Kisah Pahlawan: Ustaz Saefuddin Zuhri, Pelanjut Tradisi Tuan Guru Kampung

Luas ruangan itu tidak lebih 3x5 m. Di sisi kiri tembok, menghadap utara sebuah lemari kitab berdiri tegak. Koleksinya lumayan banyak, beberapa fikih dan lebih banyak lagi kitab tasawuf. Di dindingnya tergantung sebut foto hitam-putih Allahu yarhamhu TGH Ibrahim bin TGH Khalidi, seorang ulama kharismatik dari Pesantren Islahuddin, Desa Kediri, Lombok Barat, yang melairkan banyak Tuan Guru Haji (TGH) di seluruh Pulau Lombok.

Lantai ruangan yang tidak lebih besar dari kamar kos mahasiswa itu adalah ruang tamu dari sebuah rumah kecil yang menghadap ke timur. Rumah yang terletak di gang masuk Kampung Dasan Cermen, Mataram, Lombok. Lantai plesteran semennya tanpa keramik, terbalut karpet hijau kusam. Di atas karpet itu tergelar sajadah dan tersedia beberapa asbak.

Kampung Dasan Cermen terletak di jalur ramai, yakni Jalan Raya Cakranegra-Pelabuna Lembang, Lombok Barat. Di sisi selatannya, Jalan Raya Lingkar Selatan merupakan jalur alternatif menuju Kota Mataram. Pembangunan sejak lama melbas desa ini. Penduduk yang dulunya petani sudah banyak yang beralih menjadi buruh sejumlah gudang perusahaan besar yang tumbuh subur di sekitarnya.

“Ini satu-satunya foto al-maghfurlah yang pernah ada. Beliau tidak pernah tertangkap kamera, tidak bisa dipotret, kecuali izin terlebih dahulu kepada beliau. Saya mengaji sembilan tahun kepada beliau,” demikian empunya rumah memulai pembicaraan kepada tamunya sambil menunjuk potret TGH Ibrahim.

“Seminggu lalu, saya sowan ke Gus Mus, Rembang, Jawa Tengah. Di dinding ruang tamu Gus Mus tergantung doro Allahu yarham-huma KH Bisri Mustofa (Abah Gus Mus sendiri) yang berdiri di sebelah KH Askandar Banyuwangi (Abah dari KH Nur Iskandar, SQ). Gus Mus cerita bahwa kalau foto tersebut merupakan satu-satunya foto Kiai Askandar karena beliau tidak bisa dipotret. TGH atau kiai dulu memang sakti (keramat),” penulis menimpali.

“Kiai sekarang senang selfie,” tuan rumah menjawab. Tawa pun terdengar keras di ruang tamu.

Empunya rumah adalah Ustadz Saefuddin Zuhri. Berperawakan tegap dan tidak terlalu tinggi. Kopiahnya selalu menutupi rambut ikalnya. Ia berkulit kuning, murah senyum, dan jauh dari sikap menonjolkan diri. Belakangan ini, ia sering terlihat kurang sehat. Sebab, sering merasakan gangguan di tulang bawah punggung karena sebagian besar waktu dihabiskan untuk duduk mengajar ngaji yang dijalaninya dari pagi sampai tengah malam non-stop.

Bila ada waktu yang tersisi, ia memanfaatkannya untuk mendasar kitab-kitab klasik agama, kutubul mu’tabarah. Penuhnya asbak yang berjumlah lebih dari satu di sisi sajadahnya, menunjukkan panjang waktu yang ia habiskan di ruang tamu rumahnya. 

Ruang tamu yang tidak terlalu luas, menyesuaikan dengan ukuran rumah yang bertipe sangat sederhana, ruang utama yang dipakainya mengajar. Pagi hari waktu yang disediakan untuk para santri-berumur yang rata-rata berusia sekitar 50 sampai 60 tahun.

Jadwal pengajian dibagi per kampung. Hari Senin dari kampung Karang Genteng, Selasa dari kampung Babakan, Rabu dari Dasan Geres, dan seterusnya. Santri-berumur ini biasanya para pensiunan pegawai negeri, pegawai swasta atau wiraswasta yang berkonsentrasi ibadah di masa tua. Semangat mereka tidak kalah dengan para santri-muda. Minat para santri berumur adalah mempelajari fikih dan tasawuf. Umumnya mereka mengajukan kitab yang hendak dipelajari epada Ustadz Saef. Dalam kajian fikih, mereka mendaras kitab Fathul Mu’in atau Fathul Wahhab. Kitab-kitab tasawuf yang diminati para santri-berumur ini adalah Fathul Rabbani karya Syeikh Abdul Qadir Jaelani, Al-Hikam karya Ibn Atha’illah, Minhajul Abidin dan beberapa karangan Imam As-Sya’rani.

