Melihat dari Dekat Madrasah Ibtidaiyah Negeri Klungkung Bali

Klungkung (Kemenag) --- Kedatangan kami ke Pulau Dewata kali ini sebenarnya sama dengan perjalanan-perjalanan dinas ke daerah lainnya. Ini kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahun untuk melakukan evaluasi paska pelatihan yang dilaksanakan Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Kementerian Agama.

Kali ini, saya dan mas Supriyadi bertugas melakukan Evaluasi Paska Pelatihan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Klungkung Bali. Kami ingin mengetahui seberapa manfaat pelatihan yang dilakukan Pusdiklat bagi peserta pelatihan. Apakah materi yang didapatnya selama mengikuti pelatihan bisa meningkatkan kompetensinya, bermanfaat untuk lembaga tempatnya bekerja, dan juga koleganya.

MIN Klungkung ini terletak di jalan Prajurit gang Gujarat Desa Kampung Gelgel Kecamatan Klungkung Kabupaten Klungkung Provinsi Bali, sekitar 43 km dari Kota Denpasar. Jika ditempuh dengan kendaraan pribadi di waktu PPKM seperti sekarang ini, hanya membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam.

Memasuki halaman madrasah, kami menangkap kesan bagus di lembaga ini. Halamannya luas, bersih, dan di setiap depan ruang kelas diberi tempat cuci tangan yang unik khas Bali.

“Mohon maaf, Bapak Kepala sedang ada acara yudisium, jadi tidak bisa menemani bapak-bapak," ujar Rohani, salah seorang guru MIN Klungkung yang menyambut kami, Rabu (20/10/2021). Ia juga didampingi seorang guru lainnya, Hatika.  

Rohani pun mengajak kami menuju Ruang Kepala Madrasah. Di sana, sambil menyesap nikmatnya kopi Bali, kami mendengar penuturan dua perempuan ini tentang MIN Klungkung Bali. 

Hatika menyampaikan, di Kabupaten Klungkung ini ada dua madrasah ibtidaiyah. Satu MIN Klungkung ini, dan satunya lagi madrasah ibtidaiyah swasta, yaitu Madrasah Ibtidaiyah Hasanuddin.

Dukungan Masyarakat

Rohani mengisahkan, bahwa MIN Klungkung ini dulunya adalah madrasah swasta, berdiri pada tahun 1956. Cikal bakal madrasah ini berawal dari rumah Tuan Guru Haji Ahmad yang digunakan tempat belajar agama bagi anak-anak di kampung Gelgel. 

Kemudian pada tahun 1956, masyarakat berkeinginan untuk mendirikan lembaga pendidikan formal yang diakui oleh pemerintah. Lalu disepakatilah mendirikan madrasah, yang kemudian diberi nama Sekolah Rakyat Islam (SRI), dan kemudian berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah (MII).

Pada tahun 1994, atas saran dan usulan dari tokoh masyarakat, MII ini diusulkan untuk dinegerikan. Karena keterbatasan lahan usulan itu tak kunjung terwujud, dan baru terwujud pada tahun 1997, melalui SK Menteri Agama Nomor 107 Tahun 1997 tertanggal 17 Maret 1997.

Saat ini, MIN Klungkung Bali berdiri di atas lahan seluas 36 are, atau 3.600 m2 dan memiliki bangunan seluas 14.32 are. Madrasah ini memiliki fasilitas yang lumayan lengkap. Ada 9 ruang kelas, 1 ruang kepala madrasah, 1 ruang guru, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang UKS, 8 WC, 1 kantin, dan 1 gudang, dan halaman yang sangat luas.

MIN Klungkung  Bali  dikenal sebagai madrasah langganan juara, baik untuk tingkat kabupaten maupun provinsi. Prestasi akademik maupun non akademik berhasil diukir. Misalnya,  juara 2 Lomba Kebersihan dan Inovasi Madrasah Tingkat Provinsi tahun 2018, juara lomba gerak jalan indah se kabupaten Klungkung tahun 2018, dan lainnya.

Setelah bercerita panjang lebar di ruang kepala, kami pun beranjak melihat ruang kelas. Kami melihat ruang kelasnya bersih dan rapi, satu meja satu kursi. "Ruang kelas ini kalau dihias akan lebih cantik bu, diberi pernak-pernik, dikasih tema, biar anak-anak semakin senang dalam belajar," usulku.

Kami pun beranjak ke ruang kelas bagian belakang, kami melihat anak-anak yang sedang berlatih marawis melantunkan lagu 'Syaikhona,' suara vokalisnya bagus, meski penabuh alat musiknya masih belum kompak. "Mereka baru berlatih dua hari pak," kata pak guru pembinanya. 
"Dulu sebelum ada covid, anak-anak sangat senang dengan kegiatan ekstrakurikuler, termasuk marawis," imbuh Rohani.

Setelah pembelajaran dilakukan secara daring hampir satu setengah tahun, mulai September kemarin pembelajaran dilakukan dengan tatap muka terbatas, dengan shift. "Pembelajaran tatap muka dilakukan secara terbatas, hanya dilakukan satu jam setengah. Kita bekerjasama dengan Puskesmas dan Satgas Covid," terang Rohani.

Dulu sebelum pandemi, saat pembelajaran dilaksanakan di masa normal, pembelajaran dimulai dari jam 07.00 hingga jam 13.00. Setiap pagi, sebelum pembelajaran dimulai, siswa-siswi diajak untuk melakukan pembiasaan. 

Senin dan Selasa dibiasakan menghafal surat-surat pendek, Rabu dan Kamis dibiasakan perkalian dan matematika menyenangkan, kemudian Jumat dan Sabtu dibiasakan menghafal doa-doa. "Setelah pembiasaan pagi, siswa-siswi baru memulai pembelajaran," ujar Rohani. 

Saat ini, jumlah anak yang belajar di MIN Klungkung ini sebanyak 362 anak. Menurut Hatika, animo masyarakat Klungkung untuk menyekolahkan anaknya di madrasah lumayan tinggi, bahkan banyak yang rumahnya sangat jauh. "Ada beberapa anak yang jarak rumahnya dengan MIN ini sekitar 30 km'" terangnya.

"Apa yang membuat masyarakat senang anaknya belajar di madrasah bu?" tanyaku. 

"Jawaban yang paling sering kami dengar dari para wali murid adalah karena anak-anak bisa belajar agama secara lebih, dan juga bagus pembentukan karakternya," cerita Rohani. 

Sebagai madrasah yang berdiri di lingkungan masyarakat yang mayoritas beragama Hindu, MIN Klungkung ini juga bisa beradaptasi dan berinteraksi secara baik dengan masyarakat. "Tidak pernah ada masalah, kita saling menghormati antara satu dengan lainnya. Alhamdulillah semua baik-baik saja, kita hidup rukun saling memahami antara satu dengan lainnya," tutur Rohani.

Setelah kopi Bali yang disuguhkan kami habiskan, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Karangasem. (bersambung) [Muhtadin AR]