Menag Rilis Penyusunan Buku Mozaik Moderasi Agama dalam Perspektif Kristen

Jakarta (Kemenag) --- Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin merilis proses Penyusunan Buku Mozaik Moderasi Agama dalam Perspektif Agama Kristen. Penyusunan ini digagas oleh Ditjen Bimas Kristen.

”Apresiasi buat Bimas Kristen yang telah menyusun Buku Mozaik Moderasi Agama dalam Perspektif Agama Kristen ini," terang Menag di Jakarta, Kamis (01/03). Rilis buku ini dilakukan bersamaan dengan Rapat Kerja Pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Agama Kristen Pusat dan Daerah Tahun 2018.

"Kenapa harus moderasi agama? Karena kita adalah bangsa yang religius. DNA kita adalah religiusitas," sambungnya.

Menurut Menag,  agama menjadi ciri mendasar masyarakat Indonesia. Di tengah kemajemukan yang ada, maka  Indonesia perlu menguatkan pemahaman keagamaan yang moderat atau yang kemudian dikenal sebagai moderasi agama.

Menag melihat, moderasi agama diperlukan, agar negara ini tetap utuh, kuat, maju dan tercapai apa yang dicita dan asakan para pendahulu.

“Kita, apa pun sukunya, memeluk agama apa pun, kita sangat religius. Kehidupan sehari-hari kita, tidak bisa lepas dari nilai-nilai agama. Bahkan, pada acara resmi kenegaraanpun, diawali atau diakhiri dengan doa. Bahkan tidak satu agama, namun 6 agama. Jarang ada negara seperti kita ini,” ujar Menag.

Moderasi agama, kata Menag, adalah penengah antara konservatisme dan liberalisme. Dengan begitu, moderasi agama diharapkan mampu menyatukan umat yang beragam demi kedamaian bangsa. 

"Jika negara aman dan damai, maka ajaran agama, bisa kita amalkan. Agama hanya bisa berkembang dan dijalankan dengan baik di wilayah yang aman dan damai. Karenanya, mari kita jaga persatuan dan kesatuan kita," ajak Menag.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Bimas Islam Thomas Pentury mengatakan, Penyusunan Buku Mozaik Moderasi Agama dalam Perspektif Agama Kristen ini dilakukan dalam upaya mengkolaborasikan pikiran dan pandang Menag dalam rangka mengejawantahkan visi Kemenag untuk ikut serta membangun Indonesia yang lebih baik.

“Buku ini akan disusun oleh orang-orang terpilih dengan berbagai latarbelakang disiplin ilmu dan antardenominasi gereja. Harapan kami, buku ini mampu memberi penguatan penyelenggaraan kegiatan Agama Kristen, dan dijadikan salah satu referensi untuk mahasiswa yang sedang menimba ilmu di perguruan tinggi Kristen,” terang Dirjen.

Rapat Kerja Pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Agama Kristen Pusat dan Daerah Tahun 2018 yang diselenggarakan 27 Februari - 2 Maret 2018 ini diikuti 440 peserta dari Kemenag Pusat dan daerah, baik Wilayah maupun Kabupaten/Kota.

Raker mengangkat tema: Mewujudkan e-Government Mewujudkam Bimas Kristen Melayani. Adapun sub temanya adalah Mensinergikan Pelayanan Bimas Kristen untuk Peningkatan Kinerja Yang Berintegritas.

Dirjen Bimas Kristen menyatakan,  baru ini kali mengikutsertakan pejabat eselon 4 hingga kabupaten/kota untuk menjadi peserta, demi kemajuan Bimas Kristen dan Kemenag pada umumnya.