Menapaki Jalan Kesadaran

Appamādo amatapadam, pamādo maccuno padam. Appamattā na mīyanti, ye pamattā yathā matā. Kewaspadaan adalah jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan menuju kematian.Orang yang waspada tidak akan mati, orang yang lengah seperti orang yang sudah mati. (Dhammapada. Syair 21)

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering dikatakan sebagai tempatnya salah dan lupa. Berbagai tindakan yang dilakukan cenderung menuju pada kesalahan, penderitaan dan berujung pada penyesalan. Kesalahan dalam tindakan dimulai dari hilangnya kewaspadaan sehingga kehilangan kejernihan. Kejernihan yang hilang memburamkan nurani manusia untuk memilih dan memilah jalan kebenaran, susah untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar, mana yang hak dan mana yang bukan. 

Pertimbangan jernih yang seharusnya menjadi kendali perbuatan dapat tertutup dan tidak berfungsi jika kesadaran tidak pernah dilatih dan difungsikan dengan baik. Tindakan buruk yang dilakukan bila tidak segera dihentikan akan menumpuk dan membentuk energi kebiasaan yang semakin susah untuk dikendalikan. Dengan kata lain manusia menjadi makhluk yang sepenuhnya dikendalikan oleh keinginan liarnya daripada mengendalikan keinginanya. 

Kewaspadaan adalah energi kesadaran yang dapat dilatih, ditumbuhkan dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari bangun tidur, menjalankan aktivitas harian dan sebelum tidur lagi. Kesadaran kewaspadaan akan semakin tumbuh menguat jika seluruh aktivitas diikuti dengan hadirnya kewaspadaan. 

Guru Zen asal Viteman, Thich Nhat Hanh menyatakan bahwa untuk menumbuhkan kesadaran atau kewaspadaan dapat dilakukan dengan cara-cara yang sangat sederhana dalam aktivitas harian. Hal itu bisa mulai dari aktivitas mencuci piring, menyapu, bekerja bahkan saat berjalan, duduk, berdiri, berbaring kesemuanya dapat digunakan sebagai wahana praktis untuk menghidupkan dan menjernihkan kewaspadaan. 

Catatan pentingnya adalah bahwa dalam setiap aktivitas ketika kesadaran hadir sepenuhnya diiringi dengan kondisi yang rileks maka disitu kesadaran kewaspadaan akan semakin tumbuh dengan baik. Rileks dan tenang menjadi fondasi yang sangat penting bagi tumbuh kembang kesadaran. 

Kesadaran kewaspadaan atau secara teknis dikenal dengan sati- sampajanna memiliki manfaat yang sangat besar bagi munculnya budi pekerti luhur. Kewaspadaan yang identik dengan kejernihan akan menuntun manusia untuk terus berbuat baik, perbuatan yang bermanfaat bagi sesama. Dengan kata lain, menapaki jalan kesadaran adalah latihan pamungkas dari kehidupan spiritual karena kita berhadapan langsung dengan diri kita sendiri, keinginan kita sendiri, dan pola pikir kita sendiri. Mengamati diri sendiri secara langsung dan terus menerus, sebuah perjalanan panjang menuju dan mengenali diri sendiri. 

Kewaspadaan yang dikembangkan untuk menuju pada kejernihan terdiri dari empat (4) hal yaitu: 
1. Satthaka Sampajanna, merupakan kesadaran yang jernih pada saat kita bertindak diteliti dengan baik apakah bermanfaat atau tidak bermanfaat.

2. Sappaya Sampajanna, merupakan kesadaran yang jernih untuk menilai tindakan atau perbuatan kita cocok atau tidak cocok untuk dilakukan.

3. Gocara Sampajanna, merupakan kesadaran yang sangat jernih yang menilai setiap perbuatan kita apakah berada di tempat yang sesuai atau tempat yang salah.

4. Asammoha Sampajjana, merupakan kesadaran yang sangat jernih yang membuat keputusan atau tindakan kita bebas dari kebodohan batin.

Dengan melatih dan menjalankan empat (4) hal kewaspadaan ini maka kejernihan akan semakin menguat sehingga semua tindakan yang tidak bermanfaat dapat dicegah dan perbuatan bajik dapat dijalankan dengan utuh. Perilaku keseharian kita menjadi bermanfaat, bertindak secara tepat dan bebas dari belenggu kebodohan atau diliputi dengan kebijaksanaan. 

Marilah membiasakan diri untuk hidup sadar. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.