Membangun Persaudaraan Sejati

Injil hari ini menceritakan kepada kita tentang Yohanes yang jengkel, ketika melihat seseorang yang bukan pengikut Yesus mengusir setan dalam nama Yesus. Yohanes berpikir bahwa harusnya kuasa untuk mengusir setan dalam nama Yesus hanya boleh dimiliki oleh para pengikut Yesus, bukan yang lain.

Itulah sebabnya Yohanes memberitahu Yesus bahwa mereka sudah mencegah orang itu. Mereka berharap bahwa ketika mereka memberitahukan hal itu kepada Yesus, Yesus akan mendukung apa yang sudah mereka lakukan terhadap orang itu. Ternyata, reaksi Yesus justru sebaliknya. Yesus melarang mereka. “Janganlah kamu cegah dia! Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.”

Yesus tidak mau mencegah orang yang mengusir setan dalam nama-Nya. Sebab Ia melihat ada tujuan baik di balik perbuatan orang itu, meskipun Ia sendiri tahu bahwa orang itu bukan pengikut-Nya. Yesus tidak ingin membatasi niat orang untuk berbuat baik.

Saudara-saudari terkasih. Di antara kita masih banyak orang yang terperangkap dalam pemikiran seperti Yohanes. Hendaknya kita selalu berpikir positif dan menjauhkan diri dari primodialisme yang mengutamakan diri dan golongan sendiri. Hendaknya kita hidup dalam persahabatan dengan semua orang dan menjauhkan diri dari sikap permusuhan. Dan lagi sudah seharusnya, kita saling mendoakan agar hidup dalam kebaikan-kebaikan sejati. Hendaknya selalu menjauhkan diri dari sikap sombong dan selalu mendoakan agar semakin banyak orang hidup dalam kebaikan.

Tak jarang dalam kehidupan kristiani, kita menemukan orang-orang semacam itu juga. Mereka yakin bahwa kebaikan hanya milik kita. Itu adalah suatu ungkapan hati yang sangat picik. Bukankah masih banyak kebaikan di luar kita? Yesus sendiri mengatakan bahwa jika seseorang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya. Di sini Yesus mengajarkan pada kita yang sebaliknya. Yesus meneladankan suatu penghargaan dan penghormatan bagi orang lain yang berada di luar kita.

Berdasarkan kisah Inji ltersebut, Yesus mengajarkan kepada kita untuk memiliki sikap hidup, yaitu:
1. Bersikap terbuka dan toleransi kepada sesame yang tidak terbatas bagi sesama yang seiman saja. Sikap terbuka dan toleransi menunjukkan suatu sikap yang tidak mementingkan diri sendiri, bersedia menerima orang lain yang tidak termasuk kelompok kita, menghargai, dan menghormati orang lain. Intoleransi terhadap iman-kepercayaan yang berbeda dengan kita mencerminkan kesombongan rohani dalam diri kita.

2. Bersikap rendah hati. Orang yang memiliki sikap rendah hati akan dapat menghargai orang lain. Hanya dengan kerendahan hati, seseorang dapat dengan bijaksana menentukan mana yang sebenarnya lawan dan mana yang kawan. Tanpa kerendahan hati, orang akan cenderung menjadikan sesamanya adalah lawan. Sama seperti Yohanes yang salah menilai apa yang dilakukan orang tersebut sebagai saingan bagi murid Yesus, padahal yang dilakukan orang itu baik.

3. Bersikap tidak berprasangka buruk. Buruk sangka merupakan salah satu sikap yang tidak terpuji. Buruk sangka dapat menimbulkan dengki, iri hati, percekcokan, perselisihan, pertengkaran, dan permusuhan. Tuhan mengajari kita supaya tidak berburuk sangka terhadap orang lain. Tuhan mengajari kita agar  tidak melarang siapa saja yang berbuat kebaikan dalam nama-Nya, karena ia ada di pihak kita. Sehingga tidak pantas dicurigai dan berburuk sangka kepadanya.

Saudara-saudari terkasih, sikap hidup yang diajarkan Yesus inilah harus kita miliki dan kita jalankan dalam hidup bersama yang penuh keberagaman agar tercipta harmoni, kedamaian, dan kerukunan. Marilah kita saling menghormati dan menghargai dalam keberagaman.

Lodovikus Lena (Kabid Urakat Kanwil Kemenag NTT)


TERKAIT

Beriman dan Berbuat di masa Pandemi

Uddhacca-Kukkucca

Merangkai Mutiara Kehidupan

Yang Terbesar Harus Menjadi Pelayan

Nasihat Paulus tentang Pemenang Sejati

Thina-Middha