Menag : Jangan Takut Gunakan Label Islam

Medan, 17/9 (Pinmas) - Menteri Agama (Menag) M. Maftuh Basyuni mengatakan, umat Islam di tanah air tidak perlu takut menggunakan label Islam dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan karena negara ini tak akan "kiamat" atau hancur. "Tidak perlu takut, sejauh hal itu dilakukan memang masih dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," kata Menag di hadapan para ulama se-kota Medan, Ahad (16/9), ketika memberikan sambutan buka puasa di kediaman walikota Medan, Abdillah. Menag berada di Medan dalam rangka membuka Ramadhan Fair, di halaman masjid Raya Al Maksum Medan, Minggu malam.

Sebelumnya Maftuh memuji ceramah Prof. DR. Hasballah Thaib MA yang mengupas "jembatan hati umat Islam". Dari kajian pakar Islam itu, menteri mengomentari, persatuan merupakan hal penting dalam ajaran Islam, khususnya ketika memerangi keterbelakangan. Menonjolkan wajah atau label Islam tak akan membuat NKRI hancur.

Jika hal itu dilakukan sepanjang dalam bingkai NKRI, menteri mengatakan tak perlu takut. Karena itu ia menyambut baik digelarnya Ramadhan Fair yang Berlangsung sudah keempat kalinya. Namun di sisi lain ia mengingatkan umat Islam di seluruh tanah air akan musibah warga Bengkulu, Padang dan beberapa tempat lainnya baru-baru ini untuk peduli dengan memberi bantuan kemanusiaan. Di sinilah pentingnya jembatan hati, seperti yang dikemukakan penceramah Hasballah Thaib. Persatuan sangat penting, kata Maftuh. Berkaitan dengan persatuan itu, ia mengaku selalu "deg-degan" (was-was) ketika menyambut awal Ramadhan. Pasalnya ahli hisab dan Rukyat selalu berbeda pandangan dalam menentukan awal Ramadhan. "Kalau Sekarang ada kesamaan dalam awal Ramadhan, itu karena kebetulan," katanya.

Rasa khawatir itu belum juga hilang. Soalnya, Ormas Islam dengan Ahli rukyat dan hisabnya masih punya pandangan berbeda dalam penentuan 1 Syawal atau Lebaran. Padahal, ajaran Nabi Muhammad SAW sudah jelas, jika ada perbedaan kembalikan masalah itu kepada Al Quran dan Hadis. "Kembalikan hal itu kepada dua perkara, Quran dan Hadis. Ikuti keputusan pemerintah sebagai yang terbaik," ujar Menag. (ed/ts)