ini. 

Saudara-saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus. Kesaksian Abraham yang kedua ialah ketika Abraham berjalan bersama dengan anaknya. Anaknya yang sudah mengerti apa itu pengorbanan bertanya kepada bapaknya, bapak di sini sudah ada api, sudah ada pisau dan seterusnya tetapi di mana anak dombanya? Abraham berkata, Allah akan menyediakan anak dombanya. Betapa indahnya ayat ini bahwa Allah akan menyediakan anak domba sebagai pengganti Ishak yang akan dikorbankan. Ia memiliki iman bahwa Allah akan menyediakannya ketika pada saatnya.

Saudara-saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan Yesus. Apakah kita bersaksi kepada dunia ini bahwa Allah bekerja dalam kehidupan saudara dan saya. Apakah kita percaya bahwa Allah akan menyediakan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan kita di dalam kehidupan ini? Abraham percaya bahwa Allah akan menyediakan anak domba itu. Anak domba itu sebenarnya melambangkan bagaimana Tuhan Yesus yang akan dikorbankan di atas kayu salib. Itu berarti Allah menyediakan keselamatan bagi dunia ini melalui anaknya yang tunggal dan Allah Abraham menyaksikan itu semua. Apakah kita sebagai orang yang percaya kita menyaksikan kepada dunia bahwa ada keselamatan di dalam pengorbanan Yesus di atas kayu salib, barangsiapa yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. 

Abraham bersaksi tentang imannya kepada anak-anaknya. Apakah kita juga bersaksi kepada keluarga kita dan kepada dunia ini? Happy endingnya sangat luar biasa, Abraham sangat diberkati Tuhan. Abraham akhirnya diberkati oleh Tuhan secara luar biasa bahkan sampai kepada keturunanya pun diberkati oleh Tuhan secara luar biasa, karena manifestasi iman Abraham dinyatakan dalam kehidupannya. 

Saudara-saudaraku yang dikasihi oleh Tuhan. Bagaimana saya dan saudara-saudara dalam kehidupan ini, iman tidak bisa disembunyikan. Mari kita memanifestasikan iman kita dalam kehidupan ini dengan sebuah ketaatan kepada Firman Tuhan dan juga kita mendengar Firman Tuhan dan taat kepadanya dan kita bersaksi kepada dunia ini apa yang Tuhan kerjakan, apa yang ada telah Tuhan kerjakan kita nyatakan kepada dunia ini. Kiranya kebenaran Firman Tuhan ini memberkati engkau dan saya. Berkat Tuhan mengalir kepada kita semua, kepada setiap pemirsa yang mendengarkan Firman Tuhan ini. Di dalam nama Tuhan Yesus saya menyerahkan semuanya ini, Tuhan memberkati kita semua. Amin

Pdt. Stefanus Efendi, MA. (Sinode Gereja Kristen Nasional Injili atau GKNI)