Ketulusan Hati

Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Mimbar Kristen minggu ini membahas tentang Ketulusan Hati. Ketulusan hati adalah sikap hati yang sangat perlu dalam kehidupan kita sehari-hari untuk menerima berkat Tuhan yang lebih besar, untuk menerima keselamatan yang agung di dalam Tuhan kita, Yesus Kristus.  Mari kita perhatikan teladan seorang yang bernama Daud dalam Mazmur 26, berbahagialah orang yang tulus hatinya.

Mazmur 26 Doa Orang yang Tidak Bersalah: “Mazmur Daud. Berilah keadilan kepadaku, ya Tuhan, sebab aku hidup dengan tulus hati. Aku berharap kepada Tuhan, dan tak ragu sedikit pun. Selidikilah aku, ya Tuhan, dan ujilah aku, periksalah keinginan dan pikiranku. Aku selalu ingat akan kasih-Mu, dan tetap setia kepada-Mu. Aku tak mau berkumpul dengan penipu, atau bergaul dengan orang munafik. Kubenci kumpulan orang yang berbuat jahat, kaum penjahat kuhindari. Kubasuh tanganku tanda tak bersalah, dan berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya Tuhan, sambil menyanyikan lagu syukur, dan mewartakan perbuatan-Mu yang mengagumkan. Aku mencintai Rumah-Mu, ya Tuhan, tempat Engkau berdiam dengan penuh keagungan. Jangan membunuh aku bersama orang berdosa, atau mencabut nyawaku bersama penumpah darah. Mereka terus-menerus berbuat jahat, dan selalu siap menerima suap. Tetapi aku hidup dengan tulus hati, kasihanilah dan bebaskanlah aku. Maka amanlah aku dari segala bahaya, aku akan memuji Tuhan dalam kumpulan umat-Nya.”

Saudaraku yang dikasihi Tuhan, apakah ketulusan hati? Apakah yang dimaksud dengan integritas? Karena ini penting sekali dan perlu di dalam kehidupan kita. Apakah integritas? Konsistensi antara tindakan, nilai-nilai, cara-cara, standar-standar, harapan-harapan dan apa yang dihasilkan darinya. Sebuah kualitas dan gagasan tentang kejujuran akan kebenaran dalam hubungannya dengan motivasi dan tindakan seseorang.

Kontras dari integritas adalah kemunafikan (hypocrisy). Yaitu, menunjukkan satu sistem nilai bertentangan satu dengan yang lain sehingga ada konflik antar nilai sehingga ada ketidakkonsistenan. 

Seorang profesor hukum Yale University yang bernama Sthephen L. Charter menjelaskan untuk memahami Integritas membutuhkan tiga langkah: 1) Kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah; 2) Bertindak atas dasar apa yang anda mengerti bahkan ketika harus menuntut harga untuk dibayar; dan 3) Mengatakan secara terbuka bahwa anda sedang bertindak atas dasar pengertian anda tentang benar dan salah.

Di dalam Mazmur 26:1, Daud mengatakan: “Berilah keadilan kepadaku, ya Tuhan, sebab aku hidup dengan tulus hati. Aku berharap kepada Tuhan, dan tak ragu sedikit pun.” 

Seorang yang berintegritas atau seorang yang hidup tulus, dia mengizinkan Tuhan untuk memeriksa hidupnya, dia mengizinkan Tuhan untuk menguji hidupnya. “Berilah keadilan kepadaku.” Artinya Daud minta diuji oleh Tuhan karena Tuhan Maha Benar, Tuhan Maha Adil, Tuhan Maha Kudus. Dia tidak mungkin salah dalam menilai manusia. Dia tidak mungkin salah dalam menilai hidup kita.

Daud mau diperiksa sedalam-dalamnya oleh Tuhan, Daud mengakui keberadaannya. Dia memohonkan kehidupannya bersih, dalam pandangan kepada Tuhan. Daud menetapkan hatinya untuk setia kepada Allah. 

Daud menetapkan hatinya untuk tulus, meskipun menghadapi perlawanan yang berat. Saat musuh di kanan kiri, menuduhnya, menghujatnya, ingin menjungkirbalikkan dan merebut tahtanya, dan bersekongkol untuk melawan, Daud meminta pembelaan dari Tuhan.

Saudara yang dikasihi Tuhan. Tuhan yang kita kenal adalah Sang Penebus. Ketika kita datang kepada Dia, Tuhan akan menebus kita. Ketika kita rela untuk mengaku, jika kita mengakui dosa, Allah adalah setia dan adil. Dia akan menyucikan hati kita dari segala kejahatan. Semua manusia sudah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, tidak ada yang memenuhi standar Allah, semua manusia meleset, semua manusia melenceng, semua manusia tidak tepat sasaran, melewati yang digariskan dan melebih-lebihkan, itulah manusia, itulah kita. Tidak ada yang sempurna. Tetapi mari kita datang kepada Tuhan pada kesempatan ini seperti Daud, Tuhan periksa hidupku, Tuhan ujilah aku, Tuhan luruskan kalau ada yang salah dalam hidupku. 