“Almaghfurlahu guru saya, TGH Muhibbudin adalah salah seorang murid angkatan pertama dari kakak-beradik TGH Mustafa dan Ibrahim al-Khalidi. Beliau memiliki kemampuan ilmu agama yang luas dan luar biasa. Keahlian khususnya di bidang ilmu alat Nahwu dan Fikih. Saya mengaji dan mengabdi pada beliau selama sebelas tahun itu setelah menamatkan pondok sembilan tahun di Pesantren Islahuddin. TGH Muhib juga ahli tasawuf dan kerap sambat di akhir hayat kenapa dulu tidak pernah berbaiat salah satu tarekat mu’tabarah yang ada,” demikian cerita sanad Ustadz Saef.

TGH Muhibbuddin seorang ulama kharismatik dari Getap, Cakranegara, Mataram. Di Lombok, seorang ulama selalu dikaitkan dengan nama kampungnya. Dalam bahasa harian misalnya sering terdengar sebutan “Wayah Getap” atau “Wayah Pagutan” dan seterusnya. Wayah artinya syekh “orang tua atau guru”. Seperti di sebagian pulau Jawa, di Lombok, seorang ulama yang tidak memiliki pesantren atau semacam madrasah adalah hal yang lumrah. Akan tetapi tuan guru tanpa lembaga tidak jarang ada yang lebih dihormati masyarakat. Keulamaan yang dinilai memakai kriteria ilmu, keramat, dan kampung tempat menetap atau tinggal seorang tuan guru dibayangkan sebagai “pesantren”.

Dalam satu kampung biasanya terdapat satu sampai tiga tuan guru. Beberapa tuan guru senior seperti juga dituturkan Ustadz Saef, sering mengisahkan perjalanan mengaji mereka dari satu desa ke desa lain. Tumbuhnya pesantren di pulau Lombok diperkirakan diawali Almaghfurlahu TGH Shaleh Hambali, Rais Syuriah pertama Nahdlatul Ulama di Lombok. Bersamaan dengan itu, berdiri Pesantren Ishlahuddin yang didirikan para putera TGH Khalidi, Kediri yang awal abad 20 M baru pulang dari Haramain. Tak lama setelahnya di Lombok Timur, berdiri Pesantren Hamzan Wadi atau lebih dikenal dengan Bahdlatul Wathan. Ustadz Saef salah satu mata rantai pelanjut dari tradisi “tuan guru” atau kiai kampung di pulau Lombok. 

“Setela mengaji kepada beliau, saya malu memakai surban. Kemampuan ilmu alatnya demikian matang. Penjelasannya tidak saja mudah tetapi sangat menghibur,” cerita seorang muridnya.

“Saya datang dua kali seminggu. Satu kali mendalami Fikih dan satu kali menggali hikmah tasawuf. Saya tidak malu belajar padanya walaupun jauh lebih muda dari saya. Ukuran tua-muda dalam agama adalah ilmu dan amal, bukan umur,” cerita TGH Aminullah.

Ustadz Saef lahir 1971. Dari istri yang sangat dicintainya, dia memiliki tiga putera. Setiap ganti jam pelajaran di ruang tamu, istrinya menyiapkan tempat, bahkan menyiapkan pula keperluan minuman dan makanan untuk para santri.

Santri lainnya adalah mereka yang lebih muda, sebagian sudah menikah. Umurnya antara 30 sampai 40 tahun. Mereka datang dari beberapa desa di Lombok Barat dan Mataram. Jadwal mereka bergiliran pada malam hari. Bersama Ustadz Saef mereka mendaras kitab Minhatus Tsaniyah karya Syekh Abdul Wahab Asy-Sya’rani, Kifayatul Atqiya karya Syeikh Muhammad Bakri asal Indoa dan Al-Hikam karya Ibn Atha’illah.

