Melihat Lebih Dekat MIN Keerom Papua 

Keerom (Kemenag) --- Hari ini, Kamis (20/5/2021), saya bersama ibu Cut N. Ummu Athiyah, Widyaiswara Utama ditugaskan Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Kementerian Agama untuk datang ke Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) yang ada di daerah Papua, tepatnya di Kabupaten Keerom. Tugas ini adalah tindak lanjut dari program pelatihan yang sudah dibuat Pusdiklat Teknis tentang Inovasi Madrasah, yang diikuti perwakilan MIN dari berbagai provinsi di Indonesia, sebuah program pelatihan yang dirancang untuk membantu stakeholder madrasah bergerak maju lebih cepat.

MIN Keerom yang saya datangi ini adalah satu dari tiga MIN yang ada di provinsi Papua. Dua lainnya adalah MIN Kota Jayapura (KOYA), dan MIN Manokwari. MIN Keerom ini terletak di Distrik Arso IV Skanto Kabupaten Keerom. 

Untuk sampai di MIN Keerom ini, kami harus melakukan perjalanan lumayan panjang, sekitar dua jam dari Kota Jayapura. Mulanya kami melewati jalan besar, jembatan merah yang menghubungkan Distrik Holtekam dengan Distrik Hamadi, lalu kami melewati sedikit perbukitan, dan sebagian jalan kecil tak beraspal. 

Saat kami datang, para guru sudah berdiri berjejer menyambut kami. Di depan gapura juga terpasang baliho selamat datang untuk Ibu Cut N. Ummu Athiyah, Widyaiswara Pusdiklat Tenaga Teknis. 

“Wah kok pakai disambut segala sih, Pak,” bisik saya pada Kepala Seksi Pendidikan dan Bimas Islam Kamal yang menemani perjalanan kami dari Kota Jayapura ke Keerom ini. 

“Itu sudah biasa, Pak. Sudah tradisi,” sahut alumni pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur ini. 

Ternyata menuru Kamal, tradisi penyambutan ini tak hanya dilakukan para guru kepada tamu saja, tapi juga kepada murid-muridnya. Hal ini pun diaminkan Kepala MIN Keerom Arsyad Welemuli. Ia menceritakan, bahwa setiap pagi semua guru terbiasa menyambut kedatangan murid-murid di MIN Keerom. 

Setiap hari semua guru di MIN sudah datang jam 06.30 WIT.Mereka berdiri berjajar, menyalami satu persatu siswa-siswi yang datang sebelum mereka memulai pembelajaran di kelas pada jam 07.00 WIT. "Ini adalah cara kami melakukan pembiasaan baik kepada para murid sebelum mereka memulai pembelajaran di dalam kelas. Ini hal sederhana dan mudah, tapi bisa membantu membentuk karakter siswa," tuturnya.

Arsyad bercerita, bahwa berdiri menyambut siapapun yang datang sudah menjadi kebiasaan. "Karena ini sudah menjadi kebiasaan kami, maka siapapun yang datang ke MIN ini pasti kita sambut sesuai dengan kebiasaan kami," tambahnya.

Selesai berkenalan, kami diajak keliling MIN. Sekilas, MIN Keerom ini tampak sederhana, namun fasilitas yang dimiliki MIN Keerom ini ternyata cukup lengkap. Pertama-tama kami diajak ke ruang UKS. Kami melihat di ruang UKS ini dilengkapi dengan kamar mandi di dalam, pendingin ruangan, dua tempat tidur standar Kementerian Kesehatan, kotak obat-obatan, dan beberapa perlengkapan kesehatan.

Arsyad bercerita bahwa UKS di MIN Keerom ini cukup bagus. Menurutnya, UKS ini telah berperan besar dalam prestasi MIN Keerom meraih penghargaan Adiwiyata selama tiga tahun berturut-turut, sejak 2018. Tak hanya itu, MIN Keerom juga menjadi juara Lomba Sekolah Sehat tingkat Kabupaten Keerom pada tahun 2019.

Selepas dari UKS, kami diajak ke ruang guru. Ada 32 guru di MIN Keerom ini, 21 berstatus PNS dan 11 berstatus honorer. Kami melihat ruang guru ditata rapi berjajar menghadap ke depan semua. Saya tanya kepada beberapa guru dan juga pak Kamal, Kasi Pendidikan dan Bimas Islam Kabupaten Keerom, apakah nyaman dengan model tempat duduk yang berjajar seperti para siswa ini? 

