Memberi dari Kekurangan

Saudara saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus. Sebagai seorang pelayan, tentu banyak kesempatan untuk mengunjungi daerah-daerah terjauh dan melihat perkembangan hidup umat di tempat-tempat tersebut. Sewaktu berkunjung ke daerah-daerah terjauh, banyak tokoh agama yang dijumpai seperti para pastor, suster, dan pimpinan umat di daerah yang terkadang sulit dijangkau.

Banyak cerita didapat dari mereka. Sebagai tokoh umat di paroki dan stasi yang jauh, mereka berupaya mendirikan kapela dan gereja. Mereka berjuang dari keterbatasan dan kekurangan dengan suatu komitmen yang teguh untuk mendirikan bangunan gereja sederhana agar mereka dapat beribadah dan memuji Tuhan. Pengalaman-pengalaman ini sangat menggugah kita untuk berefleksi akan pemberian kepada Tuhan.

Bacaan Kitab Suci hari ini, sungguh mengajak untuk kita bertanya tentang hidup dan pelayanan. Ada beberapa aspek yang ditemukan. Pertama, memberi dari kekurangan. Nabi Elia berjumpa dengan seorang janda di Sarfat, yang sama sekali tidak punya apa-apa (Raja-Raja 17: 10-16). Tatkala Elia minta untuk mengambil sepotong roti, janda itu menuturkan bahwa ia tidak memiliki apa-apa. Yang ada padanya hanya segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Ia berupaya untuk “memenuhi” permintaan sang Nabi dari kekurangannya.

Yesus menunjukkan contoh yang sangat jelas dengan pemberian persembahan janda. Bagi Yesus, ia memberi lebih banyak dari yang lain (Mrk. 12:38-44).

Kedua: memberi dengan ketulusan. Kedua perempuan dalam bacaan hari ini, mereka memberi dengan ikhlas dan tulus, tanpa menggerutu dan mengeluh. Walaupun mereka berada pada keadaan yang sulit sebagai seorang janda, namun mereka mau memberikan apa yang ada pada mereka.

Ketiga, berkat diberikan kepada mereka yang memberikan dengan keikhlasan. Perjumpaan antara nabi Elia dengan perempuan janda di Sarfat berakhir dengan sukacita. Tepung dalam tempayan tidak habis sesuai dengan firman Tuhan yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Nabi Elia. Perempuan janda dan anaknya memiliki persediaan untuk beberapa hari yang akan datang. Janda yang memberi dari kekurangan juga mendapatkan berkat dari Tuhan (Mrk. 12:43). Ia sungguh berada bersama Tuhan.

Keempat, memberi berarti berkorban. Orang yang memberi dengan tulus dari kekurangan, sesungguhnya ia mau berkorban. Yang diminta dari kita adalah berkorban yang terus-menerus. Yesus rela berkorban untuk keselamatan kita (Ibr. 9:24-28). Yesus, yang adalah anak Allah, rela menjadi sama dengan kita dan mau mengalami kehidupan kita demi mengantar kita kepada keselamatan.

Saudara saudari yang terkasih. Panggilan hidup kita yakni untuk melayani. Setiap kita berjuang untuk melayani. Orang yang melayani berarti orang yang mau memberi diri dengan hati yang tulus dan ikhlas. Dalam konteks ini, aspek pengorbanan menjadi dimensi yang sangat penting. Kita berada pada dunia yang sungguh-sungguh menantang. Orang modern adalah orang yang cenderung mencari kesenangan dan keinginan untuk dihormati. Sebagai orang yang percaya, kita terus berjuang agar tetap bersemangat dalam pelayanan.

Pengalaman kunjungan kita ke daerah daerah yang sulit dijangkau mengingatkan kita bahwa orang-orang sederhana yang berkorban di paroki/stasi tidak pernah minta untuk dihormati dan dihargai. Mereka memberi dari kekurangan tanpa seorangpun yang tahu. Bahkan, mereka sudah, sedang, dan terus memiliki komitmen untuk berkorban. Semoga kitapun tetap setia dan komitmen untuk melayani Tuhan, masyarakat bangsa dan negara. Tuhan memberkati. Amin

 

Joula P. Makarawung (Pembimas Provinsi Sulawesi Utara)