Menag Apresiasi Perayaan Idulfitri dan Kenaikan Yesus Kristus Berlangsung Damai

Jakarta (Kemenag) --- Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi perayaan Idulfitri dan Kenaikan Yesus Kristus ke Surga di Indonesia yang berlangsung dengan tertib dan damai. Ini menurut Menag, mengindikasikan toleransi di Indonesia semakin membaik. 

Dua hari besar keagamaan tersebut pada tahun ini jatuh di waktu yang sama, yakni Kamis, 13 Mei 2021. "Seperti yang kita tahu kemarin ketika umat Islam merayakan Idulfitri, di saat yang sama saudara-saudara umat Kristiani merayakan kenaikan Yesus Kristus. Dan kita lihat tidak ada apa-apa, semua damai-damai, saling menghargai, bahkan saling membantu," kata Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dalam wawancara dengan TV One, di Kediaman Widya Chandra, Minggu (16/5/2021). 

Menag menuturkan, ia banyak memperoleh informasi tentang indahnya praktik toleransi dalam perayaan dua hari besar tersebut. "Seperti yang terjadi di Solo, ada sebuah masjid yang berada dalam satu halaman dengan gereja. Umat Kristiani dengan sabar menanti hingga usai salat Idulfitri dilaksanakan, sebelum mereka melakukan kebaktian," ungkap Menag. 

"Kesimpulan saya toleransi di Indonesia sudah semakin baik. Tinggal kita tingkatkan bagaimana. Kita semua tau toleransi itu dinamis, kita bisa ngomong hari ini baik, besok belum tentu. kita harus pertahankan ini sama sama," imbuhnya. 

Untuk mempertahankan toleransi, menurut Menag, ada dua hal yang perlu dilakukan. Pertama, masing-masing umat beragama, apapun agamanya pasti meyakini bahwa ajaran yang mereka anut adalah ajaran yang paling benar. 

Meski demikian, di saat yang sama, masing-masing harus saling menghargai, saling memahami. "Saling mengerti dan saling menghargai bisa kita tunjukkan bersama sama. Ini yang pertama,"tuturnya. 

Kedua, seluruh umat harus kembali kepada jati diri bangsa ini. Menurutnya, keberadaan Indonesia ditopang oleh seluruh umat beragama. "Indonesia ini besar, Indonesia ini kuat karena keberagamannya. Tidak ada Indonesia juga tidak ada Islam, Tidak ada Indonesia juga tidak ada Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya," ungkap Menag. 

"Karena apa? Umat beragama ini dulu bersama-sama berjuang. tidak ada satu kelompokpun, satu agamapun yang mengklaim bahwa mereka yang paling berhak atas Indonesia. Semua berhak," lanjut Menag. 

Karenanya, Menag menuturkan, kehidupan Indonesia yang damai dan aman menjadi hak dari seluruh umat beragama. "Oleh karena itu karena berhak atas Indonesia itu, mari semua menjaga agar Indonesia tetap damai, tetap berkolerasi satu sama lain," harap Menag.