Memahami Ajaran Sanatana Dharma

Om Swastystu. Om Awignmastyu Namosidham. Semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

Umat Hindu yang berbahagia. Agama Hindu bagi banyak masyarakat juga dikenal dengan nama Sanatana Dharma (kebenaran yang abadi). Ajaran kebenaran yang telah ada ribuan tahun yang lalu ini  banyak mengandung  ilmu pengetahuan, baik pengetahuan tentang materi hingga pengetahuan tentang rohani. Ajaran ini juga mempunyai pandangan yang luas akan hukum dan aturan moralitas sehari-hari  yang berdasar pada karma, dharma, dan norma kemasyarakatan. Oleh karena itu, ajaran agama Hindu dikenal sebagai ajaran pengetahuan yang sangat lengkap.

Selain mengajarkan banyak hal, agama Hindu memiliki banyak kitab suci, baik Sruti maupun Smriti (smerti). Weda adalah salah saat kitab suci umat Hindu yang merupakan  kumpulan  wahyu  dari Tuhan. Pada awal turunnya wahyu, Weda diajarkan  dengan  sistem lisan dari mulut ke mulut.  Weda juga diyakini sebagai sastra tertua dalam peradaban  manusia  yang masih  ada hingga saat ini.

Tujuan agama Hindu adalah mencapai kebahagian rohani dan kesejahteraan jasmani. Dalam Weda, hal ini disebut Mokshartham Jagathitaya Ca Iti Dharma. Untuk mencapai hal tersebut, agama Hindu menjabarkan menjadi tiga kerangka dasar. Tiga kerangka dasar tersebut terdiri dari Tattwa  (Filsafat), Susila (Etika), dan Upacara (Yadnya).

Tattwa (filsafat) adalah cara kita melaksanakan ajaran agama dengan mendalami pengetahuan dan filsafat agama. Tattwa sebagai  dasar keyakinan Hindu mencakup lima hal yang disebut Panca Sradha, yaitu: Widhi Tattwa atau Brahman, Karmapala Tattwa, Punarbhawa Tattwa, Karmaphala Tattwa, dan Moksha Tattwa. 

Susila (Etika) adalah cara kita beragama dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan sehari-hari agar sesuai dengan kaidah agama. Susila memegang peranan penting bagi tata kehidupan manusia sehari-hari. Realitas hidup bagi seseorang dalam berkomunikasi dengan lingkungannya akan menentukan  sampai  di mana kadar budi pekerti manusia itu sendiri. Ia akan memperoleh simpati dari orang lain manakala dalam pola hidupnya selalu mencerminkan ketegasan sikap yang diwarnai oleh ulah sikap simpatik yang memegang teguh sendi-sendi kesusilaan.

Upacara adalah kegiatan keagaman dan karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa atau rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma sesuai ajaran sastra suci Hindu yang ada.  Yadnya  dapat pula diartikan memuja, menghormati,  berkorban, dan penyerahan dengan penuh kerelaan berupa apa yang dimiliki demi kesejahteraan serta kesempurnaan hidup bersama dan kemahamuliaan Sang Yang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dalam bentuk ritual Yadnya yang dikenal dengan Panca Yadnya.

Ketiga bagian tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Ketiganya harus dimiliki, dipahami, dan dilakasanakan oleh umat Hindu semuanya.

Dari tiga kerangka  ajaran  agama  Hindu  ini, apabila  umat  Hindu  mampu melaksanakan dengan   sebaik-baiknya, maka akan mempunyai dampak kehidupan yang luar biasa, baik untuk diri pribadi, keluarga, alam sekitar, serta seluruh dunia dan isinya. Keseimbangan  alam dan keharmonisnnya dapat dengan mudah terwujud. Dengan memaknai Tattwa sebagai bentuk keyakinan bahwa Tuhan adalah maha segalanya, maka secara otomatis akan membuat manuasia untuk hidup berdampingan saling menjaga, saling mengasihi, hidup rukun, asah asih dan asuh, baik kepada manusia maupun sesama ciptaanNya.

Dalam konsep ajaran Hindu, kebahagiaan hanya akan terwujud jika adanya hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Ajaran ini disebut Tri Hita Karana (tiga faktor penyebab terwujudnya kebahagiaan). Manusia memiliki peranan utama dalam mewujudkan keharmonisan antara ketiga faktor tersebut.

Dalam kehidupan ini semua aktivitas memiliki aturan/etika/susila. Semua yang ada di alam bebas maupun di dunia harus mengikuti aturan dalam pergerakannya. Jika aturan ini tidak diikuti maka pasti akan terjadi kekacauan. 

Dalam mewujudkan keharmonisan  antara manusia dengan Tuhan, manusia memiliki kelebihan dalam menerima ajaran-ajaran susila/etika dalam menghubungkan diri dengan Tuhan (sembahyang). Ada etika/aturan yang harus diikuti  dalam  melakukan hubungan dengan Tuhan, baik hubungan secara pribadi, maupun secara kolektif (bersama-sama),  misalnya persembahyangan di pura (tempat ibadah). 

Etika persembahyangan pribadi tidak dapat diterapkan pada persembahyangan bersama, demikian juga sebaliknya. Untuk jenis-jenis persembahyangan tertentu juga memiliki aturan yang berbeda. Jika   aturan/etika ini dilanggar, maka dipastikan keharmonisan tidak akan terwujud.

Sedangkan hubungan manusia dengan alam jelas yang paling menentukan adalah manusia itu sendiri. Alam secara kodrati hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri. Dewasa ini banyak terjadi bencana alam, seperti banjir bandang, pemanasan global, angin puting beliung, dan sebagainya, jika ditelusuri maka semua  itu  adalah  akibat  ulah manusia  sendiri  yang tidak mengikuti aturan/etika dalam mengelola alam. Penggundulan hutan dengan ilegal loging mengakibatkan terjadinya banjir bandang. Membuang sampah pada aliran sungai, merusak sempadan sungai, serta pembangunan gedung/perumahan tanpa memperhatikan penyerapan dan saluran  sanitasi   yang baik mengakibatkan terjadi banjir di setiap musim penghujan.

Alam semesta memiliki aturan/hukum tersendiri dalam pergerakannya yang disebut RTA (hukum alam).  Contohnya bumi berputar pada porosnya dan mengitari matahari. Planet-planet berputar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari. Tuhan menciptakan RTA (hokum alam) untuk kehidupan.  Jika salah satu bagian alam ini tidak mengikuti aturan maka  akan terjadi kehancuran dan tentunya kita tidak menghendaki demikian.

Sejatinya agama diturunkan Tuhan adalah untuk manusia. Sehingga penerapannya lebih kepada usaha   memanusiakan manusia agar menjadi manusiawi. Prinsip dasarnya adalah bagaimana melalui ajaran agama kehidupan manusia selalu dalam keadaan sejahtera dan bahagia, diliputi suasana aman, nyaman, rukun, dan damai. Sehingga, kalua ada pertanyaan, agama apa yang baik, sebenarnya bukan pada agamanya tapi pada manusia beragamanya. Kalau agama, apapun namanya sudah pasti baik dan benar, karena merupakan ajaran Tuhan.  Hanya saja, ketika ajaran agama diperilakukan umat-Nya, seringkali tampil tidak manusiawi alias melanggar atau bertentangan dengan nilai-nilai ajaran agama itu sendiri.

Paling mendasar, keberadaan agama yang berbeda-beda bagaikan pelangi warna-warni, justru acapkali    dilumuri warna gelap hingga menutupi kecemerlangan pikiran, membutakan hati dan membekukan nurani umat, menjadi seakan-akan tidak beragama. Padahal agama adalah ajaran Tuhan, apapun label namanya bertujuan sejalan, mengangkat derajat dan martabat manusia menjadi lebih terhormat, selama hayat mengemban amanat sebagai umat, memperoleh pahala nikmat di akhirat.

Jika saja pernyataan di atas merasuk dalam pemahaman, meresap dalam penghayatan bathiniah umat, sepertinya dunia ini benar-benar akan menjelma menjadi surga di dunia nyata (swarga). Persoalannya,    sebagaimana hukum rwabhineda berlaku, selalu mencul dua kutub pandangan yang bisa jadi mempertajam perbedaan, bukan menyelaraskan misi keagamaan yang bertujuan melahirkan umat berkarakter religis spiritualis, sekaligus  humanis, dicirikan dengan penerapan ajaran keagamaan berdasar nilai kemanusiaan. Demikianlah di dalam pustaka suci Veda dinyatakan sebuah kalimat:  "Tat Tvam Asi" yang bermakna: "Itu adalah Engkau, Dia adalah Kamu, Aku adalah Dia, Engkau adalah Aku,  dan  seterusnya..." bahwa  setiap  manusia  adalah  saudara  dari manusia lainnya dan teman dari insan ciptaan-Nya. Sesanti 'Tat Tvam Asi' ini menjadi landasan etik dan moral bagi umat Hindu di dalam menjalani hidupnya sehingga ia dapat melaksanakan kewajibannya di dunia ini dengan harmonis.

Berpedoman pada filsafat "Tat Tvam Asi" maka umat Hindu sebagai bagian dari warga Bangsa Indonesia wajib  mengamalkan ajaran agamanya menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Umat Hindu hams mengabdi bagi kepentingan bangsa dan negara, serta demi keluhuran harkat dan martabat umat manusia di dunia ini.  Apa saja yang menjadi masalah  bangsa  kita  adalah masalah yang harus dihadapi bersama oleh umat Hindu, dengan bekerja sama bahu-membahu dalam suasana kerukunan sejati dengan sesama umat beragama dan sesama warga negara Indonesia lainnya. Umat Hindu tidak boleh melepaskan keterkaitan dirinya, baik secara pribadi maupun kelompok sebagai warga negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab, agama Hindu mengajarkan kewajiban moral pengabdian terhadap Negara yang disebut "Dharma Negara" dan kewajiban moral mengamalkan ajaran agamanya yang disebut" Dharma Agama"

Sebagai warga negara, umat Hindu harus tunduk dan patuh kepada konstitusi serta berupaya membudayakan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Oleh karena itu, dalam rangka sosialisasi dan inkulturasi nilai-nilai luhur agama dalam proses pembangunan nasional, maka umat Hindu harus mengamalkan ajaran agamanya secara benar dengan mengupayakan revitalisasi terhadap mantra-mantra/ayat-ayat suci Veda sehingga mampu memberikan kontribusinya terhadap kelancaran pelaksanaan pembangunan nasional menuju masyarakat madani.

Dengan demikian maka umat Hindu akan dapat berjalan seiring, selaras, serasi dan seimbang dengan umat lain karena memiliki dasar pandangan yang sama di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.  Dalam pada itu, maka  suasana kebersamaan dan kerukunan umat  beragama, maupun  sinergi suku, ras, antar golongan yang penuh perdamaian dan didorong oleh rasa kesadaran nasional, niscaya akan terwujud dengan harmonis. Kesadaran nasional sebagai esensi bangsa, yang memiliki kehendak untuk bersatu harus mempunyai sikap mental, jiwa, dan semangat kebangsaan (nasionalisme) sebagaimana menjadi tekad suatu masyarakat untuk secara sadar membangun masa depan bersama, terlepas dari perbedaan ras, suku ataupun agama warganya".

Umat Hindu Nusantara yang berbahagia. Begitu luar biasanya ajaran Sanatana Dharma kita ini. Marilah kita pelajari,  kita pahami dan kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya semua sendi-sendi  kehidupan akan dapat terwujud dan terlaksana dengan selaras, dan seimbang. Dengan demikian, rasa kemanusian akan tumbuh, keharmonisan akan terjaga, toleransi terpelihara dan perdamaian akan terwujud dimuka bumi ini. Om Shanti-Shanti-Shanti Om

Widadi Nur Widyoko S.Sos (Rohaniwan Hindu)