Pada pengajian sore, terlihat para santri lebih muda lagi. sebagian besar remaja hingga seumur anak kuliahan. Mereka biasanya alumni pesantren yang datang dari berbagai tempat guna mematangkan ngaji kitab klasik. Ilmu alat adalah bidang favorit, begitu juga Fikih. Sebagian dari mereka, kadang datang kepada Ustadz Saef pada jam pengajian santri-berumur, ikut mendengarkan pengajian Fikih maupun tasawuf.

Menimbang semakin membludaknya para santri kalong yang datang dan tempat mengaji yang kurang mampu menampung mereka, pengajian memanfaatkan santren (langgar) yang lumayan luas. Di pedusunan pulau Lombok, terdapat banyak santren di dalam kampung atau di tengah sawah dan kebanyakan di pinggir jalan raya.

“Saya sudah mengurangi undangan mengajar ke sejumlah pesantren. Selain waktu, kemampuan menunggang kendaraan roda dua mulai menurun,” kata Ustadz Saef. Sebelumnya di amengajar ke beberapa pesantren sampai ke Lombok Timur. Naik motor sekitar dua jam perjalanan dan butuh empat jam pulang-pergi. Undangan pengajian umum juga sudah mulai dikurangi.

Ia dikenal sebagai ustadz yang jago ceramah dan sangat kocak. Ustadz Saef mendapat jadwal undangan pe ngajian umum yang lumayan padat. Penyaringan undangan dilakukan agar ia lebih fokus pada pengajaran kitab di rumahnya. 

Setiap ditanya tentang pendapatan atau persoalan perekonomian dalam kehidupannya, Ustadz Saef selalu mengalihkan pembicaraan ke hal lain dengan sopan tapi cair. Beberapa santri yang datang mengaji memberikan uang kepadanya tapi seringkali ia menolak.

“Kita jadi sering tidak enak kepada Pak Ustadz. Setiap mengaji saya datang membawa beberapa bungkus rokok kesukaannya,” kata Karunawan, salah satu muridnya yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Dinas Perdagangan Kota Mataram.

“Setiap pengajian saya memaksanya menerima uang, tetapi saya yakin tidak akan mencukupi kebutuhan hidup sekeluarga. Saya ibu rumah tangga, jadi bisa menaksir kebutuhan harian rumah tangga,” kata Ibu Dewi yang datang mengaji dua kali dalam seminggu.

Adab guru mengaji di kampung adalah mengajar tanpa tarif dan meyakini bhawa pengajaran agama Islam model tradisional tidak akan tergantikan oleh pengajaran agama di sekolah formal. Ngaji kalongan misalnya, tetap memiliki landasan dan kriteria yang jelas dan tegas sehingga tidak bisa dianggap rendah dari model pengajaran apapun.

“Kita harus sadar, mempertahankan model ngaji tradisional adalah kewajiban bagi mereka yang memiliki ijin ‘ijazah’ mengajar dari para ulama. Dan model ini tidak dapat digantikan metode apapun,” demikian Ustadz Saef menjelasakn soal mendasarnya sistem pengajaran pesantren dengan segala keragaman modelnya.

Beberapa putra tuan guru di sekitar Lombok Barat dan Mataram seringkali menyambangi Ustadz Saef ke rumahnya untuk mendalami sejumlah kitab khusus bidang Fikih. Ini menunjukkan otoritas Ustadz Saef sudah sejajar dengan otoritas sejumlah tuan guru di Lombok.

“Ustadz memiliki niat dan keinginan menunaikan ibadah haji. Dua tahun lalu perjalanannya ke Tanah Suci gagal karena tertipu travel haji swasta. Pengalaman itu membuatnya semakin menyadari bahwa ibadah haji sesungguhnya rencana Tuhan. Meski sudah direncanakan sedemikian rupa, akhirnya keputusan diserahkan kembali kepada-Nya. Tahun ini sempat Walikota Mataram sempat menjanjikan, tetapi janji tinggal janji. Mudahan segera diijabah ‘Nenek Kaji’ (Gusti Allah),” kata Abdurrahim, seorang mahasiswa IAIN Mataram yang mengaji padanya dua kali sebulan.

Jika suatu saat sudah wktunya dipanggil ke Tanah Suci, di masa mendatang masyarakat akan memanggilnya dengan Tuan Guru Saef Dasan Cermen.

Hasan Basri
Tulisan ini diambil dari buku “Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah para Pejuang Pendidikan Islam” yang diterbitkan Ditjen Pendidikan Islam, Kemenag, tahun 2015.