Saudara yang dikasihi Tuhan. Seorang yang tulus hati dan berintegritas, bukan berarti tanpa cacat, dosa, dan cela, kita mengalami proses. Tuhan memilih kita, Tuhan menebus kita oleh darah Yesus, tetapi juga Tuhan menguduskan kita. Kuasa penebusan, kuasa Firman Allah dan kuasa Roh Kudus. Daud mau diperiksa oleh Roh Allah, Daud mau diperiksa oleh Firman Allah dan Daud mau menghidupi ketulusan hatinya.

Kedua, Daud mengatakan, “Selidikilah aku, ya Tuhan, dan ujilah aku, periksalah keinginan dan pikiranku. Aku selalu ingat akan kasih-Mu, dan tetap setia kepada-Mu.” Keberanian Daud di hadapan Tuhan bukan berarti Daud tanpa cacat cela, tetapi Daud berani mengakui dan berterus terang di hadapan Tuhan bahwa banyak dosa dan kesalahan yang dia lakukan. Daud juga berani mengatakan lihat aku, sucikan hidupku, sempurnakan hidupku supaya aku dewasa supaya aku bertumbuh, supaya aku kuat, supaya aku teguh. Tuhan ubah aku.

Saudaraku kata yang dipakai dalam Bahasa Ibrani artinya utuh, penuh, jujur, matang, tak bersalah, sempurna, sederhana, dan lurus. Saudaraku, Daud sudah membereskan masa lalunya yang bergelimang dengan dosa, ia telah mengakui dosanya. “Dalam kandungan ibuku aku diperanakkan dalam dosa, tetapi aku percaya penebusku hidup, darah Yesus berkuasa menyucikan dan Roh Kudus tidak meninggalkan aku.” Itulah jaminan mengapa Daud bisa berkata kepada Tuhan ini aku di hadapan Tuhan, Engkau melihat seluruhnya, motif-motif yang ada di balik kehidupanku. Tuhan memperhatikan motivasi lebih dari perbuatan kita. Orang melihat rupa, orang melihat apa yang tampak di luar, tetapi Tuhan melihat hati. 

Ketiga, belajar dari Daud, kita menetapkan kepercayaan kepada Tuhan. Hari-hari ini adalah hari-hari ujian, penuh dengan kesengsaraan, penderitaan, luka, dan pergumulan yang berat. Tetapi bagi Daud, dia menetapkan kepercayaannya kepada Tuhan. Daud mau tetap setia kepada Tuhan. Dia telah menetapkan standar ketulusan dan dia mau menghidupi standar ketulusan. Dia tidak mau membalas dendam. Pembalasan adalah hak dari Tuhan. Daud mengatakan, kepada Tuhan saja aku percaya dan tidak ragu-ragu. 

Saya mau bertanya, di tengah-tengah kesulitan pada hari-hari ini apakah saudara tetap percaya kepada Tuhan? Tuduhan kanan kiri, serangan kanan kiri, cemoohan kanan kiri, penindasan dari dunia, dari mana pun yang menyerang saudara, masalah yang bertubi-tubi, hidup penuh dengan pergumulan apakah saudara tetap menetapkan untuk percaya kepada Tuhan? Dan tetap setia kepada Tuhan dan saudara tetap tulus? Ya Tuhan kepadamu aku percaya dan menyerahkan hidupku.

Saudara yang dikasihi Tuhan. Hidup yang berintegritas adalah pola kehidupan yang dibangun oleh Daud. Seharusnya pola hidup seperti itu menjadi pola hidup kita juga. Prinsip ini adalah prinsip yang tidak berubah oleh waktu dan masih berlaku di zaman sekarang, kita harus hidup mempercayai Tuhan dan tidak ragu-ragu. Mengikut Tuhan dengan segenap hati apapun yang terjadi di belakangmu.  

Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Tuhan. Dalam Mazmur 78:72 dikatakan bahwa Daud adalah seorang yang menggembalakan umat Tuhan dengan ketulusan hatinya. Demikian juga kita di zaman sekarang. Kiranya kita akan menjadi pemimpin-pemimpin, menjadi orang-orang Kristen yang tulus hatinya. Kita menyerahkan secara mutlak kehidupan kita kepada Tuhan, penilaian Tuhan, dan bukan penilaian manusia ataupun penilaian musuh-musuh kita. Saudara ketulusan hati adalah buah dari perjalanan bersama dengan Tuhan. Dia baik, kita izinkan Tuhan memperbaharui hidup kita setiap  hari bahkan motivasi-motivasi kita dimurnikan oleh Tuhan.