Kami pun berdiskusi. Bagaimana seandainya cara penataan duduknya sedikit diubah? Yaitu pengelompokan tempat duduk guru berdasarkan mata pelajaran atau guru kelas? jadi guru kelas tempat duduknya dikelompok dengan sesama guru kelas, lalu guru mata pelajaran (fiqih misalnya), disatumejakan dengan guru fiqih lainnya, dan sebagainya.

“Apa manfaatnya,Pak?” tanya salah seorang guru (maaf saya lupa namanya). 
“Banyak,”sahut saya. 

“Salah satunya adalah kebersamaan dan kemauan untuk saling berbagi pengalaman mengelola kelas, atau berbagi metode untuk mata pelajaran yang sama. Atau juga mendiskusikan tugas dan rencana-rencana pembelajaran ke depan yang tepat karena adanya kesamaan mata pelajaran yang diajarkan, atau tugas sebagai guru kelas,”imbuh saya.

Sedikit bergeser, saya diajak ke ruang ekspose. Ini adalah ruangan yang penuh dengan hasil kerajinan anak-anak dan juga dewan guru. Beragam kreativitas yang ada kebanyakan memanfaatkan limbah, seperti lingkaran botol air mineral yang dirangkai menjadi tempat menaruh tissue, vas bunga, mainan anak-anak. Kreativitas ini juga memanfaatkan bambu dan dedaunan yang banyak ditemukan di sekitar madrasah. (lihat gambar)

Kerajinan hasil karya siswa MIN Keerom Papua

Tergelitik karena kreativitas anak-anak, kembali saya mengajukan usul, bagaimana seandainya hasil karya anak-anak ini ditempatkan di kelas-kelas? Sehingga kelas menjadi berwarna. 

Usul ini saya ajukan karena teringat dengan Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) yang digagas Ibu Jetty Maynur (Kepala MIN 3 Tangerang Selatan) di madrasah-madrasah yang ada di wilayah Tangerang Selatan dan Banten, di mana salah satu kerja kongkrit dari GSM itu adalah program "menghias kelas." Jadi semua kelas akan terlihat indah sehingga membantu anak-anak senang dengan suasana kelasnya.

Selain ruang-ruang di atas, MIN Keerom ini juga memiliki lapangan yang cukup luas, gedung olahraga, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang kepala, ruang guru, kantin, mushala, dan ruang belajar. "MIN Keerom ini memiliki 16 rombongan belajar," kisah Arsyad penuh bangga.

Sekarang, MIN Keerom ini memiliki siswa sebanyak 360 orang, terbanyak di Kabupaten Keerom jika dibandingkan dengan satuan pendidikan lain setingkat MI/SD. Arsyad bercerita bahwa animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di MIN Keerom sangat luar biasa. 

Hal senada juga diungkapkan Kasi Pendidikan dan Bimas Islam Kabupaten Keerom Kamal. Setidaknya ada dua alasan yang membuat animo masyarakat cukup tinggi untuk mendaftar ke MIN Keerom. Pertama, MIN Keerom adalah madrasah yang berprestasi. Kualitas pembelajarannya bagus, kegiatan ekstra kurikulernya juga banyak dan lengkap, ada 9 jenis. Kedua, MIN Keerom ini tumbuh di lingkungan masyarakat yang lumayan padat dan religius.

Di musim pandemi, madrasah yang berdiri di atas lahan seluas satu hektar ini melakukan pembelajaran secara tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. "Di Keerom ini sinyal sangat susah. Atas kesepakatan bersama antara orang tua murid dengan madrasah, karena Keerom ini adalah daerah zona hijau, maka pembelajaran kami lakukan tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan" ujar Arsyad. 

Untuk memastikan protokol kesehatan berjalan dengan baik, pembelajaran dibagi dua shift, dan di depan setiap kelas diberi tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya. "Proses pembelajaran anak-anak dibagi menjadi dua shift agar-agar jarak antara satu anak dengan lainnya bisa diatur," imbuh Arsyad.

Sebagai tamu, saya benar-benar merasa bangga, senang, sekaligus terharu dengan perjuangan kepala, para bapak dan ibu guru di MIN Keerom ini. Madrasah yang berada jauh dari ibukota negara, provinsi, dan kabupaten ternyata memiliki banyak prestasi, diminati, dan keberadaanya sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Sungguh, mengelola pendidikan di tempat yang jauh seperti di MIN Keerom ini membutuhkan tekad, kesungguhan, dan juga kesabaran. Semoga ke depan semakin banyak madrasah yang hebat bermartabat. [ ] 

(Muhtadin AR, ASN Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan)