Membangun Karakter Generasi “MUDA”

Om Swastyastu, Om Awignam Astu Namo Sidham, Om Anubadrah Kratwa Yantu Wi Svatah. Umat sudarma yang berbahagia, pada kesempatan kali ini, tityang selaku delegasi penyuluh Kota Denpasar akan sedikit berbagi terkait “Membangun Karakter Generasi Muda”.

Umat sudarma yang berbahagia. Bapak proklamator kita pernah berkata “berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncang dunia”. Ini merupakan ungkapan penuh makna, yang secara tersirat menyatakan bahwa pemuda atau generasi muda merupakan aset besar bangsa yang dapat tumbuh dan berkembang serta membawa perubahan pada bangsa dan negara. 

Soekarno juga pernah berkata: “Seribu orang tua hanya bisa bermimpi, tapi seorang pemuda mampu mengubah dunia!”. Pesan yang begitu dalam, penuh semangat dan tantangan di balik wacana yang pernah diucapkan oleh pendiri Bangsa. 

Namun, kobaran semangat, rasa perjuangan, rasa saling memiliki, rasa cinta tanah air perlahan mulai memudar seiring berjalannya waktu, seiring berkembangnya zaman. Tidak sedikit pemuda dan pemudi penerus bangsa terjerumus kepada hal negatif. Karakter bangsa yang penuh semangat juang seakan redup. Korupsi, putus sekolah, tawuran, narkoba, provokasi, konflik antar suku agama dan ras, adalah kenyataan pahit yang wajib diperbaiki bersama melalui generasi muda. Dan, generasi muda Hindu wajib ikut serta dalam hal ini.

Umat sudarma yang berbahagia. Pemuda Hindu adalah generasi muda yang dididik dan ditempa dengan segudang tadisi dalam lingkup adat yang kental, cinta akan warisan leluhur sebagai identitas atau jadi diri yang juga merupakan bagian dari cerminan identitas bangsa. Hindu memiliki segudang ajaran etika dan pendidikan karakter yang telah diwariskan secara turun-temurun melalui kitab suci dan sumber-sumber sastra yang ada.  

Namun apa kurangnya ajaran kita? Di mana salahnya? Mengapa kekacauan, kekerasan kemerosotan karakter tetap ada? Inilah yang menjadi masalah kita bersama. Inilah yang menjadi bahan pemikiran kita bersama. Sebab, jika bukan kita selaku generasi penerus, siapa lagi yang akan mempertahankan karakter bangsa yang merupakan cerminan dari setiap ajaran agama yang sudah barang tentu mengajarkan hal yang baik. 

Umat sudarma yang berbahagia. Membangun karakter sesungguhnya membangun sebuah identitas yang akan menjadi ciri khas individual, ciri setiap suku, agama, ras dan bahkan negara. Ini bukan merupakan sesuatu yang mudah, namun juga bukan berarti tidak bisa dilakukan. 

Hindu memiliki ajaran Tri Kaya Parisudha (tiga hal penyebab kebahagiaan). Sejak dini, kita wajib belajar dan mengajarkan bahwa senantiasa berfikir yang baik (manacika), kemudian berbicara yang baik (wacika), dan berbuat yang baik (kayika). Tiga aspek ajaran agama Hindu ini merupakan sebuah pondasi dasar yang wajib tertanam dan kita ajarkan serta kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari selaku umat beragama kepada generasi muda kita, sebab semua itu akan berkaitan dengan Karma

Umat sudarma yang berbahagia. Fikiran, perkatan, dan perbuatan merupakan satu keterkaitan, sehingga jagalah dan kendalikanlah hal ini sejak di pikiran. Namun jika sulit dikendalikan dalam tahap pikiran, usahakanlah jangan sampai kita berbicara dan bahkan berbuat yang tidak baik, seperti yang dikatakan dalam Nitisastra sargah 5 bait 3: 

Wasita nimitanta manemu laksmi (dengan berbicara bisa menemukan kebahagiaan). Wasita nimitanda manemu duka (dengan berbicara bisa menemukan masalah). Wasita nimitanta pati kapangguh (dengan berbicara bisa menemukan kematian). Wasita nimitanta manemu mitra (dengan berbicara bisa menemukan sahabat).

Sastra tersbut jelas mengatakan bahwa segala yang kita ucapkan akan membawa pengaruh baik dan buruk. Sebab apa yang selalu kita ucapkan akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan kita akan menjadi karakter kita. Di sinilah perlunya wiweka generasi muda dalam memilah dan memilih perkataan yang baik demi sesuatu yang baik. Sebab, jika sesuatu yang dikatakan telah menjadi sebuah kebiasaan dan bahkan telah menjadi karakter, maka akan sampai pada sebuah tindakan yang mencerminkan karakter yang dimiliki.

Dalam sastra dikatakan “Ala ula nia ala tinemu, ayu kinardi ayu pinanggih" (buruk yang engkau lakukan buruk pula yang engkau dapatkan,baik yang engkau lakukan baik pula yang engkau dapatkan).

Umat sudarma yang berbahagia. Fenomena yang kerap kali kita lihat di masa pandemi covid-19 seperti saat ini, hampir semua kalangan masyarakat dari anak-anak, generasi muda hingga orang tua bergantung dan bahkan tidak bisa lepas dari teknologi informasi berupa smart phone. Tidak jarang kita perhatikan, pemuda dan pemudi memberikan ujaran kebencian yang cenderung kasar, SARA dan cacian yang dilontarkan dalam komentar di jejaring sosial, lalu berujung permintaan maaf. Hal ini justru terjadi secara berkesinambungan dengan perihal yang sama dengan pelaku yang berbeda. Di sinilah peran pengetahuan sebagai faktor utama pembangunan karakter generasi muda milenial agar menjadi generasi penerus yang mampu memimpin diri sendiri dan memimpin banyak orang dikemudian hari.

Dalam Bhagavad gita IV.33 dikatakan “Ilmu pengetahuan adalah yadnya tertinggi pada masa ini disamping yadnya berupa materi, sebab pengetahuan dapat membimbing kepada kebenaran”. Maka dari itu, pembelajaran berupa pengetahuan adalah sesuatu yang penting didapatkan generasi muda agar mempu menjadi pribadi yang dewasa dan memiliki karakter yang baik sebagai cerminan ajaran agama dan cerminan karakter bangsa di mata dunia. 

Generasi muda dapat diibaratkan seperti ilalang yang sedang pada masa kejayaan dengan kondisi terbaiknya. Dapat juga kita umpamakan seperti sebilah pisau yang tajam tanpa karat di tepinya. Ilalang dan pisau ini akan sangat berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri dan banyak orang, jika digunakan dengan benar, namun akan sangat membahayakan jika digunakan dengan tidak benar. Sama seperti itulah generasi muda, mereka merupakan sosok tangguh yang butuh bimbingan untuk menjadi sosok yang berguna bagi diri sendiri dan juga orang lain. Maka dari itu, peran orang tua, keluarga, lingkungan dan teman-teman sepermainan akan memengaruhi karakter generasi muda, apakah akan menjadi sosok pemimpin ataukah akan menjadi sosok pemimpi?

Tertuang dalam sastra Hindu, empat sifat utama yang harus dimiliki seseorang pemimpin yang berkarakter mulia yang dikenal dengan Catur Kothamaning Nrpati, yaitu: a) Jnana wisesa Sudha (harus memiliki pengetahuan), b) Kaprahitaning praja (belas kasihan), c) Kawiryan (berani), dan d) Wibawa (wibawa/karisma). Ini merupakan pedoman sastra yang kita miliki yang telah ada sejak dulu namun terkadang lupa kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Pertama, pengetahuan wajib dimiliki sebagai sebuah sesuluh atau penerangan menapaki jalan kehidupan. Kedua, rasa belas kasihan wajib ada dalam setiap insan. Sebab dengan memiliki rasa belas kasihan dan simpati maka secara tidak langsung telah belajar merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (tat twam asi) sehingga meminimalisir ujaran kebencian dan lain sebagainya. Ketiga, keberanian wajib dimiliki. Sebab, jangan sampai generasi muda kita hanya berani berbicara dan berani bertindak hanya untuk sesuatu yang keliru dan cenderung negatif, namun harus berani untuk sesuatu hal yang positif. Keempat, wibawa atau karisma, rasa saling menghormati yang wajib dimiliki. Dengan kita belajar mendengarkan orang lain, maka kita akan didengarkan dan lain sebagainya. Niscaya, karisma sosok pemimpin akan melekat dalam diri setiap orang dengan pondasi yang berbarakter. 

Umat sudarma yang berbahagia. Pemuda merupakan generasi penerus dan generasi yang diharapkan membawa perubahan, baik dalam lingkup keluarga maupun bangsa. MUDA yang berkarakter luhur sesungguhnya menyimpan dan mengemban tugas yang mulia. (M) Mau, (U) Usaha, (D) Dedikasi, (A) Aksi. Sesungguhnya pemuda atau masa muda merupakan masa hidup di mana generasi penerus harus memiliki kemauan, tekat, dan cita-cita, ada usaha yang kuat, penuh dengan dedikasi serta diwujudkan dengan tindakan yang pasti. Itulah yang dinakan MUDA sesungguhnya. 

Ini seperti yang tertuang dalam sastra Bhagavad Gita IX.29: “Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua mahluk. Bagiku, tidak ada yang paling kubenci dan paling kukasihi. Namun mereka yang taat padaku, aku bersamanya”. Hal ini jelas menunjukkan, siapa yang tekun, taat dan mau fokus dalan tujuannya, niscaya akan selalu mendapat bimbingan dari-Nya.

Membangun generasi muda yang berkarakter di era digital merupakan tantangan bagi kita semua. Namun hal itu bisa kita lakukan dengan langkah kecil, yaitu memulai dari diri sendiri sehingga bisa memberikan contoh kepada orang lain. Mahatma Gandi berhenti memakan permen seminggu sebelum ia memberi tahu kepada muridnya bahwa makan permen yang berlebih adalah tidak baik. Hal ini menunjukkan bahwa memberi contoh lebih baik dari pada memberi tahu. Namun, alangkah lebih baiknya kita bisa memberikan contoh namun bisa juga memberikan bimbingan pengetahuan dan penguatan bahwa karakter merupakan sesuatu yang fundamental dan penting bagi generasi muda penerus. Maka dari itu, tanamkankanlah sejak dini bahwa pengetahuan adalah kunci utama dan pertama pembangunan karakter sebab pengetahuan itu untuk kehidupan, bukan hanya untuk penghidupan. 

Tan hanya wong swati anulus, tak ada manusia yang sempurna. Sekian, tiyang tutup dengan parama santi, om santih, santih, santih om

Maha Putra Jaya, S.Pd (Rohaniwan Hindu)


TERKAIT

Idealisme Pemuda Masa Kini

Susila Medsos dalam Hindu

Bersatu dengan Kristus

Mengapa Harus Benci