Makna Filosofis Upakara dalam Upacara Yadnya 

Om Swastyasatu, Om Awighnam astu namo sidham, Om sidhir rastu, tat astu swaha. Om guru brahma, guru wisnu, guiru dewa, maheswara  guru saksat param brahma tas mai sri gurawe namah.

Dharma wacana pekan ini mengangkat topik, Makna Filosofis Upakara dalam Upacara Yadnya. Upakara secara etimologi berasal dari upa dan kara. Upa artinya dekat, dan kara yang berarti tangan. Sehingga, upakara dimaknai sebagai persembahan suci yang berasal dari kreativitas tangan. 

Umat Hindu mengidentikkan upakara itu dengan sebutan bebantenan. Dalam susastra suci bhagawadgita, IX.26 menyebutkan bahwa “patram, puspham, phalam, toyam, yo me baktya prayachati, tad aham baktya upahrtam, asnami prayatat manah.” Artinya, siapapun yang mempersembahkan sehelai daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan, dan segelas air akan aku terima sebagai persembahan hatimu yang tulus ihklas. 

Lalu kenapa ada aneka bebantena? Hal tersebut karena kita sebagai manusia memiliki daya kreativitas, jnana, seni budaya yang perlu dikembangkan. Pada sisi yang lain para maha rsi yang menerjemahkan ratusan lontar bebantenan berdasarkan strata  sosial. Dengan demikian umat Hindu diharapkan bijak memilih lontar bebantenan yang mana pas untuk masyarakatnya, dan untuk dirinya sendiri, agar berupacara tidak ribet, dan mengeluarkan biaya yan g besar.

Mungkin ada pertanyaan untuk apa kita membuat bebantenan? Bebantenan yang kita buat, sebagai media untuk membayar hutang  yang disebut dengan Tri Rnam. Yakni, tiga hutang yang  terdiri dari dewa rnam, pitra rnam, dan rsi rnam. Hutang tersebut kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada perayaan hari raya suci, kliwon, purnama, tilem, hari saraswati, pagerwesi, siwa ratri, buda cemeng klawu, dan hari raya lainnya sebagai pembayaran hutang kepada dewa.

Dalam Bhagawadgita, III.10, disebutkan bahwa sesungguhnya sejak dahulu Tuhan telah menciptakan manusia melalui yadnya, dan berkata dengan cara ini engkau akan berkembang sebagaimana sapi perah yang memenuhi keinginannmu. Sedangkan hutang kepada pitra yadnya berupa upacara ngaben. Tidak hanya itu saja, mematuhi dan hormat kepada orang tua juga merupakan bagian dari pitra yadnya. 

Terakhir adalah Rsi yadnya dengan cara medana punia, dan ngaturang rsi bojana. Sebab, para maha rsi kita telah memberikan pengetahuan dan ajaran suci kepada kita sekalian.

Lalu, apakah fungsi dari bebantenan tersebut? Pertama, sebagai perwujudan sanghyang widi, seperti banten daksina, artinya brahma, menguasai arah selatan. Kedua, sarana persembahan, misalnya ada banten gebogan, ajengan, tipat kelanan. Ketiga, sarana permohonan, terdapat pada aneka sesayut, seperti sesayut tulus ayu, sida lungguh, enteg sakti, sida karya, sida purna, amerta dewa dan masih banyak lainnya yang jumlahnya ratusan. Keempat, sebagai sarana penyucian seperti kita lihat ada banten byakala, durmenggala, prayascita, caru dan segehan. 

Dalam lontar yadnya prakerti juga disebutkan makna banten, yaitu sahananning banten pinaka ragante twi, sahananning banten pinaka ananda bhuwana, sahannaning banten pinaka rupaning ida bhatara. Artinya bahwa bebantenan simbul diri kita, sehingga ada banten daksina, pejati, atau suci sebagai kepala, jerimpen sebagai simbul tangan, dada kiri  terdapat pada banten pengambean, dada kanan banten peras , sesayut simbul perut, dapetan simbul puset, dan kaki adalah caru, atau segehan. Kedelapan hal tersebut disebut dengan asta karaning yadnya. Bebantenan simbol alam semesta, ada gunung, danau, ada bulan, matahari, dan bintang. Bebantenan juga simbol sanghyang widhi (seperti pada byakala simbul dewa, brahma, durmenggala simbul wisnu, dan prayascita simbul siwa). 

Bagaimana sesungguhnya cara membuat bebantenan agar praktis, efisien tidak ribet dan tidak mahal? Itu tergantung dari pemahaman, situasi, dan kondisi diri kita. Dalam manawadharmasastra, VII. 10 menyebutkan bahwa dalam berupacara kita perlu mempertimbangkan yang namanya, iksa, sakti, desa, kala, tatwa. Iksa merupakan tujuan upacara. Sakti terkait dengan kemampuan ekonomi. Kala kaitannya dengan hari baik, ala ayuning dewasa. Tatwa adalah mengacu pada sastra. 

Untuk tingkatan ada nista/alit atau inti, madya menengah, utama bagi yang mampu. Ketiganya akan memiliki makna kualitas yang sama, bedanya di kuantitas. Apakah dengan utama kita akan memperoleh sorga? belum tentu, begitu juga sebaliknya. Walaupun alit atau nista tingkatan upacara kita, jika dilandasi dengan rasa bhakti yang tulus ikhlas, maka persembahan kita akan menjadi utama dan berpahala besar. 

Mari kita pahami bersama bahwa di dalam pelaksanaan ritual upacara agama, kaitannya dengan upakara sebagai rohnya upacara, agar kita mengembangkan sikap hati yang tulus dan ikhlas sehingga satwika yadnya dapat kita wujudkan dalam praktik keagamaan kita. Semoga bermanfaat, Loka samastha sukhino bhawantu, semoga semua makhluk berbahagia. Om Santih, Santih, Santih Om

Ni Komang Wiasti,S.Pd,M.Pd.H (Rohaniwan Hindu)