Kita Bukan Penakluk Alam

Salam Kebajikan, Wei De Dong Tian. Banyak fenomena alam yang tidak biasa terjadi sekarang ini. Beberapa negara yang tidak pernah mengalami hujan salju, tiba-tiba mengalaminya. Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, serta beberapa negara Asia seperti Tiongkok mengalami cuaca dingin yang ekstrem. Di lain pihak es di kutub utara mulai mencair.    

Kita pun merasakan akhir-akhir ini udara terasa lebih panas daripada biasanya. Musim hujan dan musim kemarau datang silih berganti dengan kurang teratur. Banjir dan tanah longsor acap-kali terjadi dan sudah dianggap biasa. Belum lagi polusi udara terasa menyesakkan nafas.    

Banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Salah satu upaya adalah ditandatanganinya Piagam Bumi serta kompensasi yang diberikan pada negara-negara seperti Indonesia untuk melindungi hutannya sebagai paru-paru dunia dan meredam pemanasan global.

Bagi agama Konghucu, isu kritisnya adalah kembali kepada dimensi spiritual harmoni dengan alam, dalam kesatuan Tian, di, ren. Dalam agama Konghucu, diakui sepenuhnya bahwa manusia terikat dengan bumi, tubuh, keluarga dan komunitas, serta tidak pernah mengingkari bahwa manusia selaras dan sepadan dengan tatanan kosmis.    

Eksistensi komunal, keluarga, jasmaniah, dan alam semesta/bumi merupakan praktik pengikut Konghucu yang bermakna transenden. Hal ini misalnya terlihat dari prinsip feng-shui (angin dan air) yang menyatukan rencana manusia dengan lingkungan melalui peningkatan kedekatan dengan alam.    

Ajaran Nabi Kongzi tentang bakti juga menekankan pentingnya sikap untuk tidak semena-mena terhadap alam. Zengzi berkata, “Pohon wajib dipotong pada waktunya; hewan-hewan wajib disembelih pada waktunya.” Nabi bersabda, “Sekali memotong pohon, sekali menyembelih hewan tidak pada waktunya, itu melanggar laku bakti” — Li Ji XXI: II: 13

Prof. Tu Wei Ming seorang ahli agama Konghucu dari Harvard mengartikan kekaguman dan ketakziman terhadap alam semesta karena didorong oleh harapan untuk merespon realitas tertinggi yang membuat hidup bermakna dan bertujuan. Dari perspektif penciptaan ataupun evolusi, manusia berhutang budi pada ‘Tian, Bumi, dan ribuan benda’ untuk mendukung eksistensi diri.    

Dalam upaya membayar kembali hutang ini, manusia wajib membina diri sehingga bisa mencapai kemanusiaan secara penuh di tengah-tengah keajaiban eksistensi. Dalam pengertian tertinggi, realisasi diri bergantung pada mengetahui dan melayani Tian.

Mutualitas hati dan pikiran manusia dan Jalan Suci Tian diperantarai oleh pembinaan hubungan yang harmonis dengan alam. Melalui pembinaan diri semacam itu, manusia membentuk tiga serangkai dengan Tian dan alam semesta. Menjadi tiga serangkai merealisasikan secara penuh potensi mereka sebagai makhluk kosmologis atau pun antropologis.

Pengertian mengenai mutualitas ini, yang dicapai melalui hubungan tiga serangkai, menghalangi pembebanan kehendak manusia pada Tian dan mentransformasi keinginan manusia untuk menaklukkan alam. Melalui keyakinan dan pemahaman ini, manusia tidaklah sekali-kali berkehendak menaklukkan alam dan menyombongkan diri sebagai penakluk alam, namun menghargai peran alam dalam membawa manusia ke pencapaian yang lebih tinggi.

Contoh sederhana misalnya dalam upaya pendakian gunung tertinggi di dunia, saat mencapai puncak tertinggi, manusia tidak mengklaim dirinya sebagai penakluk gunung tersebut saat menancapkan bendera, tetapi dia bisa menjadi yang tertinggi karena dia didukung oleh gunung tersebut. Sikap seperti ini akan membawa pemanfaatan alam dengan lebih bijaksana dan tidak semena-mena.

Lagi pula memangnya manusia mampu menaklukkan alam? Kenyataannya fenomena alam tidak biasa yang terjadi sekarang adalah akibat ulah manusia yang terlalu sombong menjadi seorang penakluk. Harmoni bukanlah tentang menaklukkan tetapi tentang mutualitas, tentang kesadaran bekerjasama, menghargai dan mempengaruhi secara positif.  Shanzai

Dq. Uung Sendana Linggaraja (Dosen)


TERKAIT

Kekristenan yang Hampa

Pelimpahan Jasa 

Pintu Selalu Terbuka

Sikap terhadap Mukjizat