Melihat Geliat UMKM di STQH Nasional ke-26

Sofifi (Kemenag) --- Semarak Seleksi Tilawatil Qur'an dan Hadits (STQH) Nasional ke-26 yang berlangsung di Sofifi, Maluku Utara (Malut) turut membawa berkah bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).  

Salah satunya bagi Nanik, pedagang asal Maluku Utara yang turut mengais rezeki pada even yang dimulai sejak 14 Oktober lalu. Perempuan berusia 45 tahun ini mengaku bersyukur dengan pelaksanaan STQH Nasional ke-26 ini. 

"Dengan adanya STQH Nasional ini, produk lokal khas Malut bisa diketahui masyarakat Indonesia," ungkap Nanik, Minggu (17/10/2021)

“Kalau hari biasa kita jualan di warung, yang beli ya orang sekitar. Tapi ketika event ini masyarakat dari berbagai provinsi yang membeli kopi. Bahkan kopi bubuk juga banyak diminati,” sambungnya. 

Hal senada diungkapkan Roni (40). Pria paruh baya asal Jakarta ini mulai mengikuti pameran even MTQ dan STQ tingkat nasional sejak 2019. 

“Tahun 2019 pertama kali saya ikut pameran pada STQ Nasional di Kalimantan Barat. Alhamdulillah dari 1.000 buah yang saya bawa, terjual sekitar 700 buah” ungkap Roni yang berdagang baju sablon bertuliskan STQH Nasional ke-26. 

Roni menuturkan, sejak pandemi Covid-19 penjualan baju sablon menurun. Namun ia berharap selama gelaran STQHN ke-26 ini bisa meningkatkan penjualannya. 

“Baru dua hari ini Alhamdulillah sudah 400 lebih yang beli, biasanya akan meningkat pada tiga hari terakhir jelang penutupan STQH,” tuturnya. 

Petugas Lapangan UMKM Widya mengungkapkan, sekitar 75 UMKM berpartisipasi dalam pameran yang digelar selama even STQH Nasional ke-26. Tenda pameran didirikan di sebelah utara Masjid Raya Shaful Khoirot, Kota Sofifi, Maluku Utara, yang merupakan salah satu venue utama gelaran STQH Nasional ke-26. 

“Produk yang dijual cukup beragam, mulai dari makanan dan minuman khas Malut, seperti nasi lapola, air guraka, kopi sibu-sibu, perhiasan mutiara laut, batu bacan, dan baju yang bertuliskan logo STQHN,” ujar Widya. 

Menurutnya, 75 pelaku UMKM yang mengikuti pameran itu, tidak hanya diikuti oleh masyarakat Malut, tetapi ada juga dari luar daerah seperti penjual baju sablon dari Jakarta. 

“Jadi sebulan sebelum STQH kita sudah buka pendaftaran, kita utamakan bagi UMKM lokal Malut. Jika masih ada kuota kita buka untuk di luar Malut. Pendaftarannya gratis, semuanya tidak kami pungut biaya,” ungkapnya. 

(Anty)