Saudara, integritas dalam kehidupan sehari-hari adalah mengatakan kebenaran kepada diri sendiri. Kejujuran artinya mengatakan kebenaran kepada orang lain di tengah budaya polesan dan budaya instan, di tengah budaya plagiat, di tengah budaya pencitraan, di tengah budaya mencari panggung, di tengah mencari popularitas, di tengah budaya tebar pesona, di tengah budaya kekerasan, di tengah budaya hoax. 

Pertanyaannya adalah apakah saudara masih berdiri di tengah integritas? Apakah kita berani mendekonstruksi budaya dunia? Dan mewarnai dunia ini dengan budaya kasih Allah? Apakah saudara berani menuliskan narasi kejujuran di tengah kehidupan bermasyarakat? Apakah saudara berani memberitakan kabar baik, yaitu Injil bahwa Yesus adalah jalan kebenaran dan hidup melalui hidup saudara? Melalui kepribadian saudara? Melalui perkataan Saudara? Dalam hidup dan keluarga saudara, di tengah-tengah pencitraan secara nasional, kita harus belajar untuk rendah hati. 

Masalah bangsa Indonesia demikian berat. Kemenag menyebutkan bahwa angka perceraian pada tahun 2019 mencapai 480.600 kasus. Dari 72 juta rumah tangga, 4,7 juta pasangan bercerai. Apakah yang menyebabkannya adalah adanya ketidaktulusan? Ada ketidakjujuran dalam komunikasi? Ada perselisihan yang tidak terselesaikan? Ada pengelolaan keuangan yang tidak jujur? Ada pasangan-pasangan yang tidak setia? Pertanyaannya adalah apakah saudara tetap memegang janji pernikahan saudara sampai akhir? Gereja harus menjadi pilar integritas. Apakah saudara berani menghidupi budaya handuk dan baskom? Saudara berani dengan rendah hati, dengan tulus dan sederhana mensucikan sesama. 

Orang yang bernama John Maxwel, pelatih kepemimpinan yang ternama mengatakan, kekuasaan sesungguhnya ujian dari karakter. Orang yang jujur akan membawa keuntungan. Rumah tangga akan diuntungkan, gereja akan diuntungkan, bangsa dan kota akan diuntungkan kalau berada di tangan orang-orang yang jujur. Nelson Mandela mengaatakan, hal pertama yang penting adalah jujurlah terhadap diri anda sendiri. Saudara tidak akan memiliki impact di tengah masyarakat jika saudara sendiri tidak berubah. Seorang pembawa damai adalah semua orang yang jujur, tulus, tetapi juga rendah hati.    

Saudara. Mendiang pendeta yang termasyur, Billy Graham pernah berkata: “Tidak ada yang salah dengan seorang pria yang memiliki kekayaan. Kesalahan datang saat kekayaan memiliki seorang pria. Ketika kekayaan hilang, tidak ada yang hilang. Saat kesehatan hilang ada sesuatu yang hilang. Saat karakter hilang semuanya hilang.”

Jimmy Carter, Presiden USA ke 39, mengatakan: “We must adjust to changing times and still hold to unchanging principles.” Kita harus menyesuaikan diri dengan zaman yang berubah dan tetap memegang prinsip-prinsip yang tidak berubah, yaitu prinsip kejujuran, ketulusan, dan integritas. Rasul Paulus berkata: “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” 

Saudara. Kita percaya ada berkat bagi bangsa Indonesia, ada berkat bagi keluarga kita, ada berkat bagi gereja kita. Ketika kita meghidupi kekudusan dan menerima mandat Perintah Agung dan Amanat Agung, saudara jangan takut kehilangan kekuasaan dan pengaruh. Jangan takut karena Yesus sudah mati bagi kita. Yesus digantung di atas kayu salib, darahnya menyucikan kita dan di atas kayu salib itu Yesus berkata Aku mati bagimu. Allah mengasihi kita dengan membiarkan anak-NYA tergantung di atas kayu salib. Ia yang benar dijadikan tidak benar supaya kita yang percaya kepada-Nya dibenarkan oleh Allah. 

Saudara, mari perhatikan orang yang hidupnya tulus. Lihatlah kepada orang yang jujur dan suka damai. 

Saudara selamat menyambut Natal 2021 dengan ketulusan, dengan kesederhanaan, dengan kasih. Kiranya Kerajaan Allah turun ke atasmu. Kiranya kemuliaan Allah turun ke atasmu. Amin.

Pdt. Dr. Yohanes R Suprandono (Ketua Sinode Gereja Kasih Kristus Indonesia, Ketua I PGLII) 


TERKAIT