Ketakutan Membunuh Karakter Beriman

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Dalam kelender liturgi Gereja, kita masuk dalam masa biasa ke-XII. Dalam minggu sebelumnya dan ke depan kita diajak merenungkan tema besar permenungan Khotbah di Bukit tentang taurat dan hukum baru cinta kasih sebagai keutamaan hidup. 

Dalam sepekan ke depan kita akan merenungkan kembali perihal ke-Mahakuasaan Allah atas segala ciptaan yang dikisahkan dalam Markus 4:35-40. Selanjutnya, masih kita renungkan pengajaran-pengajaran tentang Kerajaan Allah oleh Sang Guru kepada para murid dan juga orang yang lain yang mendengar pengajarannya.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Kita semua pasti pernah merasakan rasa takut dan kuatir. Ketakutan akan membuat kita putus asa, putus harapan, dan tidak mampu melangkah. Sebab, takut dibayangi oleh perasaan-perasaan lebih sulit atas permasalahan yang kita hadapi. Tidak jarang ini semua membuat kita frustasi dan malah memperbesar peluang sulit keluar dari masalah yang kita hadapi. Tetapi tidak jarang tantangan permasalahan menjadikan kita lebih kuat lagi dan tegar menghadapinya.

Bacaan Injil pada hari ini, sungguh sangat relevan dengan situasi saat sekarang. Kita sedang menghadapi penyebaran Covid-19, sebagai pintu masuk kompleksitas dampak bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kita sedang menghadapi situasi yang membuat kita bersama membutuhkan empati, solidaritas, subsidiaritas sebagai warga Gereja dan masyarakat.

Peristiwa Covid-19 rupanya menjadi pintu masuk bagi hancurnya peradaban dunia yang cenderung diwarnai oleh kecemerlangan usaha manusia dalam menjawab permasalahan hidupnya. Manusia lebih mendewakan teknologi dan cenderung menafikan aspek spiritualitas hidupnya.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Dalam bacaan pertama, dikisahkan bagaimana Tuhan menjawab Ayub atas badai yang menerpa. Jawaban Tuhan kepada Ayub memperlihatkan Kemahakuasaan Allah atas alam semesta dan seluruh ciptaan-Nya adalah mutlak. Sehingga, seluruh alam ciptaan ada dalam kuasa-Nya.

Pararel, bacaan Injil pada hari ini berkisah tentang bagaimana para murid bersama Yesus dan para pengikutnya dihantam taufan yang dahsyat dan para murid merasa ketakutan yang luar biasa. Mereka membangunkan Sang Guru dan berkata kepada-Nya. Kita pastikan bahwa ekspresi para murid waktu membangunkan Yesus pasti sangat takut dan panik, karena terancam oleh bahaya kematian. Teriakan para murid kepada Sang Guru, mendapat jawaban-Nya. Seketika, air danau yang menghantam dan masuk memenuhi perahu, ditenangkan kembali oleh Yesus Sang Guru dengan berkata “Diam dan tenanglah”. Seketika itu, danau menjadi tenang kembali dan taufan pun hilang.

Paling tidak ada dua hal penting dari kisah peristiwa ini. Pertama, dalam keadaan tak berdaya, para murid datang pada pribadi yang tepat, yaitu Yesus Sang Guru. Ada ruang kosong yang tidak mampu diisi dan dibereskan oleh dirinya sendiri dengan perhitungan akali. Mustahil, serangan badai yang dahsyat tidak mencelakai bahkan mengancam kematiannya. Namun dalam Tuhan, berbalik seratus delapan puluh derajat dan para murid terselamatkan oleh Sang Guru.

Kedua, sebuah pembelajaran untuk lebih mengenal sosok Sang Guru yang penuh misteri bagi para murid.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan. Dalam masa Covid-19 ini, kesadaran diri kita dibangunkan kembali dan juga sebagai bangsa untuk tidak takut menghadapi permasalahan yang ada. Sebaliknya, bangkit bersama mengatasi permasalahan yang ada. Dalam spirit kebersamaan, kita membangun optimisme hidup bersama Tuhan sebagai sumber hidup dan keselamatan kita sebagai pribadi dan warga bangsa.

Kita tidak mengukur hidup kita dengan ukuran kita, tetapi ukuran Allah (bdk. 2 Kor.5:17). Dalam Tuhan tidak ada yang mustahil. Tuhan Yesus Memberkati.

 

Drs. Gunawan, M.Pd. (Pembimas Katolik Kanwil Provinsi Jambi)